duh, Kekerasan terhadap Anak di NTB meningkat

2 min


11 shares

kicknews.today – Pandemi Covid-19 tak hanya menimbulkan permasalahan kesehatan saja, sosial dan perekonomian semata, namun merambat ke permasalahan kekerasaan perempuan dan anak.

Ketua TP PKK NTB Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah mengatakan di wilayah provinsi NTB sendiri angka kekerasan pada anak dilaporkan meningkat. Hingga triwulan ke dua 2020, peningkatan tersebut tercatat sebesar 12 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Untuk itu, Pemerintah Provinsi NTB menyusunan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Penyelenggaraan Sistem Perlindungan Anak.
“Semoga rapat ini bisa menghadirkan Peraturan Gubernur yang rinci sehingga seluruh hak-hak anak dapat terpenuhi dan terlindung dari kekerasaan,” harap bunda Niken saat memimpin rapat, Kamis (25/6).

Ditambahkannya, dalam menyelesakakan kasus permasalahan anak dibutuhkan sistem penanganan dan pencegahan yang baik. Agar pemerintah dan NGO serta pemerhati anak dapat bekerja secara koordinatif, fokus, dan tepat sasaran.

“Jika memiliki pedoman dalam hal ini Pergub akan lebih mudah menentukan langkah untuk menyelesaikan permasalahan,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Hj. Putu Selly Andayani menjelaskan, data kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mencatat berdasarkan data SIMFONI PPA, pada 1 Januari – 19 Juni 2020 telah terjadi 3.087 kasus kekerasan terhadap anak.

“852 kekerasan fisik, 768 psikis, dan 1.848 kasus kekerasan seksual,” terangnya.

Selly melanjutka, kasus kekerasan anak saat pandemi virus Corona (Covid-19) meningkat dikarenakan anak diliburkan sekolah. Sehingga anak menghabislan lebih banyak waktu di rumah. Dimana dalam konteks kekerasan rumah tangga, ketika banyak di rumah dapat meningkatkan stres bagi orangtua dan anak.

“Hal ini yang memicu terjadinya kekerasan,” tambahnya.

Tak hanya itu, kat Selly permasalahan anak lainnya juga diperkirakan lebih banyak terjadi saat anak tidak bersekolah. Seperti penyalahgunaan gadget atau kenakalan remaja dikarenakan kurangnya perhatian orangtua. Untuk itu, Peraturan Gubernur terkait Penyelenggaraan sistem Perlindungan Anak dapat segera diselesaikan, dinas Pendidikan NTB dapat segera membuka kembali sekolah yang tentunya dengan protokol Covid-19 yang ketat. .

“Dinas Pendidikan bisa mulai membuat sekolah percontohan selama masa Covid-19,” tutupnya (Oni)


Like it? Share with your friends!

11 shares

What's Your Reaction?

Sedih
0
Sedih
Takut
0
Takut
Marah
0
Marah
Senang
0
Senang
Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi
0
Terinspirasi
Bangga
0
Bangga
Terkejut
0
Terkejut

Komentar

Komentar

Share via
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Send this to a friend