Salah Duga Gaya Beragama Kita Menghadapi Corona

5 min


203 shares

Oleh: Dr. Abdul Wahid

Sudah pasti – bukan “tampaknya” atau “sepertinya” lagi – kita sedang mengidap kemunduran yang akut. Tepatnya kemunduran intelektual di kalangan kaum Muslim di mana kebenaran ilmu kita sangkal demi keimanan. Atau keimanan kita tegakkan dengan cara menyisihkan ilmu. Suatu cara berpikir yang disadur dari pengalaman Eropa era kegelapan dan era kemunduran dunia Muslim pasca keruntuhan Baghdad dan jaman kolonialisme. Benar kata Toynbee, sejarah seperti spiral dan mengalami pengulangan-pengulangan. Kita pernah mengalami mundur, sekarang kemunduran itu terlihat lagi dengan jelas.

Kemunduran itu tergamblangkan oleh gaya kita menghadapi wabah Virus Corona yang sedang melanda saat ini. Saat dunia sepakat bahwa mahluk “jahannam” ini ditemu kenali oleh ilmu, dunia pun  sepakat virus ini hanya bisa dilawan atau dikendalikan dengan ilmu pengetahuan. Tetapi kita malah melawannya. Bagaimana mungkin kita melawan virus corona dengan cara berkumpul dan diteriakkan di mimbar-mimbar Jumat atau tabligh, padahal berkumpul itu adalah sarana utama penyebaran virus itu. Kita bilang kita sedang menyatukan kekuatan untuk melawan makhluk angkara murka itu, padahal yang kita lakukan tidak lain menyediakan media yang subur bagi pertumbuhannya. Khutbah-khutbah kita, kita sangka akan menjadi “mesiah” untuk membebaskan orang banyak, padahal kita sedang menumpuk kredit nama besar kita sendiri.

Dengan sikap yang tampak sepele namun prinsipil seperti itu, tanpa disadari, kita sedang memisahkan agama dari ruhnya, yaitu akal sehat dan kepatuhan. Padahal “agama itu akal, tiada beragama orang yang tidak menggunakan akal”. Akal bermakna penghormatan kepada ilmu pengetahuan. Turunannya termasuk mematuhi otoritas ilmu pengetahuan, baik ilmu pegetahuan yang terkait dengan agama itu sendiri maupun terkait dengan kepentingan hidup dunia. Otoritas itu bernama ulama, yang pada zaman kenabian bernama Nabi/Rasul, yang dalam konteks kita disebut MUI. Ilmuan atau saintis juga bagian dari pewaris otoritas kenabian itu, karena mereka bekerja membantu misi ilahiyah dalam rangka penundukan alam sehingga manusia dan elemen kehidupan yang lain bisa berlangsung secara selaras, damai dan nyaman.

Karena kita mengira agama itu pisah dari ilmu, maka pada saat yang sama kita pun sedang mengingkari karakter agama, yakni teratur, terstruktur, disiplin dan patuh. Kita menyangkal sejatinya agama itu dengan sikap kita yang membangkang, ngeyel, bebal, buta, dan tuli terhadap seruan-seruan ilmu. Atau kita abai hanya karena disuarakan oleh sains. Karena kita kira ilmu itu menyesatkan. Kita kira ilmu itu memendam kepentingan yang kotor. Kita kira ilmu itu hanya menjerumuskan manusia saja. Maka ketika ilmu menyeru kita untuk menghindarkan bahaya, maka kita justru menghadangnya dengan cara terbuka dan jumawa. Atau ketika ilmu mengajak kita kepada kebaikan, kita biarkan ilmu berjalan duluan, dan kita diam-diam berbelok ke arah yang lain. Ketika bahaya disirinekan, kita malah menantangnya dengan kesombongan hati.

Kesombongan hati itu, lagi-lagi, tidak kita sadari bercokolnya dalam diri kita. Karena penyakit kalbu itu suka berjubah untuk menutupi akibat mudaratnya. Kita menyangka kita sedang membersamai Tuhan, maka kita tak perlu takut kepada bahaya apapun. Ketidaktakutan kepada selain Tuhan, apalagi kepada mahluk-mahluk kecil sekecil virus, kita sangka sebagai sebaik-baiknya beragama, sebagai taqwa tingkat tinggi. Sambil sekerdil itu, kita masih mengira orang yang mengunci diri untuk mencegah bahaya wabah lebih luas sebagai orang kalah yang tidak takut kepada Tuhannya. Bukankah ketakutan kepada Tuhan tidak harus diekspresikan dengan cara menantang maut.

