BMKG jelaskan hujan berhenti di Mandalika bukan karena pawang


kicknews.today – Aksi pawang hujan Rara Istiani Wulandari di event MotoGP di Sirkuit Mandalika viral. BMKG pun memberikan penjelasan terkait hujan deras disertai petir yang mengakibatkan race MotoGP diundur hingga satu jam.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, BMKG memprediksi terkait prakiraan akan terjadi hujan di Mandalika dengan intensitas ringan hingga lebat pada 17 sampai 20 Maret 2022.

“Kalau kita lihat fenomenanya sejak tanggal 17, 18, 19 itu sudah diperkirakan BMKG. Bahwa di Mandalika itu akan terjadi hujan dengan intensitas ringan sampai lebat,” jelas Guswanto demikian dilansir detik.

Kemudian tanggal 20 diperkirakan juga hujan lebat disertai badai petir.  Kenapa begitu jelas dia, karena pada waktu itu terjadi bibit siklon tropis 93F yang dampaknya itu memberikan potensi pertumbuhan awan hujan di Mandalika.

Meskipun ada momen hujan berhenti saat pawang hujan bekerja, menurut Guswanto, itu merupakan kebetulan. Dia mengatakan hujan berhenti karena faktor durasi yang sudah selesai.

“Dan buktinya, kan dari awal pawang itu sudah bekerja, tapi nggak berhenti juga. Artinya, waktu berhentinya hujan itu bukan karena pawang hujan. Tapi, karena durasi waktunya sudah selesai,” ungkapnya.

Jika dilihat prakiraan lengkap di tanggal itu lanjut Guswanto, memang hujan selesai di jam 16.15. Saat rintik-rintik itu bisa dilakukan balapan, kalau dilihat dari prakiraan nasional analisis dampak yang dimiliki BMKG.

Hujan memang bisa diatur dengan teknik modifikasi hujan. Tapi, hal itu hanya bisa dilakukan jika terdapat awan hujan. Cara itu pun hanya berfungsi untuk mempercepat terjadinya hujan.


“Kalau tidak ada awan hujan, nggak bisa. Jadi, cara itu bukan untuk menahan hujan. Tapi, untuk mempercepat,” jelas Guwanto.

BMKG juga menyebut terkait pawang hujan itu merupakan kearifan lokal yang sulit dibuktikan secara sains. Namun, secara saintis itu sulit untuk dijelaskan.

“Kalau cerita tentang pawang hujan itu adalah kearifan lokal masyarakat kita, dan itu tidak bisa dicampuradukkan dengan sains,” pungkasnya. (jr)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI