in ,

Dulu Pantai sekarang Dugem, Senjakala Pariwisata Senggigi karena Salah Manajemen

Pemandangan senja di Pantai Senggigi

kicknews.today – Senggigi yang sebelumnya merupakan destinasi andalan pariwisata di Lombok, Nusa Tenggara Barat kini semakin terpuruk.

Arah konsep wisata yang dulunya dikenal dunia karena keindahan pantainya kini diidentikan hanya dengan pariwisata murahan, esek-esek hiburan malam dan dugem.

Satu per satu hotel-hotel yang dulunya menjadi ikon-ikon besar pariwisata Senggigi kini tutup yang disinyalir karena tak lagi mampu menutupi biaya operasionalnya.

Sebut saja misalnya Hotel Santosa. Dulu hotel ini merupakan salah satu yang terbesar di Senggigi. Kini lebih terlihat seperti rumah hantu. Kolam renangnya bahkan kini berubah jadi sarang nyamuk raksasa.

Pegiat Pariwisata Nasional asal NTB, Taufan Rahmadi bahkan tak bisa berkata banyak menyikapi lesunya Pariwisata di Senggigi dan konsep yang tidak jelas dari kawasan yang dulunya mengenalkan Lombok pada dunia itu.

“Setahuku branding Senggigi tidak pernah dideclare sebagai kesepakatan bersama semua stakeholder pariwisata. Dulu Pantai, sekarang sudah berubah imejnya menjadi destinasi Dugem,” kata Taufan, Sabtu (15/2) yang merupakan salah satu pencetus pariwisata halal di Lombok itu.

Menurutnya, jika Senggigi dibiarkan saja berlarut-larut seperti saat ini maka dapat mengancam iklim investasi di Lombok secara keseluruhan.

“Ini lebih tepatnya kita sebut Kesalahan Manajemen destinasi pariwisata yang kalau dibiarkan akan memberi citra negatif bagi banyak hal,” cetusnya.

Paling tidak menurut dia, iklim investasi tidak hanya Lombok Barat, tetapi juga NTB secara keseluruhan. Yang ke dua, ekonomi masyarakat sekitar yang bergantung pada pariwisata akan sangat terdampak.

“Yang dibutuhkan tidak hanya perhatian di level kabupaten, tapi juga provinsi bahkan pusat. Yang paling penting revitalisasi Senggigi jangan cuma pendekatan proyek belaka,” pintanya.

Menanggapi sisi lain pariwisata yang tidak dapat dihindari itu adalah dunia malam (prostitusi, miras dan narkoba), Taufan secara tegas menyangkalnya.

“Bagi aku, kita berwisata itu adalah untuk mendekatkan diri kita kepada Maha Pencipta, tadabur alam, bukan malah sebaliknya,” ujarnya.

Menurutnya, pariwisata jika dikelola dengan kreatif dan aturan yang tegas dari pemimpin daerah bersama masyarakat justru bisa merubah daerah yang tadinya identik dengan nilai – nilai negatif menjadi positif.

“Lihat saja Banyuwangi yang bisa mengubah imej dari daerah yang dikenal dengan santet menjadi daerah wisata yang ramah keluarga,” pungkas dia. (red.)

What do you think?

100 points
Upvote Downvote

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Suka Motor Honda Astrea Grand? Honda Luncurkan Produk Baru Serupa

Perempuan Suku Sasak

Ada Banyak Dialek, Ternyata Suku Sasak Punya Bahasa Pemersatu