Kisah alumni Wisma Nusantara Mataram, hampir mati karena corona

13 min


83 shares

“Saya mengalami sakit akibat virus yang hampir membunuh saya, yaitu Covid 19,” ungkap salah seorang tenaga kesehatan yang kala itu menjalani perawatan bersamaan denganku di Wisma Nusantara Mataram.

KickStory – Namanya Enny Ratna Indriyani, seorang tenaga kesehatan (nakes) berusia 44 tahun dan saat ini bertugas di RSJ Mutiara Sukma.

Dia menceritakan kisah perjuangan hidupnya saat melawan Covid 19 yang hampir saja merenggut nyawanya, begini ceritanya.

Bismillahirohmannirrahim….

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya jika nama saya akan masuk ke dalam daftar press release Covid-19 yang informasinya setiap hari saya baca di WA grup PPNI Kota Mataram.

Ini mungkin sudah menjadi takdir saya yang harus saya terima dengan sabar jika akhirnya saya dihadapkan dengan virus ini yang telah masuk ke dalam paru- paru saya. Dan saya harus berjuang melawannya.

Temanku…. virus covid 19 saat ini sudah ada di mana-mana, bahkan penemuan terbaru mengatakan penyebarannya bisa melalui udara. Dan ini bukan virus flu biasa temanku. Virus ini hampir saja membunuh saya jika saja saya terlambat untuk diselamatkan.

Virus covid ini nyata dan bukan konspirasi. Kerjanya sangat cepat jika imun kita sedang down atau turun. Dan sampai saat ini virus ini belum ada obatnya. Obatnya adalah imun dari diri kita sendiri. Itulah mengapa kita harus tetap menjaga kesehatan agar imun kita tetap baik dan stabil.

Fisik saya termasuk kuat karena saat saya diuji oleh Allah sejak tahun 2012 hingga saat ini yaitu merawat kedua orang tua yang sakit Stroke dan adik saya yang bungsu mengalami kecelakaan berat tahun 2017 sehingga  harus masuk ICU selama 3 bulan perawatan.

Selama itu pula saya yang sehari –  hari bertugas  mengurus dan merawat  semuanya karena dalam keluarga hanya saya sendiri yang profesinya sebagai tenaga medis yaitu sebagai perawat.

Dan sepanjang perjalanan itu Alhamdulillah saya belum pernah mengalami sakit yang berat seperti saat saya mengalami sakit yang diakibatkan oleh virus covid 19 ini.

Singkat cerita, saat saya harus disibukkan dengan merawat ayah yang sakit karena serangan stroke berulang  dan terakhir harus opname karena kesadarannya menurun akibat mengalami aspirasi atau masuknya cairan akibat muntahan ke dalam parunya,
sejak tanggal 2 Mei 2020 hingga tanggal 21 Juni 2020 sudah tiga kali saya harus bolak balik ke RS untuk membawa ayah saya ke RS untuk mendapatkan perawatan intensif.

Selama 1 bulan lamanya saya merawat dan menjaga ayah di RS, tubuh saya mungkin lelah akibat kurangnya istirahat dan asupan nutrisi yang tidak seimbang akibat makan yang tidak teratur sehingga imunitas tubuh saya menurun dan akhirnya saya mengalami sakit yang awalnya hanya saya kira flu biasa.

Gejala awal

ilustrasi pasien covid 19

Gejala awal yang saya rasakan sejak hari Senin tanggal 15 Juni hingga tanggal 19 Juni 2020 adalah mata saya terasa gatal sekali tepatnya di dalam bola mata, seperti ada makhluk kecil yang bergerak dan berjalan. Untuk mengurangi rasa gatal saya hanya  mencuci wajah saja.

Gejala ini berlangsung selama 3 hari kemudian saya mengalami meriang, gangguan tenggorokan, tenggorokan terasa kering dan gatal, hidung meler dan sedikit batuk. Saya kemudian berobat ke Dokter dan mendapat resep obat dari Dokter sesuai gejala yang saya alami.

