in

4 orang Lombok bersenjata Keris datangi Kepala Museum Asi Mbojo

Mendadak siang tadi, empat orang asal Lombok itu mencecar Kepala Museum Asi Mbojo, Dae Alan Malingi dengan berbagai pertanyaan selama 2 jam. Keempat orang yang masing-masing memegang keris tersebut berasal dari latar belakang berbeda;

Sebut saja Lalu Herman utusan komunitas literasi Aksara Lontar, berpusat di Lombok Tengah yang diketuai DR. Lalu Yudhi Setiawan. Ada juga Azkar Nawawi seorang Guru PKn di MAN 1 Kota Bima. Lalu ada juga Sucipte, pegiat literasi dari Forum Lingkar Pena NTB. Dan yang keempat, Briptu Lalu Sutami seorang petugas kepolisian Polres Kota Bima, yang juga banyak bertanya terkait antisipasi konflik komunal dan maraknya demonstrasi di Bima.

Keempat orang tersebut diikat oleh Komunitas Keluarga Lombok Bima (KKLB) yang di ketuai oleh Lalu Sukarsana alias Mamiq Okas, yang telah mengabdi lebih dari 30 tahun di Kota Bima. Mamiq Okas rupanya salah saorang yang ikut berjuang dalam pendirian dan pembangunan kota Bima. Saat ini aktif mengelola anggota 200 orang lebih yang notabene warga Lombok yang mengabdi untuk Bima.

Adapun misi bersama kedatangan 4 orang tersebut adalah menjaga silaturrahim yang baik antar sesama warga Bima. Menyatukan visi dan misi untuk mempertahankan kerukunan di Dana Mbojo. Semangat ini telah menggerakkan Azkar Nawawi sepulang “Jalan Sehat Kerukunan” yang diadakan Kementerian Agama di Mataram beberapa hari lalu, untuk turut serta membangun komunikasi dengan Dae Alan Malingi.

Semuanya mengamini penjelasan Dae Alan, bahwa sejarah Bima dengan segala dinamika yang terjadi berorientasi kesejarahan pada 3 hal yakni pertama faktor tutur secara turun-temurun, kedua faktor benda peninggalan nenek moyangnya dan tentu saja yang paling tidak bisa diremehkan adalah data-data berbentuk catatan dan manuskrip sejarah.

Pangeran Benhard dari Belanda dulu datang ke Bima dalam rentetan lawatan ke NTT era tahun 50an disuguhkan benda-benda pusaka berupa keris dan piranti kerajaan lainnya oleh Ina Kaumari yang terbuat dari emas sebagai bahan pameran. Namun ternyata Pangeran Benhard tidak menggubris itu semua. Melainkan lebih tertarik meneliti manuskrip sejarah yang tersimpan di Bima. Lembar-lembar catatan sejarah Bima cukup melimpah, namun rupanya tidak terlalu dirawat dengan baik kala itu. Dimikian terang Dae Alan.

Di sisi lain Sucipte pegiat literasi Bima malah ditawari Dae Alan Malingi untuk menulis puisi dalam buku kumpulan puisi, 1 puisi untuk 1 orang sebanyak 382 puisi sebagai persembahan pada hari jadi Bima ke 382. Projek ini akan direalisasikan sesegera mungkin dengan melibatkan banyak tokoh literasi Bima. Ini menjadi salah satu buku dari puluhan judul buku yang beliau tulis terkait Bima.

Terlebih lagi pihak Asi Mbojo akan berkontribusi untuk komunitas literasi Aksara Lontar dengan menyupport daun lontar ke komunitas tersebut. Ini menjadi bentuk kesungguhan managemen Asi Mbojo terhadap literasi dan misi kerukunan antar warga NTB.

Lalu Herman sangat berterimakasih atas sumbangan daun lontar untuk komunitasnya, mengingat pohon lontar di Pulau Lombok sudah langka.

Akhir obrolan, keempat tamu tadi menjelaskan perihal keris yang mereka kenakan. Bahwa keris mengalami pergeseran nilai menjadi piranti perdamaian khas warga Sasak. Keris sebagai adab penting saat menghadap ke orang yang di muliakan, bukan untuk kekerasan.

* Penulis ialah pegiat literasi dari Forum Lingkar Pena NTB

Editor: Awen

Laporkan Konten