kicknews.today – Setelah cukup lama vakum, komunitas Erkaem kembali menggelar rutinitas yang sebelumnya telah berjalan sejak tahun 2015. Ngopi Sore Erkaem menjadi ritual rutin mingguan yang dihajatkan sebagai wadah untuk mengasuh karya-karya para musisi muda di NTB. Agenda yang terhitung cukup “sakral” bagi sebagian kalangan musisi NTB itu, kembali terselenggara Minggu (10/7) di Shelter Kesenian Komunitas Erkaem Motong Kedaton, Lombok Barat.
Nahkoda komunitas Erkaem Ary Juliyant menyebutkan rutinitas Ngopi Sore Erkaem kali ini terselenggara atas dorongan kuat dari sejumlah praktisi dan aktivis seni budaya dan Bahasa. “Setelah begitu lama tertunda akhirnya terbersit inisiatif dari Kiki Sasmita (asal Lampung) seorang aktivis baru di Shelter Kesenian ErKaEm yang siap berkoordinasi menghidupkan kembali Ngopi Sore Erkaem bekerjasama dengan DinPust AJ&F untuk membincangkan karya lagu teman- teman musisi muda di NTB,” ungkap musisi senior yang akrab disapa Kang Ary ini.

Untuk gelar Ngopi Sore Erkaem kali ini diberi tajuk “In English We Dive” membincangkan karya musisi muda yang membuat lagu berbahasa inggris. Musisi muda NTB tersebut bernama Paris Hasan yang disebut mendapat dukungan dalam berkarya dari R.O.O.M management, Pamela Paganini, v3e management dan Rizky Gita.
“Pada bincang santai ini kami juga akan mengundang beberapa orang nara sumber ngobrol santai lainnya. Seperti Nuniks Gayatri seorang sarjana psikologi dan translator bahasa Inggris-Indonesia, Indrastuti Darjanto seorang pemerhati budaya dan wisata berlatar belakang pendidikan bahasa inggris dan Julie Bishop seorang guru music warga negara Australia,” sambung Kang Ary.
Dr. Imam Sofian Ketua Komunitas Gasspoll NTB memandang agenda ini sebagai indikator penting masih bernafasnya kehidupan seni khususnya seni music di NTB. Karena setiap seniman akan produktif menelurkan karya jika apresiasi terhadap seni terus dihidupkan dan digaungkan.
“Seniman akan produktif jika ada apresiasi terhadap karya mereka, apresiasi dari kalangan komunitas akan berpengaruh besar pada persepsi publik terhadap kehidupan seni dan budaya di mata masyarakat luas,” ungkap Doktor Ilmu Hukum yang juga dikenal luas sebagai pemerhati seni dan budaya di NTB tersebut.
Menurut Imam kehidupan berkesenian di suatu wilayah, menjadi salah satu jangkar utama untuk mempertahankan identitas masyarakat dalam wilayah tersebut. Hilangnya kehidupan seni akan menjadi akhir dari keberadaan atau eksistensi kelompok masyarakat yang disebutnya tidak mampu mempertahankan keberadaanya pada pandangan publik yang lebih luas. “Hidupnya kesenian dan budaya ditengah masyarakat akan mempertahankan identitas suatu bangsa atau kelompok masyarakat itu sendiri. Jadi kegiatan seperti ini, merupakan hal penting yang harus dipertahankan dan dikembangkan untuk menjaga identitas dan eksistensi keberlangsungan hidup dan pengakuan terhadap suatu kaum,” tutup Dr. Imam dengan ekspresi wajah yang cukup serius. (hl)


