in

Kisah Ramadhan di Xinjiang, larangan atau pilihan? (Bagian 2)

Warga dan pengunjung di International Grand Bazaar, Urumqi, Ibu Kota Daerah Otonomi Xinjiang, China, Kamis (22/4/2021), menyaksikan tari-tarian tradisional masyarakat etnis minoritas Muslim Uighur. ANTARA/M. Irfan Ilmie

kicknews.today – Meskipun mendung merata di langit Kota Urumqi, tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan pada sore itu. Xinjiang International Grand Bazaar (XIGB), pusat keramaian di Kota Urumqi, pada 21 April 2021 tampai ramai.

XIGB yang nama Mandarinnya adalah Guoji Da Bazha dan bahasa Uighurnya Shinjang Xelq’ara Chong Baziri atau pasar besar internasional sama dengan pusat keramaian Wangfujing di Beijing atau mungkin Pasar Baru di Jakarta.

Bedanya, siapa pun yang hendak memasuki kawasan XIGB harus melalui pemeriksaan alat pendeteksi metal yang dijaga personel keamanan berseragam di ketiga pintu masuk.

Di XIGB terdapat masjid. Ini juga yang membedakannya dengan Wangfujing atau pusat belanja para wisatawani lainnya di kota mana pun di China, meskipun di dalam Masjid XIGB tersebut tidak terlihat adanya aktivitas keagamaan yang berarti seperti halnya pusat kegiatan umat Islam selama bulan suci Ramadhan.

Justru yang ramai adalah panggung hiburan yang berjarak sekitar beberapa meter dari bangunan masjid baru bergaya arsitektur Utsmaniyah, terutama pada bagian kubah dan dua menara.

Pasar yang dibangun di atas lahan seluas 4.000 meter persegi pada tahun 2000 dan mulai dibuka untuk umum pada 26 Juni 2003 itu memang memadukan unsur arsitektur Islam dengan bangunan tradisional etnis minoritas di Xinjiang, seperti Uighur, Kazakh, Hui, dan Mongol.

Jarum jam sudah menunjuk 8 malam (19.00 WIB), namun masih terang karena di Urumqi waktu Magrib baru tiba pukul 21.05 (20.05 WIB).

Walau begitu orang-orang bebas makan dan minum. Bahkan, kedai aneka ragam roti canai di seberang masjid tersebut juga ramai oleh pembeli dan ada yang makan-minum di atas mezanin sambil menyaksikan kesibukan orang-orang di dalam dapur berdinding kaca bening.

Seorang pelayan menawari roti canai yang memang menjadi makanan pokok orang Xinjiang. Namun dia memohon maaf, begitu yang ditawari sedang berpuasa.

Kesibukan yang sama juga terlihat di toko aneka macam kurma dan buah kering lainnya di XIGB. Penjualnya pun dengan ramah mempersilakan mencicipi jualannya sebelum ditimbang.

“Saya sedang berpuasa juga,” kata seorang pelayan laki-laki yang mengenakan kopiah khas Uighur yang bentuknya mirip kubah masjid.

Demikian halnya dengan penjual teh dan aneka minuman rempah lainnya di daerah yang banyak dihuni oleh etnis minoritas Muslim Uighur itu tanpa sungkan-sungkan menawarkan sampel kepada setiap pengunjung.

Orang-orang Uighur juga bebas merokok sambil menyaksikan sekelompok gadis dari komunitasnya meliuk-liukkan tubuh langsingnya ditingkahi alunan musik tradisional yang sepintas mirip irama padang pasir. Makanya, para penari perempuan di Xinjiang selalu mengenakan pakaian tertutup mulai dari kepala hingga ujung kaki. Demikian pula dengan penari prianya yang selalu berkopiah.

Suasana di pusat jajanan serba ada di seberang XIGB itu juga ramai. Makin sore, justru makin ramai seiring dengan jam pulang kerja.

Apalagi di sekitar pintu pujasera itu terdapat lorong bawah tanah menuju stasiun kereta bawah tanah Erdaoqiao dan halte bus. Situasi lalu lintas di Jalan Jiefangnan Lu sore itu bertambah macet meskipun tetap terkendali.

Sudah lewat jam makan malam mestinya. Namun pukul 20.00 masih terang, maka tidak heran kalau pujasera tersebut tetap ramai oleh orang-orang yang tidak berpuasa karena Magrib masih satu jam lagi.

