in

Bule Pengamen Dimotivasi  Seniman Lombok, Disebut Street Artist  

Seniman Lombok, Nurkholis saat menemui Mikhail dan istrinya. foto : IG @kake_kholis

kicknews.today – Bule pengamen asal Rusia akhirnya dideportasi melalui Bali, Minggu (3/5) malam setelah kedapatan ngamen di Lombok. Namun dibalik situasi getirnya itu, aksi ngamen Mikhail  Bondarek dan istrinya ini rupanya mendapat perhatian seniman Lombok, NTB. Mikhail dipandang lebih dari sekedar pengamen yang menunjukkan karya seni dengan cara berbeda.

Nurkholis Sumardi, ahli etnomusikologi asal Lombok mendatangi Mikhail ke Kantor Imigrasi Mataram. Ia sengaja datang untuk memberi apresiasi dan mengangkat moral Mikhail dan keluarganya yang sedang dirundung masalah keuangan sehingga terpaksa ngamen di Pasar Kebon Roek, Ampenan.  Bahkan Nurkholis sempat mengajaknya duet. Mikhail dengan Akordeon dan Nurkholis dengan gitar gambusnya.

Momen epic itu diabadikan Dekan Fakultas Seni Universitas Nahdlatul Ulama (NU) ini di akun instagramnya, @kake_kholis.  “Mereka sangat baik. Mereka bukan pengemis. Mereka bukan pembuat ulah. Mereka adalah “Street Artist”,” tulis musisi gondrong ini.

Dalam pandangannya, aktivitas ngamen Mikhail memang terasa anomali di Lombok sehingga mengundang beragam komentar warganet, lebih banyak yang prihatin. Padahal apapun yang dia lakukan dengan alat musiknya, Mikhail tetaplah seniman.

Nurkholis mengungkap sisi luar biasa dari pasangan suami istri itu.

“Saya berbincang dan bermain musik bersama dengan mereka dari siang hari dan disambung malam hari. Sang istri merupakan find artist (seniman rupa) dan sang suami Folk Musician (pemain akordion),” ungkapnya.

Ada pernyataan Mikhail yang menyentuh Nurkholis.  “Kami berkeliling dari negara ke negara hanya untuk bersentuhan dengan banyak orang melalui Seni. Kami berbagi senyuman di mana saja melalui Seni. Uang hanya sekedar bonus, bukan tujuan utamanya, yang terpenting adalah melihat senyum dan berbagi kebahagiaan bersama orang di mana saja,” tulis Kake Kholis mengutip curhat Mikhail dan Ekaterina.

Seni membuat mereka terus hidup dan melangkah. Mereka adalah Street Artist, jalanan dan bersentuhan langsung dengan masyarakat adalah ruang apresiasi seni, bukan televisi ataupun ruang entertain lainnya. “Terimakasih sudah bertemu dan mau mendengarkan suara hati kami,” kutip Kholis.

Baginya street artist harus diapresiasi, patut diberi ruang respect dan bahkan ia mengaku kagum kepada keduanya karena caranya yang tulus dalam bermusik.

“Mereka berkarya dengan tulus sebagai seni untuk seni. Saya bercita-cita suatu saat semoga mampu seperti mereka,” tutupnya. (red)

What do you think?

90 points
Upvote Downvote

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Pengamat Intelijen Nilai PSBL di NTB Bisa Jadi Kebijakan Blunder

Kapok… Motor Disita, Pebalap Liar di Lombok Tengah Dipaksa Pulang Jalan Kaki