Namun sore harinya suhu tubuh saya naik 38,5⁰C. Sayapun kemudian minum parasetamol 500mg . Suhu tubuh hanya turun beberapa saat saja sekitar 37,5⁰C. Dan malamnya naik lagi  39,8⁰C. Selain parasetamol saya juga bantu dengan kompres dan banyak minum air putih.

Pagi harinya saya terkejut, saya batuk mengeluarkan dahak yang sangat kental dan ini aneh saja menurut saya karena saya tidak pernah mengalami batuk yang seperti ini. Yang hanya cuma 3 hari saja dari gejala awal. Biasanya 4 atau 5 hari gejala barulah saya batuk dengan dahak kental seperti itu. Tenggorokan saya seperti kering, gatal dan terasa lengket, sakit jika menelan.

Saya tetap minum obat dengan teratur, tetapi demam yang saya alami tidak juga turun. Saya berpikiran mungkin saya terkena demam berdarah karena 4 hari saya alami demam turun naik meskipun sudah minum obat penurun panas.

Akhirnya tanggal 21 Juni malam, ketika demam saya 38,8⁰C saya pergi ke UGD RS Kota untuk cek darah. Saya ceritakan kepada Dokter semua gejala yg saya alami, selain demam, saya juga batuk meskipun jarang, pusing, sakit kepala di bagian kiri belakang kepala, hilang indera perasa dan penciuman serta nyeri ulu hati. Saya juga mengalami tidak enak makan atau penurunan nafsu makan.

Riwayat penyakit yang pernah saya alami adalah asma bronkitis sejak bayi namun sudah lebih 10 tahun ini tidak pernah kambuh.

Dokter lalu memeriksa kondisi saya dengan pemeriksaan darah lengkap,  IGg dan  IGm serta foto thorax dan ct scan thorax.  Setelah menunggu hasil,  Dokter kemudian menjelaskan hasil pemeriksaan penunjang bahwa dari hasil laboratorium darah, demam berdarah negatif dan hasil lainnya normal.

Saya tersentak saat Dokter mengatakan bahwa saya mengalami pneumonia akibat virus yang mengarah ke Covid-19 jika dilihat dari hasil ct scan thorax tersebut. Sudah banyak terdapat bercak – bercak putih yg tersebar di permukaan paru-paru saya.

Awalnya saya tidak yakin dan menyangkal keterangan Dokter tersebut, tetapi saya berusaha tetap tenang dan kemudian menerima hasil pemeriksaan Dokter tersebut.

Dokter di UGD akhirnya memutuskan agar saya dirawat di ruang isolasi zona abu-abu untuk diobservasi. Karena tidak mengalami sesak, hanya 1 malam saja saya menginap di ruang isolasi UGD kemudian saya diperbolehkan pulang dengan resep obat dan catatan bahwa saya harus karantina mandiri.

Sambil menunggu jadwal swab, terpikir oleh saya ayah yg sedang sakit dan dirawat di lantai 4 di atas UGD. Saya pun tidak segera pulang ke rumah,  tetapi saya tetap merawat ayah yg sedang sakit dengan tetap menjaga protokol covid 19. Saya hanya mendekati ayah saya jika akan memandikan, mengganti pampers, alih posisi, fisioterapi ringan dan memberi makan minum serta obat melalui selang NGT. Setelah itu saya menjauhinya. Alhamdulillah ayah saya hasil rapid test non reaktif.

Pada awalnya saya masih belum percaya ini adalah virus covid karena memang saya belum di swab dan masih menunggu jadwal. Saya mengira saya menderita malaria karena saya alami demam dan selalu menggigil bila menyentuh air. Sehingga saya mencoba minum obat malaria.

Karena kondisi saya makin menurun dan saya merasa sudah tidak kuat lagi merawat ayah di RS, saya pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah pada hari Jumat tgl 26 Juni dan segera istirahat total.  3 hari istirahat di rumah kondisi saya belum juga membaik, demam belum juga turun sejak tgl 19 Juni, kadang saya menggigil kedinginan, batuk makin sering, dada mulai sakit dan saya mengalami sesak nafas berat. Saya sudah tidak mampu lagi untuk makan karena merasa sangat mual, sementara ulu hati juga sakit.

