in ,

TGB Diceritakan Kisah Tetangga Tionghoa yang Tangisi Seorang Muslim Oleh Habib Umar bin Hafidz

TGB bersama Habib Umar bin Hafidz

kicknews.today – Usai berhikmad membangun NTB dengan menjadi gubernur selama dua periode, kini TGH M Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) lebih santai dalam hal waktu. Dia berkesempatan lebih banyak untuk bersilaturrahmi dengan kerabat dan handaitolan. Seperti yang dilakukannya kemarin, Minggu (7/10).

Ditemani putrinya Azzadiina Johara, TGB menghadiri undangan pertemuan terbatas bersama Habib Umar bin Hafidz bersama beberapa tokoh lainnya seperti gurunya Prof. Dr. Quraish Syihab, Utusan Khusus Presiden Untuk Timur Tengah Prof. Dr. Alwi Shihab, Ketua Umum ICMI Prof. Dr. Jimly Assiddiqie, Wakil Ketua MPR Dr. Hidayat Nur Wahid, Mufti Australia Syekh Dr. Salim Ulwan, Ketum FPI Ustadz Ahmad Shabri Lubis dan para Habaib serta ulama laiinya dalam majlis yang penuh berkah itu.

Dalam laman media sosialnya TGB mengatakan, selama kurang lebih tiga jam dirinya berada dalam majelis yang penuh nasihat, ilmu dan hikmah itu. Banyak hal yang dibahas tentang makna ikhlas, persaudaraan, kasih sayang. Bahwa syariat Islam itu luas dan lapang. Berdakwah itu tugas mulia, maka harus dijalankan dengan cara-cara yang mulia tanpa menyakiti dan meminggirkan.

Disebutkan TGB, beliau menegaskan Indonesia adalah bukti hidup dari perjalanan panjang yang penuh berkah dari suatu bangsa. Sejarah Indonesia penuh dengan eksperimen keislaman yang ramah dan mengayomi.

Di akhir pertemuan, TGB diceritakan mengenai seorang yang berasal dari Hadramaut Yaman. Setelah enam puluh tahun tinggal di Jakarta dia memutuskan kembali ke Yaman. Sontak para tetangganya menangisi kepergiannya. Diantara yang paling keras tangisnya adalah tetangganya dari etnis Tionghoa yang kebetulan non muslim.

“Saat ditanya, tetangga Tionghoa itu mengatakan, orang ini tetangga terbaik saya. Puluhan tahun bersamanya, tak pernah sekalipun menyakiti saya. Tak pernah sekalipun mencari tahu urusan pribadi saya, mencampuri urusan rumah tangga saya. Dia selalu menghibur, menyenangkan hati saya. Saya percaya padanya lebih dari siapapun. Harta dan keluarga sayapun, saya percayakan padanya,” kisahnya.

“Itulah akhlak muslim, kata Habib Umar. Selalu dijumpai dalam kebaikan, sulit ditemui dalam keburukan,” lanjut TGB. (red.)

What do you think?

1000 points
Upvote Downvote