in

Apa sih ‘Catcalling’ itu dan bagaimana menyikapinya?

Ilustrasi catcalling

kicknews.today – Istilah catcalling ramai lagi setelah seorang netizen mengunggah postingan cerita yang menyatakan dirinya sebagai korban catcalling di salah satu destinasi wisata terkenal.

Selain membuat resah, catcalling ini juga bisa menimbulkan dampak buruk bagi psikologis sang korban. Lalu, sebenarnya seperti apa sih bentuk catcalling dan bagaimana cara menyikapinya?

Kenali Apa Itu Catcalling

Catcalling termasuk dalam salah satu bentuk pelecehan seksual jenis street harrastment, yakni melontarkan komentar sensual dengan nada menggoda yang dilakukan di tempat umum. Pelaku catcalling disebut sebagai catcaller.

Catcalling memang paling sering dialami oleh wanita. Namun, tidak menutup kemungkinan laki-laki juga bisa mengalaminya.

Perilaku ini cenderung meresahkan dan bisa menyebabkan korbanya merasa takut, cemas, dan tidak percaya diri. Sayangnya, masih banyak orang yang memaklumi dan menganggap bahwa catcalling merupakan sebuah lelucon dan candaan.

Bentuk-Bentuk Catcalling

Dalam melakukan catcalling, para catcaller biasanya berbicara dengan nada yang ramah dan menunjukkan gestur yang menggoda. Catcaller bisa melakukan aksinya seorang diri atau saat sedang berkelompok bersama teman-temannya.

Berikut ini adalah beberapa bentuk catcalling yang penting untuk kamu ketahui:

  • Melontarkan kalimat pujian, misalnya “Selamat pagi, Cantik.” atau “Wangi banget sih, mau pergi ke mana?
  • Melontarkan kalimat yang sensual, contohnya “Bagus banget sih badannya, nengok dong.
  • Memberikan gestur vulgar, seperti berkedip, bersiul, memberikan tatapan penuh nafsu, menggigit bibir bawah, menjulurkan lidah, melambaikan tangan, atau mengeluarkan suara ciuman
  • Menghalang-halangi jalan atau menguntit sampai di tujuan

Alasan Seseorang Melakukan Catcalling

Sebuah penelitian menyatakan, tidak sedikit catcaller yang mengganggap bahwa panggilan-panggilan itu hanyalah keisengan saja. Mereka mengaku, perilaku tersebut dilakukan secara spontan karena ingin menyanjung dan tidak berniat untuk merendahkan atau menyakiti korban.

Banyak catcaller lainnya melakukan catcalling dengan tujuan menunjukkan ketertarikan dan mengharapkan respons dari korban, seperti korban yang membalas ucapan pelaku dengan memberikan senyuman atau merasa tersanjung.

Tidak sedikit juga catcaller yang justru menginginkan respons negatif dari korban, seperti terkejut, takut, dan marah.

Selain itu, dalam penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa sebagian kecil catcaller melakukan catcalling atas dasar kebencian terhadap wanita yang berlebihan (misoginis) atau adanya sikap menolak feminisme.

Cara Menyikapi Catcalling

Catcalling bisa membuat korbannya merasa tidak nyaman, malu, sedih, takut, marah, bahkan rendah diri, karena merasa tampilannya “mengundang” komentar orang lain.

Tak jarang, korban catcalling juga merasa trauma sehingga kerap merasakan mual, mati rasa, hingga kesulitan bernapas, jika mengingat ucapan atau perlakuan pelaku. Pada beberapa korban, jika perlakuan tersebut dibiarkan terus-menerus, maka kondisinya bisa berkembang menjadi PTSD.

Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk merespons catcalling? Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa kamu lakukan:

  • Katakan dengan tenang tetapi dengan intonasi yang tegas kepada pelaku bahwa sikap mereka tidak dapat diterima.
  • Jika catcaller mengikuti atau membuntutimu, usahakan untuk tetap berada di tempat yang ramai sehingga kamu bisa meminta bantuan orang lain jika tindakan pelaku mulai terasa membahayakan.
  • Jika perilakunya berulang, laporkan kejadian tersebut ke petugas keamanan setempat atau pihak berwenang dan minta perlindungan kepada pihak terkait.
  • Jangan sendirian dan usahakan untuk menghindari lokasi tempat pelaku sering melakukan catcalling.

Memang tidak selalu mudah menghindari apalagi mencegah catcalling. Namun, membiarkan tindakan pelaku dan tidak mengambil tindakan justru membuat catcaller semakin menjadi-jadi.

Jika masih memiliki pertanyaan terkait dengan fenomena catcalling atau sudah merasakan dampak psikologis akibat perlakuan ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau dokter guna mendapatkan solusi penanganan yang tepat, ya.

Sumber: alodoc Kemenkes RI

Editor: Awen

Laporkan Konten