in

Akses jalan dipagar, warga Miskin di Lombok Tengah terpaksa panjat Tembok

Warga terpaksa panjat tembok di Lombok Tengah

kicknews.today – Tiga Kepala Keluarga (KK) di Kampung Buak, Kelurahan Jontlak, Kabupaten Lombok Tengah terpaksa memanjat tembok setiap kali beraktivitas keluar masuk rumah.

Pasalnya, akses jalan yang menjadi satu-satunya jalan untuk melakukan aktivitas ditutup dengan tembok oleh pemilik lahan. Pemilik lahan tidak lain tetangganya.

Toni, salah seorang pemilik rumah mengaku, itu dialami satu bulan lebih. Akses jalan satu satunya itu ditutup pemilik lahan. Jika ingin dibuka, maka Toni dan dua KK lainnya harus membayar pembebasan lahannya. Namun keuangan mereka tak memungkinkan membayar lahan yang dipatok senilai Rp 30 juta itu.

“Pemilik lahan mau dibayar dengan harga 30 Juta, namun kami tidak punya uang,” ujarnya, Rabu (30/12).

Sementara di sisi lain mereka harus tetap keluar masuk rumah untuk aktivitas mencari nafkah. Tidak ada pilihan lain, Toni dan KK lainnya harus memanjat tembok dengan tinggi 2 meter tersebut menggunakan tangga.

“Kita pakai tangga kalau mau keluar,” katanya.

Toni menceritakan, ia sudah tinggal di tempat itu sudah puluhan tahun. Namun tiba tiba ada klaim tetangganya, bahwa akses jalan itu berstatus warisan. Karena tak punya alashak, ia tidak bisa berbuat banyak untuk membantah klaim tersebut. Sehingga Toni sangat berharap pemerintah membantu mencarikan solusi.

“Kita berharap pemerintah bisa menyelesaikan persoalan ini,” harapnya.

Sumiati, warga lainnya menjelaskan, tanah dengan panjang sekitar 20 meter tersebut dulunya merupakan sisa lahan yang dibeli oleh Haji Masrun, warga setempat. Namun belakangan diklaim tetangganya.

Sumiati pun tidak bisa berbuat apa apa ketika diminta membayar Rp 30 juta. Sementara kehidupannya pun sangat miris. “Kalau dibayar kami tidak ada uang. Sedangkan rumah kami yang bocor saja tidak pernah bisa perbaiki. Kita berharap Pemerintah bisa membantu kami,” harapnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kelurahan Jontlak Khairul Imtihan mengatakan, pihaknya sudah mencoba melakukan mediasi antara pemilik tanah dengan masyarakat, namun sampai dengan saat ini masih belum menemukan titik temu.

“Kita sudah memediasi namun belum ada titik temu,” pungkasnya. (Ade)

What do you think?

-5 points
Upvote Downvote
Member

Written by ade ahyar

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Menparekaf sebut pelarangan WNA masuk demi keselamatan negeri

Seorang perempuan di Sumbawa jadikan rumahnya markas Transaksi Sabu