Baca Al Quran
Di pinggiran Kota Urumqi, para mahasiswa Xinjiang Islamic Institute (XII) dengan tekun menirukan ayat demi ayat yang dibacakan oleh sang dosen.

Fabiayyi alaai robbikumaa tukadzdzibaan,” ucap Mehmet Amin Abdullah yang serentak ditirukan oleh mahasiswanya di kelas Al Quran dan Hadis pada 22 April 2021 siang.

Ayat-ayat Surat Ar Rahman yang ditulis di atas papan berwarna hijau tua itu dilantunkan secara tartil oleh seisi ruangan kelas.

Ilham Yaqin (23), mahasiswa XII asal Kashgar, dengan lancar menyelesaikan Surat Al Qadr saat diminta awak media membacanya di luar kepala.

Bahkan dia pun mampu berbicara dalam Bahasa Arab saat diminta untuk memperkenalkan diri karena memang Bahasa Arab menjadi mata kuliah di kampus yang direnovasi pada 2014 dengan menelan biaya senilai 280 juta yuan atau sekitar Rp627,8 miliar itu.

Ya, setidaknya mereka memang benar-benar mahasiswa XII yang sedang belajar ilmu agama Islam, bukan sekadar pajangan belaka di depan awak media asing.

Selain Al Quran lengkap dengan terjemahan berbahasa Uighur, di atas bangku para mahasiswa itu terdapat modul Hadis, di antaranya tentang hikmah, doa, dan pesan tentang cinta tanah air.

Dua tahun mendatang setelah lulus dari XII, Ilham juga menyatakan kesiapannya jika harus ditugaskan ke daerah asalnya untuk menjadi imam masjid menggantikan ayahnya.

Di dua kelas lainnya, para mahasiswa juga sedang serius mengikuti kelas Budaya China dan Bahasa Mandarin. Pintu kedua kelas ini tertutup rapat dari dalam sehingga tidak bisa dimasuki oleh orang lain, termasuk para awak media asing yang pada saat itu diundang secara khusus oleh pemerintah Daerah Otonomi Xinjiang.

Masjid di dalam areal kampus XII sepi karena pada saat itu memang belum masuk waktu Zuhur. Berbeda dengan kunjungan pada tanggal 3 Januari 2019 ketika para mahasiswa dan pimpinan XII menunaikan shalat jamaah Ashar selepas jam kuliah.

Abit Qazbay yang mewakili pimpinan XII menemui awak media asing pada 22 April 2021 mengatakan bahwa di luar jam kuliah, para mahasiswanya biasanya membaca Al Quran di dalam masjid.

Tapi mungkin karena siang itu masih jam kuliah, maka wajar jika masjid sepi dari aktivitas mahasiswa.

Sebanyak 889 mahasiswa XII semuanya berjenis kelamin laki-laki, termasuk para dosennya, sehingga sudah dipastikan mereka puasa semua kecuali yang memiliki uzur syar’i, seperti sakit parah dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, kantin umum di XII pada siang hari tutup total. Pada hari-hari biasa, pihak kampus memberikan makan kepada mahasiswanya tiga kali sehari secara cuma-cuma.

Para mahasiswa yang 67 persen berasal dari wilayah selatan Xinjiang, seperti Hotan, Kashgar, dan Aksu, itu juga tidak dipungut biaya pendidikan.

“Untuk biaya pendidikan yang ditanggung pemerintah sebesar 8.000 yuan per mahasiswa setiap bulan dan biaya hidup 4.000 yuan,” kata Abit.

Gaji dosen seperti Amin Abdullah bisa mencapai 72.000 yuan atau sekitar Rp161,4 juta per tahun.

XII tidak saja mencetak pemuka agama, imam, dan khotib, melainkan juga peneliti Islam yang bebas dari pengaruh radikalisme dan ekstremisme.

“Dari sekitar 1.000 anggota delegasi etnis minoritas Muslim yang duduk di kursi kongres dan parlemen dari segala tingkatan, baik pusat maupun daerah, sebagian lulusan dari sini,” kata Ilijan Anayat selaku juru bicara Pemerintah Daerah Otonomi Xinjiang di kampus XII Urumqi itu. Bersambung .. (ant)

Editor: Annisa

Laporkan Konten