in

Covid -19 yang absurd sampai bikin hilang bau kentut

Ilustrasi kentut

“Sebuah teori, hanya ada dua hal yang membuat orang lolos dari virus Covid-19. Pertama, imun yang kuat, kedua nasib baik”, kata seorang rekan kerja saya di media, mengutip Sosiolog Universitas Hasanuddin, Sawedi Muhammad. Itulah Covid -19, pandemi dengan segala absurditasnya sehingga sulit ditebak.

Selang beberapa hari, sebuah kabar mengejutkan datang dari direktur saya di tempat bekerja. Hasil swab antigen istrinya positif Covid-19. Saya bekerja di sebuah lembaga sosial, meski PPKM kami masih ke kantor dengan prokes tentu saja. Alhasil semua staf kantor panik, kami semua harus dites antigen hari itu juga.

Saya tiba-tiba sesak nafas, panik lebih cepat memicu sesak nafas, lebih cepat dari gejala Covid itu sendiri. Pasalnya, dua hari sebelumnya kami bertemu, saya dan istri direktur ngobrol dekat dan lama. Tapi untunglah, semua staf hasil tesnya negatif. Saya lega dan mulai minum teh daun kelor di kantor, teh yang selama ini cuma saya lihat saja, tapi saat itu saya mulai meminumnya karena khasiatnya yang baik untuk imun.

Sementara itu, kabar mengejutkan datang lagi. seorang teman baik (seperti abang sendiri) di Facebook yang sudah bertahun-tahun hilang dari dunia maya tiba-tiba menulis sebuah status yang cukup mencuri perhatian.

Gimana tidak, sudah lama tidak update, tiba-tiba muncul dengan status “Covid-19 sudah di depan masker sendiri”. Ia menceritakan kakaknya yang terserang covid dan sebuah konflik batin bahwa ia harus menemani kakaknya, pilihan yang sulit, memang. Tentu saja takut, tapi, rasa kasih sayang lah yang menegarkan hati. Teman saya, harus menemani kakanya di ruang isolasi pasien, hingga beberapa hari berikutnya ia merasakan gejala-gejala covid. Dan sudah bisa ditebak, hasilnya kemungkinan positif covid.

Ketika membaca statusnya yang kedua “Russian Roulette”, sebuah permainan Rusia yang mematikan. Iya menulis bahwa kepalanya pening, nyut-nyutan tidak karuan. Hari keempat menjaga kakaknya, badannya mulai terasa aneh; demam, gatal tenggorokan, sakit kepala, nyeri sendi, mulai dari bahu, lutut kanan, hingga ruas-ruas jari tangan dan kaki. Seperti flu tapi kali ini sangat-sangat tidak nyaman. Sedang dalam ruang perawatan pasien yang awalnya ada 6 orang, kini sisa empat, dua pasien telah meninggal. Perasaan ngeri-ngeri tak sedap seperti permainan mematikan asal Rusia. Baik atau buruk yang akan terjadi, apakah masih ada harapan,  nasib yang tidak menentu.

Selang beberapa hari saya menunggu update statusnya, tapi tak muncul-muncul. Apakah dia sedang dalam perawatan? Tidak ada kabar berita, seminggu dua minggu berlalu, saya berdoa semoga dia dan keluarganya berhasil melawan si virus.

Bulan berganti, satu status di Facebooknya muncul juga. Kali ini judulnya ‘Racikan Jamu Tradisional dan Aforisma Nietzsche’. Ia menjelaskan  sebuah aforisma dari eyang filsuf Jerman tersebut, bahwa ‚‘what doesn’t kill you, makes you stronger’. Sebuah keadaan sulit yang membuatmu hampir mati dan kamu berhasil melewatinya dengan selamat, kamu menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya. Kakaknya sudah sembuh, namun dia sendiri masih sesak dan batuk, serta indera penciumannya masih belum berfungsi. Tidak mungkin pulang ke rumah, ada bapak, istri, dan anak-anaknya yang rentan. Harus isoman dulu, jauh dari keluarga. Syukrulah tidak lama, indera pengecapnya sudah pulih, ia bisa menikmati bakso dan soto serta minyak kayu putih yang selama ini selalu dioleskan pada masker akhirnya tercium juga. Saya lega membaca statusnya yang  meski getir tapi humor. Syukurlah ia sudah sehat. Itu status terakhirnya, tidak muncul lagi, mungkin mulai menghilang lagi, sepertinya kehidupan mulai pulih kembali.

Saya pernah merasakan kondisi ini, saat adik saya yang merupakan petugas kesehatan dan person incharge untuk kasus covid di puskesmas tempat ia bekerja. Awal munculnya covid di Indonesia, April 2020 di NTB, semua orang masih sangat takut. Adik saya menangani langsung pasien dengan pakean astronotnya itu, mengantar ke lab, dan membawanya ke Rusunawa khusus pasien covid. Selang beberapa hari adik saya harus diperiksa, saat itu gejalanya demam tinggi, sakit tenggorokan, sesak nafas.

Saat itu, petugas covid berencana menjemput adik saya di rumah dengan ambulance dan pakaian astronotnya itu. Ibu saya panik, karena tetangga pasti akan panik, keluarga akan jadi bahan pembicaraan banyak orang, dan kami akan dijauhi. Adik saya langsung down, demamnya tambah panas, kami sekeluarga jadi sangat down dan semuanya tidak ada nafsu makan. Sebelum pemeriksaan, adik saya harus isolasi dulu, tidak boleh ada yang mendekat. Tapi saya tidak peduli akan tertular, saya akan menemani adik saya apapun hasilnya. Badannya sangat lemas, lebih cemas dari apa yang akan dikatakan orang.

Saya menemaninya tidur dan makan dan menghiburnya, intinya agar imunnya kuat. Tim astronot itu tidak jadi datang, saya menemani adik saya datang langsung ke Rumah Sakit untuk tes antigen. Itu hanya gejala flu biasa, syukurlah hasilnya baik.

Ada lagi kabar yang lebih mengejutkan dari teman tempatnya bekerja. Ia menceritakan bahwa seorang temannya yang punya sifat absurd sedang  panik. Kisah absurd itu kemudian diangkat ke postingan Instagram, seijin yang bersangkutan, kisah itu kemudian jadi pelengkap kisah sebelumnya.

Ya, temannya itu panik, karena tidak dapat mencium bau kentut dan kotorannya. Pengakuan itu sontak membuat majlis perkopian mereka bubar. Anggota majelis tidak mau dekat-dekat, temannya itu dikucilkan. Kabar itu juga tercium tim astronot.

Si teman pun dicolok hidungnya, dan sudah diduga, ia positif. Kawannya pun harus dikurung. Mungkin karena bosan dalam, si temannya yang sedang dikarantina itu kembali membuat pengakuan, ia masih saja belum bisa mencium bau kentut dan kotorannya. Akhirnya ini jadi maslah buat anggota majlis lainnya. Alhasil mereka juga harus dicolok hidungnya. Tapi syukurlah hasilnya negatif, karena masih bisa mencium bau kotoran dan kentut masing-masing.

Editor: Awen

Laporkan Konten