in , ,

Busana Khusus Perempuan Sasak, Membedakan Mana Gadis atau Janda

Perempuan Sasak membawa dulang saji. (Foto: Edmond kend)

Jika Anda seorang wanita, jangan asal-asalan menggunakan penutup kepala di Lombok. Karena bisa-bisa Anda dikategorikan seorang janda atau perempuan menopause.
——————————-

Bermacam kreasi dari berbagai suku dan bangsa pemeluk Islam, sebagai wujud religiusitas. Keharusan wanita muslimat menutup aurat, misalnya, memunculkan berbagai desain busana Islami yang sekaligus mencirikan suatu kebudayaan atau komunitas.

“Wanita Bima menutup aurat dengan pakaian rimpu. Perempuan Aceh menutup aurat dengan baju kurung. Wanita India menutup aurat dengan shari. Kaum perempuan Arab menutup auratnya dengan jilbab. Nah, perempuan Sasak menutup auratnya dengan cipuk,” jelas Budayawan Sasak Drs H Lalu Anggawa Nuraksi kepada kicknews di kediamannya, belum lama berselang.

Anggawa mengatakan, selain sebagai ciri wanita Muslim, pakaian yang digunakan untuk bepergian bagi perempuan Sasak juga memiliki kontrol sosial. “Kita bisa membedakan mana gadis, janda, perempuan bersuami, dan wanita tua atau yang telah berhenti menstruasi,” ujar Anggawa.

Cipuk, penutup aurat ala kebudayaaan Sasak, terdiri dari empat macam. Pertama, cipuk perguq, yang digunakan untuk menandakan status seseorang yang masih gadis atau lajang. Ciri-cirinya, setelah kain menutup kepala, kedua ujungnya dibiarkan terjuntai di bagian depan. Kedua, cipuk yang dipakai para janda yang disebut cipuk jangge. Ujung bagian kanan cipuk para janda ini diselempangkan ke bahu bagian kiri, ditarik hingga menutupi bagian bawah tubuh.

“Jadi ketika saya berani tersenyum simpul pada seorang wanita, saya tahu dia seorang gadis atau atau janda, dari jenis cipuk yang digunakannya,” seloroh Anggawa.

Dari perbedaan cara menggunakan cipuk, menuntut pemahaman setiap perempuan Sasak, untuk mengikuti tradisi yang sudah berlangsung berabad-abad, turun-temurun.

Sayangnya, ungkap Anggawa, saat ini banyak perempuan Sasak tidak paham busana yang dikenakannya adalah jenis lokal. “Banyak digunakan di pesantren-pesantren tapi coba tanya namanya, mereka pasti tidak tahu. Mereka hanya tahu menyebut jilbab saja,” ucapnya.

Cipuk jenis ketiga adalah cipuk peros. Ini digunakan wanita bersuami, dengan ciri kedua ujung penutup kepala ditarik berlawanan arah. Ujung sebelah kiri ditarik ke kanan, dan ujung kanan ditarik ke kiri. Panjang cipuk peros sekitar dua meter.

Sedangkan jenis keempat adalah cipuk agung, yang dikenakan wanita yang sudah berumur. “Cipuk agung untuk perempuan tua atau yang sudah menopause. Cipuk yang cukup digulung di bagian atas saja,” ungkap Anggawa. (bsm)

What do you think?

101 points
Upvote Downvote

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Jurang Tune Kuta Lombok Tengah Makan Korban Jiwa

Pemerintah Buka Peluang Turunkan Pajak Usaha Hiburan di Senggigi