Kita mengira jalan terbaik bagi ketakutan atau kedekatan kepada Tuhan adalah mengumbar kesalehan di ruang publik. Sementara keintiman ilahiyah yang tersembunyi dan sunyi kita tertawakan. Padahal dengan pengumbaran itu kita sedang merasa takut kehilangan label sebagai manusia sholeh di mata selain Tuhan. Padahal kita sedang khawatir kehilangan marwah di mata manusia. Padahal kita sedang terbelenggu oleh jaring-jaring budaya dan adat keduniawian dan kepentingan-kepentingan individual kita sendiri. Padahal kita sedang salah sangka tentang Tuhan. Kita sangka Tuhan hanya hadir di tengah-tengah kerumunan dan Dia mengutuk kesunyian. Padahal sebaliknya, atau setidaknya cinta Tuhan itu merata. Padahal Tuhan itu emanen – hadir di semua situasi dan keadaan, juga transenden – mengatasi dan melampaui apapun, termasuk sangka-sangka kita kepadaNya.

Maka berbaik sangkalah kepada ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan itu adalah pejawantah sifat ‘alim– Maha Berilmu – Tuhan jua. Kitab suci diturunkan olehNya untuk melengkapi atau membimbing ilmu pengetahuan yang telah Ia taburkan di muka bumi. Ia yang menunjuki kebenaran untuk kemudian diekplorasi – ditemukan dan dikelola – oleh ilmu pengetahuan. Saintis adalah agen Tuhan. Maka percaya ilmu adalah juga imani Tuhan. Ilmu dan kitab suci bekerjasama membentuk kesepahaman mengenai hukum alam, sunnatullah. Karenanya agama yang kita anut dinamakan ISLAM, yang berarti KETUNDUKAN. Tunduk kepada sunnatullah dan taat pada prinsip hukum alam, pada objektifitas sains. Kita yang mengaku penganut setia agama ini mestinya berketetapan hati untuk menerima seruan-seruan baik ilmu maupun kitab suci. Corong keduanya tentu ilmuwan/saintis dan agamawan/ulama. Karena itulah maka agama meniscayakan disiplin dan teratur dalam menyikapi kebenaran. Dan penyangkalan terhadap kdisiplinan sosial yang dilandasi kebenaran dan ilmu itulah yang disebut kekufuran. Kekufuran medan semantiknya ngeyel, sembrono, suka meremehkan, juga seremeh lalai atau abai.

Segala tindakan ngeyel, sembrono, susah diatur dicela oleh Tuhan dengan ideom-ideom qur’ani “sumum-bukmun-umyun” (buta-tuli-bebal) – suatu penyakit kronis dalam berTuhan. Dan penyakit hati (fii qulubihim maradhun) sering tidak kita kenali adanya di tubuh masyarakat kita sendiri. Seringkali menyebabkan kehancuran internal kita sendiri. Maka Nabi-Nabi dan Rasul diutus untuk umatnya sendiri demi memerangi sifat-sifat buruk sosial seperti itu. Karena sifat-sifat itu jika berkembang biak hanya mementalkan upaya perbaikan masyarakat dan pembangunan peradaban umat manusia.

Di balik gegap gempita kita merayakan masa yang katanya kebangkitan Islam ini, kita sebenarnya sedang lumpuh sendi-sendi keberagamaan kita. Kita berkerumun, dengan itu kita kira sedang menegakkan kemajuan agama, padahal kita sedang melibati konservatisme yang membutakan kita akan agama, sehingga kita tidak bisa menemukan jalan keluar bagi kemelut kehidupan. Cetusan-cetusan para pembaharu agama bahwa kita dimundurkan oleh sikap kita sendiri terhadap agama kita, bukan isapan jempol belaka. Itu nyata adanya kini. Yang isapan jempol itu bahwa kita hancur oleh konspirasi dari luar.

Penulis Ialah Dosen Sosiologi-Antropologi Agama UIN Mataram


Like it? Share with your friends!

203 shares

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Bangga Bangga
0
Bangga
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Sedih Sedih
0
Sedih
Takut Takut
0
Takut

0 Comments

Komentar

Komentar

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Send this to a friend