Hidup dari kebisingan, mati dalam kebangkrutan adab

Ilustrasi perempuan bercadar penuh dusta

Oleh: Amaq Bagok

Di sebuah negeri, hidup seorang perempuan adalah dia manusia yang hidupnya bukan dari kerja, melainkan dari kegaduhan. Adalah pula dia yang tidak membangun apa-apa, tetapi rajin merobohkan martabat orang lain. Ia hadir di ruang publik sebagai pengkritik, mengaku pejuang kebenaran, mengklaim dirinya pembela rakyat kecil. Namun sesungguhnya, ia hanya pengumpul isu, mengais hidup dari pembuat cerita buruk orang lain.

 

Setiap hari tangannya sibuk menulis tudingan. Setiap malam pikirannya memelihara prasangka. Setiap dompetnya kosong, maka isu baru pun lahir. Ia menyerang lembaga, mencaci pejabat, menghakimi siapa saja yang menurutnya “bermasalah.” Padahal jika cermin kejujuran dihadapkan ke wajahnya sendiri, akan tampak luka yang jauh lebih dalam: ia bermasalah dengan jiwanya, dengan akhlaknya, dengan cara ia memaknai hidup.

 

Orang seperti ini tidak mencari kebenaran. Ia mencari perhatian. Tidak mengejar keadilan. Ia mengejar belas kasihan. Ironisnya, ia rajin tampil dalam kegiatan sosial. Berfoto bersama warga miskin. Mengangkat kardus bantuan. Mengunggah momen berbagi. Namun patut diduga, itu semua hanyalah panggung. Kebaikan dijadikan kostum. Empati dijadikan alat dagang. Dan derita orang lain dijadikan tiket untuk bertahan hidup.

 

Ia membangun organisasi dengan nama manis, ada kata care, ada kata peduli, seolah dirinya Sinterklas tropis yang siap menolong siapa saja. Namun banyak yang merasa: bantuan itu hanya kulitnya, sementara dagingnya menguap entah ke mana. Lebih menyedihkan lagi, ketika amanah kecil saja tak mampu dijaga. Dana untuk yang membutuhkan, diduga berbelok ke kantong pribadi. Dan sejak saat itu, perilakunya makin gelap, kata-katanya makin kotor, dan tuduhannya makin liar.

 

Orang yang sibuk membuka aib orang lain, sering kali sedang menutup aib dirinya sendiri. Ia seperti perempuan bercadar, bukan dalam makna suci, melainkan dalam makna simbolik: menutupi wajah batin yang rusak dengan tirai kesalehan palsu.

 

Cadar seharusnya melindungi kehormatan. Namun di tangannya, ia menjadi topeng. Topeng untuk menyembunyikan kebohongan. Topeng untuk menutupi wajah iri. Topeng untuk mengaburkan niat busuk.

 

Kesucian simbol ia rusak sendiri, dengan sumpah serapah di media sosial. Dengan fitnah yang ia kemas seperti fakta. Dengan kata-kata buruk yang ia lempar ke mana-mana, sementara keburukan dirinya sendiri ia kubur dalam-dalam. Akun medsosnya penuh sampah emosi. Isinya bukan gagasan, tapi umpatan. Bukan solusi, tapi cercaan. Bukan ajakan membangun, melainkan undangan untuk membenci. Ia lupa satu hal: mulut adalah cermin hati. Tulisan adalah bayangan jiwa.

 

Jika yang keluar selalu racun, maka sumbernya pasti beracun

 

Wahai manusia yang hidup dari isu, sadarlah. Tidak semua yang keras itu berani. Tidak semua yang lantang itu benar. Tidak semua yang rajin menuding itu bersih.

 

Ada orang yang tampak sibuk membela masyarakat, padahal ia hanya sedang menutupi kegagalannya sendiri. Ada yang gemar membuka aib orang, karena takut aibnya terbongkar lebih dulu. Hidup bukan lomba menjatuhkan. Hidup adalah perjalanan memperbaiki diri. Jika engkau benar, engkau tak perlu menghina. Jika engkau tulus, engkau tak perlu memfitnah. Jika engkau peduli, engkau tak perlu menjadikan derita orang lain sebagai komoditas.

 

Ingatlah, barang siapa menjadikan keburukan orang sebagai sumber nafkah, maka ia sedang menjual jiwanya sendiri. Barang siapa membungkus kerakusan dengan nama sosial, maka ia sedang menipu nuraninya sendiri. Dan barang siapa memakai topeng kebaikanu ntuk menutupi wajah batin yang rusak, kelak akan lelah mempertahankan kebohongannya.

 

Karena topeng selalu berat. Dan kebenaran selalu menemukan jalannya. Lebih baik miskin harta tapi kaya adab, daripada kaya sensasi tapi bangkrut akhlak. Lebih baik diam membenahi diri, daripada ramai menelanjangi orang lain. Topeng akan lelah menutupi wajah, dan dusta akan lelah mengejar kebenaran. Pada akhirnya, manusia pulang pada reputasi amalnya sendiri.

 

Semoga kita tidak menjadi manusia yang hidup dari kebisingan, tetapi manusia yang tumbuh dari keheningan. Semoga kita tidak menjadi perempuan bertopeng atau lelaki berselimut dusta, yang merusak makna kebaikan demi perut sendiri. Dan semoga, setiap kita lebih sibuk membersihkan hati daripada mengotori nama orang lain. (*/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI