in

KickOff – Staf utama Presiden: Hati-hati dengan “Ustadz Pasar Gelap”

kicknews.today – Teknologi informasi memberikan beragam manfaat dan kemudahan. Namun, di era kegemukan informasi saat ini justru dapat menjadi petaka ketika kita tidak dapat memilah Informasi mana yang bermanfaat dan benar-benar terkonfirmasi kebenarannya.

Tenaga Ahli Utama kedeputian V Kantor Staf Kepresiden, KH. Dr. Rumadi Ahmad menyampaikan di Live Kick Off Podcast kicknews.today, Selasa (1/12) pukul 20.30 Wita bahwa kemajuan informasi saat ini luar biasa bisa menyelamatkan peradaban manusia, sangat terasa saat kondisi Covid-19. Kalau tidak ada teknologi informasi, kehidupan akan lumpuh. Meskipun ditengah beragam kemudahan yang ditawarkan tentu tidak bisa dinapikkan ada plus minusnya.

“Saya kira semua jenis kemajuan peradaban manusia dan modernitas, memiliki plus-minus,” ujarnya.

Rumadi Ahmad mengatakan, dirinya memiliki kepercayaan dan keyakinan bahwa secara alamiah masyarakat akan memiliki kedewasaan dalam memanfaatkan teknologi. Tidak kemudian menggunakan untuk ujaran kebencian, menyebarkan hoax. Hal yang dibutuhkan adalah imunitas diri kita, Ditentukan bagaimana kita bisa menyaring informasi dan pengaruh buruk dari luar. Sehingga masyarakat bisa membedakan mana yang fake news dan hoax.

“Salah satu ancaman kita saat ini adalah berita-berita yang memecah masyarakat, kita sudah merasakan bangetlah pada saat Pilpres yang membelah masyarakat menjadi dua. Pulihnya sangat lama, bahkan upaya itu masih sampai sekarang. Saya berharap masyarakat bisa mulai belajar. Apa yang terjadi kemarin saya kira menjadi pelajaran,” harapnya.

Saat ditanya soal tren beragama di sosial media, Staf Utama Presiden yang juga ketua Lakpesdan PBNU ini mengatakan sosial media berkontribusi sebagai tempat memproduksi “Ustadz Pasar Gelap” yang keberadaanya menghawatirkan dan membahayakan. Dikarenakan dijadikan rujukan keagamaan padahal tidak memiliki otoritas keilmuan.

“Wah bahaya ini. Mungkin ini yang kita sebut matinya para pakar. Dia dijadikan rujukan keagamaan padahal tidak punya otoritas atas hal tersebut. Sanad keilmuannya tidak jelas. Gurunya siapa juga tidak jelas. Ini kalau didiamkan bahaya” ungkapnya.

Ketua Lakpesdam PBNU ini menjelaskan ada dua ciri “Ustadz Pasar Gelap” yakni pertama, para muallaf. Beberapa muallaf, meskipun tidak punya ilmu keislaman yang cukup, tiba-tiba dia menjadi ustaz karena modal bisa pidato. Yang paling banyak diceramahkan biasanya menjelek-jelekkan keyakinan lamanya. Dia ingin menunjukkan sekarang sudah mendapat “hidayah”. Tak lupa, biasanya juga menebar ketakutan, bahwa agama lamanya itu menjadi ancaman terhadap Islam.

Kedua, orang-orang yang dulu jauh dari Islam, suka maksiat dan sebagainya, kemudian berubah menjadi lebih religius, mengubah penampilan dan sebagainya. Orang-orang seperti ini biasanya menyebut diri sebagai orang yang sudah “hijrah”. Modal kegelapan masa lalu dieksploitasi, seolah sekarang sudah benar-benar hidup dalam terang. Dengan modal bisa pidato, punya tim media sosial untuk menaikkan popularitasnya, mereka tiba-tiba dipanggil ustaz dan dijadikan rujukan dalam beragama.

“Dua kelompok ini, intinya sama. Mereka tidak punya otoritas keagamaan, tapi dimanjakan oleh situasi, saya sarankan tanyalah ke orang-orang yang sanad keilmuannya sudah jelas,” pungkasnya. (red)

Lebih lengkap tentang obrolan terkait Merawat Kebangsaan di Era Kegemukan Informasi dapat anda saksikan pada link video berikut: https://youtu.be/IVN8jbOTRhk

Kickoff podcast

Editor:

Comments

Leave a Reply

Avatar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0