Menengok Usaha Kopi di Masa Pandemi Covid-19

2 min


294 shares
Paox Iben saat menengok hasil panen kopi

kicknews.today – Salah satu usaha paling terdampak dari pandemi covid-19 adalah bisnis kopi. Padahal dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan bisnis kopi sungguh menjanjikan. Di tahun 2018-2019 ada sekitar 80 gerai baru di NTB, dari Ampenan hingga Sape di Bima.

“Usaha kedai kopi ini menjadi ekonomi alternatif ditengah sulitnya kondisi perekonomian pasca gempa. Hasilnya cukup bagus. Sehingga banyak anak-anak muda yang terjun ke bidang ini, menjadi enterpreneur-enterpreneur muda yang bersinar,” ungkap Paox Iben Mudhaffar, Presiden Repvblik Syruput.

Sayangnya di tengah ephoria enterpreneurship yang menghinggapi anak-anak muda tersebut, terjadi pandemi covid-19. Ruang gerak masyarakat dibatasi. Banyak gerai-gerai kopi yang tutup atau ditutup paksa, dibatasi jam dan jumlah kunjungannya.

Seperti yang diungkapkan Aldo seorang pegawai bank yang memiliki usaha sampingan berjualan kopi dengan menggunakan mobil di depan Museum Negeri NTB. “Ya, bagaimana lagi. Padahal kita baru beli mesin (espresso) baru seharga 40 juta. Total kita butuh modal sekitar 120 juta untuk usaha kopi keliling ini. Kalau keadaan normal, omzet kita jualan lumayan juga dari sore hingga malam bisa 300-500 ribu permalam,” ungkapnya.

Kondisi ini tentu juga dikeluhkan para petani kopi. Akibat pembatasan sosial, permintaan kopi menurun drastis. Harga kopipun jatuh sejatuh-jatuhnya. Padahal bulan Mei-Juni ini sedang panen raya. Para petani kopi-pun kebingungan menjual hasil panennya.

“Harga cherry (buah matang) Arabica saat ini dikisaran 6.000 -8.000. Normalnya 12.000 sampai 16.000/kg. Itupun pasokan kita terbatas dan sulit memenuhi petmintaan pasar yang sangat besar. Sekarang jual murahpun sulit. Sementara petani kita umumnya belum memiliki kemampuan untuk proses pasca panen,” kata Ardiansyah, petani kopi di Sembalun Lawang.

Kini para petani hanya berharap program JPS bisa menjangkau mereka. Setidaknya dari bantuan sosial pemerintah yang dibagikan ke masyarakat ada menyertakan item kopi di dalamnya.

Sayangnya menurut pantauan Kicknews.today sistemnya masih amburadul dan belum tertata. Sehingga banyak produk dari petani atau IKM yang belum terserap dengan baik.

“Karena mungkin butuhnya cepat, sementara dinas-dinas terkait tidak punya data base yang bagus sehingga diserahkan ke pihak ketiga. Di sisi lain banyak IKM kita yang meskipun punya produk bagus tapi belum memiliki IRT misalnya. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan pengadaan untuk bantuan sosial itu kelihatan amburadul,” kata Syamsul Anwar dari Pemuda NW.

Lantas bagaimana bisa keluar dari kemelut akibat pandemi covid ini?

“Sebenarnya permintaan kopi masih sangat tinggi. Sosial/physical distancing memang membuat banyak gerai tutup, tapi konsumsi kopi di rumah-rumah meningkat tajam. Masalahnya pasokan kopi kita sebenarnya memang terbatas. Sehingga celah ini dimanfaatkan oleh pabrikan dengan kopi sasetan,” jelas Paox Iben.

“Ini justru saatnya pemerintah mulai menata bisnis kopi dari hulu hingga hilir. Sehingga pasca Pandemi nanti kita sudah benar-benar siap. Misalnya, kenapa tidak pemerintah membagi bibit kopi gratis untuk masyarakat/petani, kemudian membuat pelatihan enterpreneurship, barista, roastery dll. Mumpung lagi banyak orang nganggur. Ajak menanam dan bikin pelatihan-pelatihan. Kasih juga bantuan alat-alatnya, dari mesin pengupas kopi, pemanggang hingga pembuatan produk kemasan. Jadi kita bisa bikin loncatan kedepannya. NTB bisa menjadi produsen kopi yang diperhitungkan. ” tambah pria gimbal ini. (ibn)


Like it? Share with your friends!

294 shares

What's Your Reaction?

Sedih
0
Sedih
Takut
0
Takut
Marah
0
Marah
Senang
0
Senang
Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi
0
Terinspirasi
Bangga
0
Bangga
Terkejut
0
Terkejut

Komentar

Komentar

Share via
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Send this to a friend