in

Belajar dari Surya Mahajana, si ‘tangan besi’ rumah subsidi

Perumahan bersubsidi oleh Surya Mahajana

kicknews.today – Hidup berawal dari mimpi, begitulah kata bijak yang sering kita dengar. Impian atau cita-cita memang memiliki energi besar untuk melangkah, menempuh perjalanan hidup yang berliku. Setiap orang memiliki mimpi dan pengalaman hidup yang berharga, seperti Surya Mahajana, seorang pengusaha yang mempunyai banyak cerita unik tentang perjalanan karirnya hingga sukses di dunia properti.

Ia lahir di Mataram tahun 1980, pada masa di mana pertumbuhan ekonomi saat itu masih berpusat di ibu kota, sedangkan wilayah Indonesia seperti NTB masih berada dalam daftar provinsi termiskin. Surya, yang saat itu mulai tumbuh remaja, hanya bisa menempuh sekolah sampai SMP dan tidak mampu melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

Meski tidak bisa melanjutkan sekolah, ia tetap merawat mimpinya menjadi seseorang yang nantinya bisa sukses dan membantu orang lain.

Karena semangatnya itu, ia mendapat kesempatan berharga dalam hidupnya, tahun 2004 ia mulai belajar dan bekerja di Jepang. Selama tiga tahun lamanya ia menempuh hidup di negeri sakura, banyak ilmu secara langsung maupun tidak langsung ia dapatkan. Mulai dari kedisiplinan, ketangguhan, menghargai waktu, dan keyakinan. Ia banyak belajar dan tanpa sadar hidup dengan budaya Jepang.

“Di Jepang kami cuma dapat jatah waktu untuk makan hanya 10 menit, jadi itu point kalau kita harus menghargai waktu,“ ungkapnya di Mataram, Jum’at (23/4).

Meskipun hanya tamat SMP, ia tidak pernah minder. Menurutnya, orang bekerja yang terpenting adalah ikhlas, karena Tuhan akan memberi jalan keluar. Itulah hal paling penting yang selalu ia tanamkan dalam hatinya.

Setelah kembali ke tanah air, ia tidak langsung terjun ke dunia properti. Ia menjadi buruh kasar, perakit besi beton di salah satu perusahaan properti perumahan elite Mataram. Sementara upah yang ia dapatkan tidak seberapa. Karena tekun dan disiplin, ia akhirnya diangkat menjadi karyawan bagian logistik.

Setelah belajar banyak hal dan menabung, ia merasa cukup dan memberanikan diri untuk melamar Septiana, ibu dari tiga anaknya saat ini.

Pada tahun 2017 ia mencoba mengembangkan sebuah perumahan dengan konsep kavling siap bangun. Meskipun banyak halangan rintangan, proses belajar bukan di bangku pendidikan, usahanya berjalan sukses.

Surya belajar, bahwa praktik dan berhadapan langsung dengan  kenyataan yang ada adalah sebuah tempat menimba ilmu yang sesungguhnya.

Pada tahun 2018, ia mencoba untuk meramaikan pembangunan rumah subsidi, sebuah program pemerintah. Pada tahap awal terdiri dari 34 unit, sampai sekarang berhasil berkembang pesat hingga  200 unit.

Ia percaya itu semua adalah berkat doa ibu dan istri yang  membuatnya tetap optimis. Hal pernah membuatnya paling terpukul adalah saat sang ibu meninggal.

“Karena satu pintu doa sudah hilang, tapi saya bersyukur bisa membahagiakan ibu di akhir hayatnya,” ungkapnya.

Impiannya saat ini, ia akan terus berjuang membangun usaha agar sampai ke anak cucu kelak. Bagi Surya, keluarga adalah segalanya dan paling utama, “apapun itu, asal kita mau dan yakin, pasti ada jalan”.

Kini si tukang besi dengan tangan yang trampil serta keuletan dan tekad yang kuat masih terus berjuang dalam bisnis properti untuk memajukan daerahnya.(red)

Editor: Redaksi

Laporkan Konten