Melawan Stigma Sosial di Tengah Pandemi Covid-19

4 min


117 shares

Oleh : Hendra Puji Saputra, S.Sos

Rantai penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) hingga kini belum terputus. Bahkan, virus ini menyebar begitu cepat dan masif sehingga membuat masyarakat menjadi paranoid. Lebih jauh, masalahnya menjadi tidak sederhana ketika pandemi ini telah berdampak secara sistemik. Dimana kehadiran pandemi ini bukan hanya sekedar menyoal masalah kesehatan saja, tetapi juga menyebabkan derita sosial ekonomi yang mendalam. Bila dalam jangka panjang belum ada penanganan secara cepat dan tepat, bukan tidak mungkin akan menyebabkan letupan sosial di masyarakat.

Secara sosiologis, dalam situasi yang tidak normal seperti ini memang akan memunculkan perilaku kolektif berupa kepanikan massal. Akibatnya ruang sosial menjadi keruh dan mudah tersegmentasi. Kerentanan sosial tersebut bisa terjadi secara sporadis karena masyarakat berada pada situasi yang dapat menggangu stabilitas sosial. Begitu pula potensi munculnya sikap curiga dan prasangka sosial sangat rentan terjadi di tengah ketidakpastian atas situasi krisis saat ini.

Munculnya Stigma Sosial

Munculnya stigma sosial di masyarakat telah menjadi salah satu tantangan dalam memutus rantai penyebaran pandemi Covid-19. Saat ini masyarakat yang dikategorikan masih dalam proses pemantauan dan pengawasan (ODP dan PDP), terlebih lagi bagi mereka yang sudah dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19, sering kali diberikan stigma sosial oleh masyarakat. Mereka diberikan label, stereotip, didiskriminasi, dan diperlakukan berbeda karena status mereka dianggap mempunyai kaitan dengan penyakit yang telah menjadi pandemi saat ini.

Jika stigma sosial direproduksi secara terus-menerus dalam konteks merebaknya pandemi Covid-19, akibatnya akan membuat orang berpotensi untuk menyembunyikan gejala penyakitnya supaya tidak didiskriminasi, menghindari pertolongan dan pemeriksaan karena takut diketahui orang lain. Kondisi ini memungkinkan orang dengan mudah untuk menularkan penyakitnya kepada orang lain. Karena itu, tidak heran kemudian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa stigma lebih berbahaya dari virus itu sendiri. Dengan kata lain, stigma adalah musuh yang paling berbahaya.

Belum lagi dalam berbagai pemberitaan di media massa muncul aksi penolakan jenazah pasien Covid-19 di berbagai daerah telah mengindikasikan bahwa masyarakat sedang mengalami paranoid. Begitu juga dengan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh para tenaga kesehatan yang menangani pasien positif Covid-19 dalam banyak kasus sering kali ditolak dan diusir oleh warga dari tempat tinggalnya karena khawatir terinfeksi Covid-19. Dalam situasi seperti ini, para tenaga kesehatan tidak hanya berjuang keras untuk menyelamatkan pasien yang terinfeksi virus mengerikan ini, namun mereka juga harus menghadapi tekanan sosial akibat resistensi dari lingkungan sosialnya.

Sosiolog Erving Goffman menjelaskan bahwa munculnya prasangka sosial terhadap orang yang dibangun di atas stigma sosial disebabkan karena adanya reproduksi sosial citra buruk terhadap sekelompok orang, atau dengan kata lain karena terjadinya bentukan kategori-kategori sosial sebagai harapan untuk mendiskreditkan penilaian kita terhadap orang lain. Lebih lanjut, stigma sosial oleh Goffman dianggap telah menjadi atribut yang dapat mereduksi citra diri individu maupun kelompok baik secara fisik maupun sosial dalam kehidupannya di masyarakat.

