in

6 Pelaku Pemerkosaan Anak SMP di Lombok Timur diminta Dihukum Kebiri

Ilustrasi kebiri

kikcknews.today – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lombok Timur (Lotim) angkat bicara terkait dugaan pemerkosaan yang dialami siswi SMP berinisial R di wilayah kecamatan Sakra Timur, Lombok Timur pada Kamis (4/3) malam lalu. Ironinya lagi, korban diperkosa enam pemuda secara bergiliran.

Ketua LPA Lotim Judan Putrabaya meminta para pelaku pemerkosaan dapat diancam dengan hukuman yang berat. Hukuman ini dihajatkan dapat menimbulkan efek jera bagai pelaku atapun calon pelaku lainnya.

Dirinya bahkan meminta aparat menerapka hukuman maksimal sesuai Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa hukuman bagi pelaku tindak kekerasan seksual terhadap anak minimal lima tahun dan maksimal 15 .

“Bahkan ditambah dengan hukuman kebiri sesuai Peraturan yang sudah dikeluarkan tahun 2020,” tegas Judan saat dihubungi kicknews.today, Rabu (10/3).

Atas kasus ini, Judan juga menilai hal ini merupakan bukti pengawasan yang masih lemah dari orang tua ataupun keluarga. Betapa tidak pada kasus ini seorang anak yang masih berumur belia diajak keluar rumah jam 10 malam, seharusnya pihak orang tua curiga dan berupaya mencegahnya.

“Seharusnya orang tua waspada dan penuh hati-hati serta patut menaruh curiga pada laki-laki tersebut alasan dijanjikan untuk dinikahi tapi apa,” keluhnya.

Untuk kasus ini sedang ditangani PPA Polres Lotim, sebab korbannya masih duduk di bangku SMP.

Pihaknya mempercayakan kepada penyidik menuntaskan pekerjanya dalam mengumpulkan alat bukti dan keterangan saksi.

LPA bersama Dinas dan instansi terkait terutama Peksos yang ada di dinas Sosial secara penuh memberikan pendampingan terhadap korban selama masa pemeriksaan termasuk saat jalani visum di Rumah Sakit Selong.

“Kami sekali lagi meminta pada para orang tua agar melakukan pengawasan yang maksimal terhadap anak agar kasus kasus serupa tdk terus terulang di daerah kita,” harapnya.

Judan mengingatkan, para predator anak menggunakan modus yang mulai marak, salah satunya dengan mengajak menikah untuk itu kepada pada anak-anak terutama yang mulai menginjak usia remaja agar selektif dalam memilih teman.

“Kami berpesan kepada anak-anak fokuslah belajar sebagai bekal meniti masa depan kalian yang masih terbuka lebar,” pesannya. (Oni)

Editor: Redaksi

Laporkan Konten