kicknews.today – Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Utara (KLU), dr. Bahruddin mengimbau seluruh tenaga kesehatan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus Nipah. Hal tersebut disampaikan menyusul adanya laporan kasus virus tersebut di sejumlah negara Asia Tenggara dengan tingkat kematian yang tergolong tinggi.
Menurut dr. Bah, Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan seluruh jajaran fasilitas pelayanan kesehatan agar memperkuat sosialisasi dan deteksi dini terhadap virus Nipah. Meski hingga kini belum ada laporan kasus di wilayah Lombok Utara, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan.

“Dari Kementerian Kesehatan, kami diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama kepada tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan agar terus melakukan sosialisasi terkait virus Nipah. Memang terdengar asing bagi sebagian masyarakat, tetapi faktanya di Asia Tenggara sudah ada kasus, dan angka kematiannya cukup tinggi,” ujarnya, Rabu (18/02/2026).
Dia menjelaskan, virus Nipah pertama kali diidentifikasi di Malaysia dan dikenal sebagai penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Gejala awal infeksi virus ini, kata dia, sekilas menyerupai COVID-19, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan. Dalam kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi radang otak (ensefalitis) yang berisiko fatal.
Penularan virus Nipah umumnya terjadi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar pemakan buah. Buah-buahan yang telah digigit atau terkontaminasi air liur kelelawar berpotensi menjadi media penularan.
“Penularannya bisa melalui kelelawar buah. Kami mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi buah yang sudah digigit kelelawar. Buah harus dicuci bersih sebelum dimakan atau diolah,” tegasnya.
Selain itu, virus Nipah juga dapat menular melalui hewan ternak seperti babi dan kambing. Bahkan, dalam kondisi tertentu, penularan antarmanusia dapat terjadi melalui droplet atau percikan saluran pernapasan.
Karena itu, dr. Bah menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tengah masyarakat. Ia mengingatkan warga yang mengalami gejala demam, batuk, atau pilek untuk menggunakan masker guna mencegah potensi penularan.
“Kalau mengalami batuk, pilek, atau demam, sebaiknya gunakan masker. Terapkan PHBS dengan rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, dan memastikan buah dicuci sebelum dikonsumsi,” ujarnya.
Dia juga menyoroti kelompok pekerja di sektor peternakan sebagai kelompok rentan. Para peternak dan pekerja yang bersentuhan langsung dengan hewan disarankan menggunakan alat pelindung diri (APD) untuk meminimalkan risiko penularan.
Dinas Kesehatan KLU, akan terus memantau perkembangan informasi dari Kementerian Kesehatan serta memperkuat edukasi kepada masyarakat. Ia berharap masyarakat tidak panik, namun tetap waspada dan disiplin menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan utama.
“Kita tidak perlu panik, tetapi harus waspada. Pencegahan itu kuncinya ada pada perilaku hidup bersih dan sehat,” tutupnya. (gii)


