in

Pemilu Amerika: Peraih suara terbanyak belum tentu jadi Presiden

Biden VS Trump

kicknews.today – Sistem pemilihan presiden di Amerika Serikat terbilang unik, calon Presiden peraih suara terbanyak dari rakyat belum tentu adalah pemenang. Mereka tidak serta merta menjadi presiden.

Dalam sistem pemilihan Amerika , ada yang disebut “Popular Vote” dan “Electoral College.” Popular Vote adalah suara rakyat, sedangkan Electoral  Vote adalah suara perwakilan rakyat di masing-masing Negara bagian.    

Pemilihan presiden tidak dipilih langsung oleh rakyat, tapi oleh para electoral atau wakil Negara bagian. Mereka ditunjuk oleh partai politik yang tersebar di 50 Negara bagian. Tiap Negara bagian memiliki quota electoral masing-masing. Jumlahnya kurang lebih sama dengan jumlah populasinya. Wakil tiap Negara bagian akan memilih berdasarkan Popular Vote atau kandidat yang dipilih mayoritas warga Negara bagian mereka.

Cara kerjanya yaitu, warga memberikan suara piihan Capres dan Cawapres mereka, kemudian dikumpulkan per Negara bagian. Kandidat yang mendapatkan mayoritas suara di suatu Negara bagian, merebut semua suara electoral di Negara bagian tersebut.

Itulah kenapa hasil yang keluar pada tanggal 3 November bukan hasil yang resmi. Pengumpulan suara pada electoral yang sebenarnya paling menentukan. Trump dan Biden masih harus was-was hingga proses electoral kelar.

 Kandidat yang dapat suara 270 dari total 538 suara Elektoral AS dinyatakan menang dan menjadi presiden Amerika Serikat.

VOA Indonesia pada akun instagramnya, membagikan video tentang pengalaman pilpres di Amerika Serikat sebelumnya yaitu, pada tahun 2000 George W. Bush kalah 500 ribu suara dalam Popular Vote dari Gore tapi menang di Electoral College dan berakhir menjadi Presiden Amerika Serikat.  

Pada pemilu 2016 lalu, Hillary Clinton mendapatkan 2,8 juta suara Popular Vote lebih banyak dari Trump. Tapi seperti yang kita ketahui Trump lah yang mendapatkan kunci gedung putih.

Laga sebenarnya yang menjadi perebutan Biden dan Trump adalah pada Electoral College.

Tentu ada pro kontra dengan sistem ini. Pro Electoral College mengatakan sistem ini penting agar suara Negara bagian yang jumlah penduduknya kecil tetap di dengar. Kalau tidak, Capres cuma akan berkampanye di Negara bagian yang jumlah penduduknya besar seperti di California dan New York. Suara dari Negara bagian kecil ini bisa saja menjadi penentu persaingan ketat.

Sementara yang kontra mengatakan, sistem ini sudah terlalu kuno, diterapkan sejak Amerika dibentuk pada abad ke-18.

Kita tinggal menunggu hasil akhirnya, apakah biden akan jadi korban “Electoral College” selanjutnya, atau justru membalikkan keadaan. (red)

What do you think?

Premium

Written by TIM Redaksi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Proyek Sirkuit MotoGP Lombok diklaim Gubernur sesuai jadwal

Permohonan SKCK di Polres Lombok Tengah meningkat