Di sini saya masih berpikir bahwa Asma yang pernah saya derita dulu kumat lagi. Meskipun saya sudah diberikan obat batuk dan sesak dalam bentuk racikan, kondisi saya belum juga membaik. Sesak semakin bertambah berat.

Pasien mandiri

Ilustrasi ruang isolasi

Minggu 28 Juni 2020 saya mengabari kondisi kesehatan saya melalui WA kepada kawan saya yang bertugas sebagai koordinator K3RS dan juga teman baik saya di RS yang kebetulan bertugas untuk membantu pemeriksaan rapid test.

Akhirnya berdasarkan hasil laporan, saya pun ditelpon oleh Dokter Wiwin Kabid Pelayanan Medis RSJ utk memastikan kondisi saya.  Karena saya sangat sesak dan tidak mampu bicara, di samping setiap bicara juga disertai batuk, Dokter Wiwin segera menyudahi pembicaraan dan segera membantu saya untuk menghubungkan dengan Tim Covid RS Kota Mataram.

Akhirnya setelah tim covid datang menjemput saya, saya segera mendapatkan pertolongan Oksigen di dalam ambulance selama dibawa ke RS. Tensi darah saya 90/60 MmHg dan SPO2 saya turun 94%.

Dan dari sinilah saya kemudian dirawat selama 8 hari lamanya di ruang isolasi covid RSU Kota Mataram ruang Graha sebagai pasien PDP dengan diagnosa medis gagal nafas dan pneumonia. Saya harus diinfus dan semua obat-obat yg diberikan melalui infus.

Temanku, disinilah saya sebagai pasien PDP yang diisolasi harus  mandiri mengurus diri sendiri karena tidak diperbolehkan ditunggu dan dijenguk oleh siapapun termasuk keluarga. Betapa sedih dan tersiksa sekali rasanya karena dalam kondisi tubuh yang lemah harus bisa mengurus diri sendiri.

Saya tidak mampu berjalan karena nafas saya yg sangat sesak dan berat sekali utk bernafas. Untuk ke kamar mandi saja yang jaraknya hanya 1,5 meter dari tempat tidur, saya sangat lelah dan ngos-ngosan. Harus segera kembali ke tempat tidur dan segera memasang oksigen kembali.

Akhirnya untuk membatasi aktivitas berjalan ke kamar mandi saya menggunakan pampers. Apabila saya  batuk, urine saya pasti keluar dan jika saya berjalan ke kamar mandi nafas saya sesak sekali, ngos-ngosan sehingga merangsang batuk yg membuat dada saya terasa berat dan sakit seperti ditusuk-tusuk atau disilet, sangat nyeri sekali. Kondisi yg belum pernah saya alami sebelumnya.

Setiap malam saya sulit tidur karena batuk yang sering muncul saat tengah malam hingga subuh. Belum lagi sesak nafas yang membuat saya benar-benar payah. Ini benar-benar  perjuangan yang sangat berat selama di ruang isolasi covid. Hampir 10 hari saya tidak berani mandi hanya seka saja di beberapa bagian tubuh karena jika menyentuh air saya pasti menggigil kedingan dan tidak pernah lepas dari selimut tebal.

Saya masih blm percaya ini adalah virus covid karena memang saya belum diswab dan masih menunggu jadwal. Saya sangat berharap hasilnya nanti negatif.

Sampai pada akhirnya saya diswab tanggal 30 Juni dan keluar hasil di hari ke 3 yaitu tanggal 3 Juli 2020, dengan suara yg sangat pelan dan hati – hati, Dokter  mengatakan bahwa  saya positif menderita  covid-19 terkonfirmasi. Rasanya jantung saya berhenti seketika dan hati saya menjerit, menangis ingin menyangkal tetapi sudah keluar hasil yang sangat valid dari hasil test swab.

