kicknews.today – Upaya mengatasi keterbatasan air bersih di kawasan wisata Gili Trawangan dan Gili Meno terus diperkuat. Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) bersama PDAM Amerta Dayan Gunung dan PT Tiara Citra Nirwana (TCN) mulai menerapkan teknologi ramah lingkungan dalam penyediaan air baku melalui metode beach well sebagai bagian dari teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).
Metode beach well memanfaatkan air laut yang diambil dari zona pesisir pantai untuk kemudian diolah menjadi air tawar layak konsumsi. Langkah ini dipilih sebagai solusi berkelanjutan yang dinilai lebih aman bagi lingkungan dibandingkan pengeboran air tanah di daratan yang berpotensi mengganggu ekosistem dan cadangan air tawar masyarakat.

Manajer Operasional PT TCN, Agus Arta, menjelaskan bahwa teknologi SWRO secara prinsip mengelola air laut sebagai sumber utama. Pengambilan air dilakukan di kawasan pantai dengan memanfaatkan pasir sebagai media filtrasi alami sebelum air diproses lebih lanjut.
“Karena kita teknologinya Sea Water Reverse Osmosis, artinya mengelola air laut. Kenapa beach well? Karena pembuatannya di pinggir pantai dan yang kita olah tetap air laut,” ujarnya, Rabu (04/02/2026).
Menurut Agus, meski lokasi pengeboran berada di daratan pesisir, metode ini tidak menyentuh cadangan air tanah. Pasir pantai berfungsi sebagai penyaring alami sehingga kualitas air tetap menyerupai air laut dengan tingkat salinitas yang sesuai untuk diolah menggunakan teknologi SWRO.
“Bukan di daratan ngebornya, tapi di pinggir pantai. Filtrasinya kita manfaatkan dari pasir, sehingga tidak mengganggu air tanah masyarakat,” jelasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, PT TCN merencanakan pembangunan enam sumur di Gili Trawangan, terdiri dari lima sumur produksi dan satu sumur pantau guna memastikan kualitas air tetap sesuai standar. Sementara di Gili Meno, pembangunan sumur direncanakan sebanyak dua hingga tiga unit, menyesuaikan estimasi kebutuhan air yang lebih kecil.
“Satu sumur sebagai pantau untuk memastikan semuanya tetap sesuai parameter. Kalau di Gili Meno kebutuhannya lebih kecil, kemungkinan hanya dua atau tiga sumur,” katanya.
Agus menegaskan, PT TCN bertanggung jawab penuh terhadap pembiayaan dan pelaksanaan konstruksi proyek. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya dalam proses perizinan yang saat ini berada di bawah nama PDAM.
“Harapan kami, kerja sama ini benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat. Di sisi lain, sinergi OPD terutama dalam proses perizinan sangat dibutuhkan agar pelaksanaannya bisa berjalan lancar,” ujarnya.
Terkait target operasional, PT TCN menyatakan siap mengeksekusi proyek segera setelah seluruh perizinan dinyatakan rampung. Meski demikian, pihaknya tetap menunggu arahan dari Sekretaris Daerah KLU selaku koordinator persiapan.
“Semakin cepat tentu semakin baik. Tapi kami tetap menunggu arahan Pak Sekda sebagai ketua kelas dalam persiapan ini. Prinsipnya, perizinan ada di ranah Pemda dan kami siap eksekusi,” tutupnya. (gii/*)