Di tengah merebaknya pandemi ini, masyarakat kemudian membangun konstruksi sosial atas situasi yang dialaminya. Melalui proses konstruksi sosial ini masyarakat kemudian membentuk pemaknaan atau persepsi terhadap individu atau kelompok yang pernah berinteraksi dengan penderita virus ini atau yang terinfeksi pandemi ini. Adanya prasangka masyarakat untuk tertular pandemi Covid-19 kemudian memaksa mereka untuk membentuk jarak sosial.

Munculnya labeling atau stigma yang diberikan oleh masyarakat juga tidak terlepas dari masih rendahnya kognisi masyarakat tentang pandemi Covid-19. Di tengah saluran informasi yang begitu terbuka, masyarakat cenderung lebih mempercayai informasi berdasarkan emosinya sehingga mengabaikan fakta atau kebenaran dari informasi itu sendiri. Akibatnya muncul kepanikan secara berlebihan sebelum menerima informasi secara detail tentang pandemi Covid-19. Kondisi ini kemudian membuat masyarakat dengan mudah melakukan stigmatisasi kepada orang yang dianggap rentan menularkan rantai virus ini.

Namun di sisi lain, bagi mereka yang menjadi korban atas stigma sosial, secara perlahan mereka merasa teralienasi dan tertekan secara psikologis. Bahkan bukan tidak mungkin mereka juga dimarjinalkan. Situasi ini sebagaimana oleh Harold Garfinkel (1956) disebut sebagai degradation ceremony. Artinya bahwa stigma yang telah melekat sangat sulit dihilangkan karena masyarakat sudah melakukan formalisasi ke dalam ritus kehidupan sosialnya.

Membangun Kesadaran Kolektif

Keberhasilan dalam menghadapi pandemi Covid-19 dapat diukur melalui terputusnya mata rantai penularannya, yang dimana dengan mencegah stigmatisasi menjadi salah satu prasyarat penting dalam mewujudkannya. Untuk itu, guna mencegah pemberian stigma sosial kepada mereka yang mempunyai risiko atau yang sudah terinfeksi positif pandemi Covid-19, perlu dilakukan upaya kontrol sosial dengan membangun kesadaran kolektif.

Partisipasi agen-agen sosial seperti : keluarga, RT/RW, komunitas, NGO, serta media menjadi sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif guna memberikan edukasi secara terus menerus agar masyarakat tidak mudah memberikan stigmatisasi kepada pasien atau keluarga penderita Covid-19. Artinya, agen-agen sosial tersebut dapat dijadikan sebagai katalisator dalam membangun kesadaran dan perubahan perilaku agar masyarakat disiplin mematuhi protokol pencegahan penyebaran Covid-19, termasuk memperkuat pesan mengurangi stigma, serta membangun sikap empatik kepada orang-orang yang terstigma.

Dengan demikian, upaya pemerintah dalam melakukan sosialisasi dan kampanye melalui berbagai kanal informasi agar masyarakat tidak melakukan stigmatisasi kepada pasien maupun keluarga penderita Covid-19 dapat didukung oleh semua pihak. Artinya, segala potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat perlu ditransformasikan, termasuk peran agen-agen sosial dalam merespon segala bentuk stigmatisasi sebagai bagian dari upaya memutus mata-rantai penyebaran pandemi Covid-19. Dimana pada situasi seperti ini rasa kemanusiaan harus diletakkan di atas segalanya.

Terakhir, untuk menutup tulisan ini, penulis mengutip jargon lama yang pernah disampaikan oleh Najwa Shihab sebagai pesan simbolik melawan stigma pandemi Covid-19 : “Jauhi penyakitnya, bukan orangnya”.

Penulis ialah seorang Staf di KONSEPSI NTB


Like it? Share with your friends!

117 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Bangga Bangga
0
Bangga
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Sedih Sedih
0
Sedih
Takut Takut
0
Takut

0 Comments

Komentar

Komentar

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Send this to a friend