Setelah saya dinyatakan positif menderita covid 19 maka disinilah awal perjuangan saya dimulai utk melawan virus covid  19 yg saya derita selama 1 bulan lebih sejak tanggal 19 Juni  hingga tanggal 25 Juli saya dinyatakan sembuh  dari hasil test swab yg saya jalani sebanyak 5 kali test dgn hasil positif 3 kali dan negatif 2 kali.

Ketika dinyatakan positif, saya dipindah ke ruang isolasi covid di perluasan UGD yg dulunya adalah ruang nifas. Setelah lepas infus, sayapun dipindah ke Wisma Nusantara pada hari Minggu tanggal 5 Juli 2020.

Wisma Nusantara

Suasana di salah satu pojok Wisma Nusantara

Selama di Wisma Nusantara  saya mendapatkan perawatan dan perlakuan yang sangat baik dan bersahabat dari rekan tim medis.

1 minggu pertama kondisi saya masih lemah, aktivitas saya terbatas sehingga saya belum bisa mengikuti kegiatan di Wisma Nusantara.

Selain obat dari dokter, yg tidak kalah penting adalah rasa ikhlas menerima keadaan bahwa   sakit ini adalah datangnya dari Allah SWT  dan hanya Allah yg dapat mengangkatnya dari tubuh kita.

Secara psikologis, berdamai dengan kondisi tubuh yg sedang sakit  amatlah penting utk menciptakan rasa  ketenangan dan menurunkan stres. Terlebih covid 19 ini adalah penyakit yg sangat menular dan beresiko tinggi menyebabkan  kematian terutama bagi yg memiliki komorbid.

Dengan  doa serta support dan dukungan moril dari keluarga, teman2 dan sahabat sangatlah dibutuhkan sbg penyemangat agar tdk mengalami stres yg akhirnya  bisa menyebabkan imun menurun dan sulit utk segera sembuh dan sehat.

Memasuki minggu kedua, fisik saya mulai kuat dan saya sudah mulai bisa melakukan aktivitas ringan seperti jalan pagi di bawah sinar matahari, melakukan latihan pernafasan dan peregangan, senam pagi ataupun sore hari yg dipimpin oleh salah satu tim medis yaitu Mas Anto bersama rekan tim medis lainnya dan diikuti oleh seluruh pasien covid baik yg masih positif maupun negatif.

Di minggu kedua dan ketiga, hasil pemeriksaan swab saya yg ke 2  dan ke 3 masih positif. Tetapi hal itu tidak membuat saya patah semangat. Saya tetap berdoa dan terus melakukan kegiatan  olahraga, latihan pernafasan dan peregangan, dengan tetap memakai masker, jaga jarak, makan makanan bergizi dan sehat seperti buah dan sayuran serta minum yang banyak.

Rekomendasi terapi pengobatan

Minuman lemon madu

Disarankan juga untuk minum air hangat campur lemon saat bangun tidur dan menjelang tidur , lakukan fisioterapi dada selama  3 – 5 menit, dengan cara menepuk-nepuk dada kiri dan kanan di bagian paru, hal ini berguna untuk membantu mengeluarkan dahak dan melepaskan plak-plak yang menempel di paru. Saat melakukan fisioterapi dada, saya mengalirkan minyak kayu putih di sekitar dada dan leher.

Usahakan juga  untuk  istirahat yang cukup 6 – 7 jam, mendengarkan musik relaksasi dan melakukan hypnoterapy utk menurunkan stress . Karena jujur, saat di awal minggu kedua saya sempat merasakan stress, dimana saya tidak bisa tidur selama 3 hari karena batuk dan sesak ditambah lagi dengan nyeri ulu hati tembus ke pinggang dan punggung. Sangat tersiksa.

