in

Pensiunnya para Pemain Sepak Bola di Jalanan Protokol Mataram

Ilustrasi sepak bola jalanan

kicknews.today – Ramadhan di Mataram tergolong unik. Bukan hanya ditandai kemunculan pedagang-pedagang kuliner dadakan untuk berbuka di pinggir-pinggir jalan. Atau aktifitas ngabuburit, hingar-bingarnya suasana setelah berbuka dengan ledakan mercon, dan gerombolan remaja membangunkan sahur, yang identik dengan suasana bulan puasa.

Ada aktifitas lain yang lebih antimainstrem. Setiap Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya, jalan protokol bukannya dikuasai para pengemudi kendaraan, tetapi oleh puluhan remaja yang bertelanjang dada dengan tubuh berkeringat. Mereka berlarian menutup jalan utama, sehingga pengguna jalan mesti ekstra hati-hati. Kegiatan itu berlangsung sejak jam 12 malam hingga menjelang saat sahur berakhir.

Para remaja itu bermain bola di jalanan. Bagi warga yang tak pernah ke luar rumah di jam-jam itu, tidak akan mengetahui adanya sesuatu yang tak lazim berlangsung di jalur lalu-lintas paling padat di Kota Mataram itu. Jalan yang wajib dijadikan lokasi pertandingan sepak bola itu adalah Jalan Langko Mataram. Persisnya dimulai dari depan gerbang Jebak Beleq hingga depan Masjid Raya Mataram.

“Saya malas melalui jalan itu kalau mengantar penumpang pada dinihari puasa. Saya mengalah pilih jalur lain, daripada repot berurusan dengan mereka, anak-anak muda itu,” ucap Supriadi, seorang pengemudi taksi di Mataram.

Tapi, Ramadhan tahun ini suasana berbeda. Remaja-remaja yang kerap bermain sepak bola di jalan protokol itu tak terlihat lagi. Apakah berhentinya aktifitas itu lantaran terkait dengan adanya pandemi corona yang menempatkan Kota Mataram sebagai wilayah paling tinggi angka positif covid-19 se-NTB?

Namun alasan itu dibantah Lalu Husni Ansyori, seorang pegiat LSM di NTB. “Mereka bukan takut corona. Tapi karena di sepanjang jalur itu sengaja dibuat gelap sejak Mataram dinyatakan sebagai zona merah pandemi,” jelas Husni Ansyori.

Saat malam hari, lanjutnya, lampu penerang jalan-jalan utama kota dimatikan, dengan berbagai pertimbangan. Jalur yang juga gelap gulita sejak pandemi berlangsung adalah kawasan Jalan Udayana. Di sepanjang jalan yang di hari-hari normal ramai dikunjungi kini sunyi-senyap. Kendaraan yang melintas bisa dihitung dengan jari saat malam hari. Tak nampak lagi para pelari yang memang sengaja disiapkan jalur khusus di pinggir jalan. Mereka hanya terlihat pada sore hari, itu pun tidak seberapa banyak.

Apakah semua pemain sepak bola jalanan di Kota Mataram pensiun dari aktifitas? Tidak juga. Di beberapa ruas jalan ternyata masih bisa ditemukan. Di Jalan Energi Ampenan, misalnya, tepatnya di depan Kantor Badan Intelelijen Negara Daerah (BINDA) NTB yang berhadapan dengan supermarket Indomaret. Belasan remaja asyik bermain sepak bola di jalanan tanpa merasa terusik kendaraan yang melintas. Mereka leluasa bermain, karena di tempat ini tak gelap seperti di jalur protokol. Lampu yang cukup terang yang memancar dari Indomaret membuat mereka tidak kesulitan menggiring bola ke gawang lawan masing-masing lawan. Para remaja yang seolah tak gentar wabah yang masih berjangkit di seantero kota. Sesekali terdengar sorak-sorai mereka yang tak satu pun menggunakan APD, memecah kesunyian malam.

“Gol. Gol!”

Gol demi gol tetap tercipta di tengah pandemi corona. (bsm)

What do you think?

88 points
Upvote Downvote

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Istri Anggota Dewan Kabur ke Hotel, Walikota Mataram Kesal

14 Kasus Baru dan 8 Sembuh di NTB Hari Ini, Total Covid 19 jadi 289 Orang