kicknews.today – Institut Elkatarie Lombok Timur kembali menegaskan jati dirinya sebagai kampus budaya berbasis nilai-nilai Islam dalam pelaksanaan wisuda tahun akademik 2025. Sebanyak 214 wisudawan dan wisudawati resmi dikukuhkan dalam prosesi wisuda yang sarat makna kultural dan spiritual.
Rektor Institut Elkatarie, Dr. Asbullah Muslim menegaskan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan momentum transformasi akhlak dan karakter bagi para lulusan.

“Kami ini kampus budaya. Harapannya bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga transformasi akhlak. Lulusan Institut Elkatarie diharapkan cerdas secara keilmuan sekaligus cerdas secara akhlak, etika, dan nilai-nilai Islam,” ujar Dr. Asbullah, Senin (29/12/2025).
Dia menjelaskan, nilai kebudayaan Sasak dan keislaman telah terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum pendidikan. Mulai dari mata kuliah Bahasa Sasak, kebudayaan Sasak, seminar sasakologi, hingga program “Sabtu Mengkaji” yang rutin digelar setiap pekan.
Bahkan, pada bulan Ramadan seluruh perkuliahan diliburkan dan diganti dengan “Ngaji Budaya” yang dilaksanakan tujuh menit menjelang waktu berbuka puasa. Program ini telah berjalan sejak tahun 2020 dan terus dipertahankan hingga kini.
“Tahun ini kami tetap mempertahankan tradisi besembek. Bedanya, pada wisuda kali ini pengiringnya adalah tarian rudat, bukan mendet seperti tahun sebelumnya. Tradisi besembek juga kini telah memiliki payung kerja sama resmi melalui MoU dengan Majelis Adat Sasak, sehingga dilaksanakan secara kelembagaan dan akan menjadi tradisi tahunan,” jelasnya.
Art Director Institut Elkatarie, Nurkholis menambahkan bahwa wisuda Institut Elkatarie memiliki kekhasan tersendiri karena tidak sepenuhnya mengadopsi gaya wisuda ala budaya Yunani.
“Wisuda Elkatarie ini mengkritisi dominasi budaya Yunani dalam dunia akademik. Kami mengintegrasikan kebudayaan Sasak, khususnya yang bernuansa Islami, apalagi saat ini berada di bulan Rajab,” ujarnya.
Rangkaian wisuda diawali dengan pembacaan hikayat nyaer dari kitab-kitab Sasak bernuansa Islam, dilanjutkan dengan pertunjukan rudat yang memadukan seni bela diri dan musik tradisional Sasak.
Puncak prosesi budaya ditandai dengan ritual besembek, yakni simbol pemberkatan ilmu kepada lima mahasiswa terbaik. Tahun ini, ritual tersebut dilakukan langsung oleh Penggerakse Agung Majelis Adat Sasak, berbeda dengan tahun sebelumnya yang dilakukan oleh pemangku gunung.
“Besembek ini merupakan simbol doa agar ilmu yang diperoleh para mahasiswa bermanfaat bagi masyarakat, khususnya untuk bumi NTB dan Lombok,” kata Nurkholis.
Dia menegaskan, fokus pengembangan kebudayaan menjadi pembeda utama Institut Elkatarie dengan perguruan tinggi lainnya. Kebudayaan Sasak bahkan menjadi mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memiliki IPK tinggi, tetapi juga pemahaman budaya dan akhlak yang luhur. Budaya kita sangat tinggi nilainya, bahkan melampaui apa yang sering dituliskan oleh pemikir Barat,” tutupnya. (gii/*)


