Membangun Kesadaran Kolektif saat Pandemi Covid-19

4 min


91 shares
Dr. Hj. Nurul Yakin, M.Pd

Oleh: Dr. Hj. Nurul Yakin, M.Pd

Ditengah upaya setiap orang taat pada protokol WHO, namun di pihak lain ada sebagaian masyarakat dan atau kelompok tertentu yang apatis terhadap kegelisahan global tersebut. Diantara yang diabaikan adalah social distancing/physical distancing dalam praktik sosial kemasyarakatan dan beragama. Pengabaian tersebut apakah didasari oleh nalar individualistik-non ilmiah yang mengaburkan nalar ilmiah-logic-empiric-etic ?.

Narasi ilmiah menjelaskan bahwa Virus Covid-19 dapat menularkan siapa saja tanpa melihat locus dan stasus sosial seseorang. Narasi akademik tersebut lalu direspon peyoratif dengan beragam nalar, prejudice dan penolakan. Sebagaimana mengutip Masdar Hilmy, Rektor UIN Surabaya menyebut penolakan tersebut sebagai anakronimisme perspektif.

Anakronimisme perspketif yakni ke”ngotot’an yang konyol, dalam menyikapi Covid-19. Dua contoh anakronimisme perspektif, pertama dalam bidang relasai-sosial. Wujudnya yaitu terbiasanya masyarakat secara sosiologis merajut kontak sosial : mengunjugi, berkumpul, mengadiri undangan, bersalaman, cupika cupiki, dll. Kesemuanya diatas tidak mudah untuk ditiadakan karena faktor sosiologis yang telah membentuknya.

Kedua yakni anakronimisme perspektif berbasis ideologi yaitu adanya upaya merekonstruksi dalil keagamaan sebagai basis narasi. Misalnya menyebut bahwa kematian itu mutlak-tanpa virus pun manusia akan mati, jangan takut virus-takutlah pada Sang Kuasa-Sang Pencipta, social distancing adalah upaya menjuhkan ukuwah manusia.

Kesangsian atas logika ilmiah dampak covid-19 yang dibenturkan dengan nalar diatas dapat memperburuk penanganan dan ikhtiar pemerintah dan berdampak pula pada rentannya penularan virus tersebut bagi dirinya dan oranglain. Padahal dalil naqli (al-qur’an) menyebutkan sebagai episentrum keputusan perkara adalah taat pada Allah, Rasul, dan pemerintah (ulil amri). Di dukung pula oleh hadits yang menyatakan bahwa ál ulama’ waratsatul anbiya’. Namun lagi-lagi pemerintah (ulil amri) dan ulama’ juga ditafsir beragam-siapa ulil amri dan ulama’-yang dimaksud ?. Tafsirnya bisa berdasarkan tendensi politik atau ideologi. Dari sinilah mulai muculnya fraksi, friksi, persengketaan yang berujung pada runyamnya penyelesaian Covid-19.

Bilamana mucul ego dan sentimen menggunakan narasi spekulatif-non ilmiah pastinya dapat mengorbankan keselamatan ummat yang lain, Budhy Munawar-Rachman (2001) menyebutnya sebagai awal dari akar krisis manusia modern. Yakni manusia yang mulai kehilangan cinta kasih, bahasa kearifan, kesederajatan, kepedulian dan penghargaan, dan nasib oranglain.

Dalam konteks penyelesaian bencana global mengutip pemikiran Psikoanalis Erich Fromm yaitu dengan  cinta kasih, manusia bisa mengatasi problem eksistensial secara rasional. Cinta yang mewujud dalam kata “ke-kita”an, atau dalam bentuk “cinta persaudaraan” (brotherly love), karena ia menyangkut rasa tanggung jawab, perhatian, dan hormat bagi setiap makhluk. Jalaludin Rumi menyebut bahwa dengan cinta menjadi kekuatan produktif, gagal dalam cinta berarti narsisme, karena berorientasi pada ketidakproduktifan dan egoisme.

Medsos sebagai Medium Ekslusivitas?

Berita bohong atau hoax dan propaganda tentang corona di media sosial dapat menciptakan berantainya narasi-narasi irrasional yang tentunya menghambat gerakan melawan pandemi corona. Apalagi tidak didukung oleh upaya balancing terhadap informasi yang diterima. Skat hingga instabilitas antar individu maupun organisasi pun nampak akibat berita dari anony-mous berefek luas pada “susahnya” penyadaran masyarakat akan bahayanya pandemi ini.

Peran serta Kita semua untuk mencounter narasi negatif yang berupaya melemahkan imunitas kecerdasan dan logika masyarakat mutlak dilakukan sebagai ikhtiar membangun kesadaran kolektif. Karena media sosial dapat mempengaruhi cara masyarakat berpikir dan bertindak. Ketika media sosial membentuk paradigma, ia pun akan mempengaruhi perilaku.

Solidaritas untuk Heterogenitas

Kaidah Sigmund Freud yang menyatakan bahwa “dengan beragama manusia sebenarnya bisa saja jatuh dalam suasana yang patologis, khususnya kalau akalnya tidak dipakai sebagai jalan untuk mengembangkan kesadaran bersama dan beragama”.

Resistensi dari cara bersama dan beragama diatas dalam konteks pencegahan kolektif Pandemi Covid-19 terlihat nyata. Opsi cara beragama seseorang yang masih sebatas the feeling of powerlessness (perasaan ketergantungan), di klaim oleh Freud adalah ummat atau individu yang tidak pernah sampai pada kedewasaan beragama-praksis beragama, karena gagal membangun otonomi dirinya sendiri sebagai manusia. Padahal dalam praktik beragama sesungguhnya juga menunjukkan klasifikasi pada perwujudan pengembangan spiritual manusia dalam cita-cita pencapaian Kebenaran (reason, truth, logos), cinta kasih, persaudaraan (brotherly-love), mengurangi penderitaan (reduction of suffering) sebagai jalan untuk mendapatkan kebebasan dan tanggungjawab sosial manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi (khalifah fi al-ard). Perwujudan ini dalam filsafat tradisional disebut sebagai “tujuan perennial”.

Distribusi dan aksi solidaritas untuk membangun kesepahaman dalam upaya menekan kontaminasi Covid-19 mutlak dilakukan. Kebijakan penganggaran pemerintah pastilah tidak cukup bilamana tidak ada upaya dan konsensus bersama perang melawan Covid-19.

Nyata secara kumulatif pun terkonfirmasi  ada ditiap provinsi di Indonesia. Dalam konteks tersebut diperlukan solidaritas publik untuk mengubah keterancaman komunal menjadi rasa tanggungjawab bersama melalui aksi solidaritas setiap individu, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, lembaga pemerintah (termasuk perguruan tinggi), BUMN, paltform digital, filantropis, hingga partai politik melalui ragam pemanfaatan media, daring ataupun luring untuk membangun kesadaran individual-kolegial dalam mengatasi keadaaan (the passive creatuture)  yang bernama Pandemi Covid-19. Semoga !

Penulis ialah Dosen Prodi PIAUD & Wakil Rektor III Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram


Like it? Share with your friends!

91 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Bangga Bangga
0
Bangga
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Sedih Sedih
0
Sedih
Takut Takut
0
Takut

0 Comments

Komentar

Komentar

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Send this to a friend