Namun karena saya selalu mendapatkan perhatian dan rasa empati juga dukungan moril serta support yang tidak pernah putus dari manajemen  RS mulai dari Direktur RSJ Mutiara Sukma, Dr. Wiwin ibu Kabid Pelayanan Medis RSJ yang hampir setiap hari mengupdate kondisi saya, Bpk. Kasi Keperawatan, Bapak Wakil Direktur RSU Kota Bpk H. Zuhad,S.kep.Ns, M.Kes yg juga merupakan ketua PPNI DPD Kota Mataram, Ketua DPK PPNI RSJMS, Ketua IPKJI dan seluruh teman2 sejawat perawat serta keluarga dan sahabat.

Seorang sahabat menganjurkan saya utk minum susu probiotik dan mengirimkannya ke Wisma. Saya selalu dikirimi susu kefir hingga hasil negatif.  Selain itu juga saya mendapat bantuan obat dari Polda NTB berupa obat batuk herbal dalam bentuk kotak bernama Lianhua Qingwen.

Saya sangat bersyukur semua pihak memberikan support dan dukungan penuh untuk membantu saya meningkatkan imun yang sangat diperlukan utk kesembuhan…

Support dan rasa empati yg tinggi itulah yg sangat membantu saya menguatkan jiwa saya  utk tetap semangat dan terus  berjuang menyingkirkan covid 19 dari dalam tubuh saya.

Negatif

Ilustrasi Negatif Corona

Akhirnya di minggu ke 4, swab saya yang ke 4 dan ke 5 hasilnya negatif. Rasa haru, rasa syukur dan rasa bahagia bercampur aduk menjadi satu.

Seluruh teman dan sahabat serta keluarga sangat bahagia dan ikut terharu karena perjuangan saya selama 1 bulan lebih akhirnya berhasil dlm memenangkan pertarungan dengan virus covid 19.

Temanku, jika ada keluarga kita, sahabat atau teman kita yg menderita covid 19, janganlah mereka dijauhi itu akan membuatnya merasa sedih, down dan akhirnya menimbulkan stress yang berdampak pada penurunan imun.

Rasa empati yang tinggi untuk mereka yg menderita covid 19 sangatlah diperlukan dengan selalu memberikan suport, doa dan semangat utk tetap  bangkit dalam bertahan dan berjuang melawan covid 19.

Dan teman2 yang saat ini masih berjuang melawan covid 19, tetaplah semangat, ikutilah seluruh kegiatan terjadwal dari RS Darurat Covid 19 dengan selalu hidup sehat, melakukan kegiatan olahraga dan latihan pernafasan, tetap memakai masker, rajin mencuci tangan, tetap menjaga jarak, makan makanan bergizi dan sehat serta konsumsi buah2an, minum obat sesuai resep dokter, banyak minum air hangat, berjemur di pagi hari sebelum jam 9 pagi dan sore hari setelah jam 15 sore, istirahat yg cukup 6-7 jam, serta optimis bahwa kita mampu melawan penyakit ini.

Jangan berfokus pada hasil swab akan positif atau negatif karena itu akan menyebabkan stress.  Selalu berpikiran positif dan fokus pada pikiran bahwa kita akan sehat dan sembuh. Selalu bahagia dan ceria. Itu akan membuat imunitas tubuh kita naik dan stabil.

Demikian testimoni saya selama saya mengalami sakit yang diakibatkan oleh virus covid 19. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Salam sehat

Tulisan ini dibuat oleh member kicknews.today pada laman story-nya. Kalianpun dapat membagikan story dengan menjadi member KickCommunity dan jadi bagian dari orang-orang yang menginspirasi dunia.


Like it? Share with your friends!

83 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
2
Terinspirasi
Bangga Bangga
1
Bangga
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Sedih Sedih
1
Sedih
Takut Takut
0
Takut

0 Comments

Komentar

Komentar

Continue in browser
To install tap Add to Home Screen
Add to Home Screen
To install tap
and choose
Add to Home Screen
Continue in browser
To install tap
and choose
Add to Home Screen
Continue in browser
Continue in browser
To install tap
and choose
Add to Home Screen
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals