Mengingat “Siti Hajar” Dalam Perayaan Idul Adha (Sebuah Renungan Kehadiran Perempuan)

4 min


63 shares, 1 point
ilustrasi

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah kita mengenal dengan perayaan “Hari Raya Haji”. Momen ini sangat istimewa. Seluruh jamaah haji berkumpul disatu titik yaitu “Padang Arafah” untuk melakukan wukuf. Padang Arafah merupakan kawasan bebatuan seluas 3,5 x 5,5 km persegi. Dari titik ini berlangsung “perjumpaan akbar” sekitar jutaan muslim diseluruh dunia mengunjungi Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Bersimpuh dihadapan Allah swt guna mendapatkan ridha dan ampunan-Nya.

Di padang tandus inilah jamaah haji memulai ritualnya dengan cara berdiam diri melakukan perenungan dan bertafakur akan substansi kehidupan yang dijalanani sebagai “khalifah” Tuhan dibumi. Perenungan ini berlangsung sekitar 5-6 jam (Dzuhur sampai Maghrib), yang kita kenal sebagai ritual wukuf.

Idul Adha juga dinamakan “Idul Qurban”. Pada hari itu Allah swt memberi kesempatan kepada manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bagi umat muslim yang belum mampu menunaikan perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk berqurban. Bentuknya dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah swt.

Ibrahim dan Kerinduan Kehadiran Penerus
Ilustrasi

Sebagai nabi yang menyerukan tawhid, Ibrahim melaksanakan tugas berat dalam sistim sosial yang “opresif atau tiranis”. Pada zaman kegelapan dimana selama se-abad lamanya menanggung segala siksaan, ia berhasil menanamkan kesadaran dan cinta kemerdekaan kedalam diri manusia-manusia yang telah terbiasa dengan penindasan (Ali Syariati : Al Hajj, 102).

Ditengah perjuangan panjang dalam menjalankan tugasnya sebagai utusan Allah swt, Ibrahim bersama Istrinya Siti Sarah tak jua mendapatkan keturunan. Waktu terus merangkak, Ibrahim semakin menua dan kesepian. Pada puncak kenabiaanya, Ibrahim belum memiliki penerus.

Siti Hajar Sang Penyelamat Kehidupan
Sumur zam-zam

Siti Hajar, seorang perempuan dengan ras kulit hitam itu telah memberikan berkah sepanjang pengharapan Ibrahim. Kehadiran Ismail. Seorang anak laki-laki tampan yang sangat dicintai Ibrahim. Ismail serupa satu-satunya pohon yang tumbuh diladang gersang.

Menurut Sheikh Dr. Musthafa Murad, dalam bukunya Zaujat al Anbiya, bahwa Siti Hajar seorang budak yang membantu Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim. Konon ia didatangkan dari tanah Kana’an untuk menemani Nabi Ibrahim dalam perjalanan dari Mesir menuju Makkah. Tanah Ka’naan istilah kuno untuk wilayah yang meliputi Israel, Palestina, Lebanon, serta sebagian Yordania, Suriah dan sebagian kecil Mesir Timur Laut. Siti Hajar sendiri merupakan budak Fir’aun yang dihadiahkan untuk Siti Sarah yang akhirnya dipilih Ibrahim untuk dinikahi. Identitas Siti Hajar pun dalam berbagai sumber  berbeda antara satu dengan yang lain. Ia pernah disebutkan anak dari seorang Raja.

Di tengah kebahagiaan Ibrahim atas berkah kehadiran Ismail, Siti Hajar dan anaknya di bawa ke tempat yang jauh menuju Baitul Haram. Mereka ke suatu lembah gersang yang tiada rumput ataupun tumbuhan. Tiada juga air, pun tanda-tanda kehidupan. Setelah berada diatas lembah, Nabi Ibrahim meninggalkan keduanya. Tapi Siti Hajar meyakini penuh, “Allah swt tidak akan pernah meninggalkannya”!

Siti Hajar memandang semua wilayah di lembah, kosong, gersang dan sangat panas. Ia merasa asing. Di tengah kesendiriannya bersama Ismail, bekal perjalanan yang dibawa untuk bertahan hidup akhirnya habis. Air susunya pun mengering. Ia mulai panik. Ismail menangis kehausan dan kelaparan. Siti Hajar berlari mencari air dari bukit Shafaa ke bukit Marwah sebanyak 7 kali. Hampa, ia tidak menemukan apapun.  Ia bingung dan gelisah memikirkan keberlangsungan kehidupan anaknya, Ismail. Energinya habis, ia-pun ambruk disamping bayinya.

Allah swt memberikan mukjizat-Nya. Saat Ismail kecil menangis kehausan dengan kakinya dihentakkan ketanah, muncul sumber mata air yang kini dikenal sebagai mata air Zam-Zam. Air inilah yang membantu mereka bertahan. Memberi kehidupan dipadang pasir tandus dan bukit bebatuan. Beberapa waktu kemudian tempat itu akhirnya ramai, banyak kafilah yang singgah dan menetap. Dari Siti Hajar kota Makkah menjadi ramai dan berkemajuan.

Siti Hajar adalah sosok perempuan yang begitu  tegar, tabah dan bertawakal hanya kepada Allah swt semata. Ia menjadi cerminan seorang perempuan yang kuat dan tidak mudah putus asa meski kesulitan kerap menghimpitnya.

Peran yang “luput” dikisahkan

Ilustrasi

Peran Siti Hajar seringkali terlupakan dalam sejarah qurban. Ketabahannya dalam mendidik anaknya Ismail seorang diri dalam waktu yang panjang digurun yang tandus. Membentuk karakter dan sikap Ismail yang ikhlas dan berserah sepenuhnya kepada Allah swt, adalah buah dari pendidikan yang diajarkan Siti Hajar. Sampai Ibrahim datang dan menceritakan mimpinya yang mengerikan itu. Dan lagi Siti Hajar menunjukkan ketundukannya akan perintah Allah swt dengan merelakan Ismail, anak yang sangat dicintainya untuk dikorbankan.

Kisah Siti Hajar memberikan pengetahuan kepada kita bahwa upaya yang dilakukannya untuk bertahan hidup, gerakannya diikuti oleh jutaan umat Islam setiap musim haji. Siti Hajar seorang perempuan yang cerdas membaca keadaan, mencari ide dan inisiatif untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Siti Hajar menjadi satu-satunya perempuan didunia Islam yang seluruh upayanya menyelamatkan kehidupan diikuti dalam manasik ibadah Haji. Ibadah wajib dalam rukun Islam.

“Esensi Idul Qurban, kepasrahan Ibrahim dan Siti Hajar dalam menjalankan perintah Allah swt”.

Tulisan ini ialah kiriman dari member kicknews.today. Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

63 shares, 1 point

What's Your Reaction?

Marah Marah
0
Marah
Senang Senang
0
Senang
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Bangga Bangga
0
Bangga
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Sedih Sedih
0
Sedih
Takut Takut
0
Takut

0 Comments

Komentar

Komentar

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Send this to a friend