kicknews.today – Hasil rukyatul hilal pada Selasa, 17 Februari 2026, menunjukkan bulan sabit penanda awal Ramadan 1447 Hijriah belum terlihat di sejumlah lokasi pemantauan di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat.
Di NTB, pemantauan dilakukan oleh BMKG Stasiun Geofisika Mataram bersama Kementerian Agama. Hasilnya menunjukkan posisi hilal masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam.

“Tinggi hilal minus 1,268 derajat dan elongasi 1,208 derajat. Dengan posisi tersebut, hilal secara astronomis tidak bisa teramati secara jelas pada 17 Februari 2026,” demikian disampaikan Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan dalam keterangannya.
Data tersebut memperkuat hasil pemantauan di daerah lain. Di Makassar, tim dari BMKG Wilayah IV Makassar juga menyampaikan bahwa hilal tidak terlihat karena posisi bulan tenggelam lebih dahulu dibandingkan matahari.
Secara nasional, berdasarkan data hisab yang dirilis BMKG, posisi hilal pada 17 Februari 2026 memang masih negatif di sebagian besar wilayah Indonesia. Artinya, secara teori dan geometri astronomi, bulan sabit pertama Ramadan belum memenuhi kriteria visibilitas.
Pemantauan hilal dilakukan di 37 titik di seluruh Indonesia sebagai bagian dari dukungan data ilmiah untuk sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Meski hasil pengamatan hari pertama menunjukkan hilal belum terlihat, proses penentuan awal Ramadan belum berakhir. Pengamatan lanjutan akan kembali dilakukan pada Rabu, 18 Februari 2026.
Keputusan resmi mengenai penetapan 1 Ramadan 1447 H akan diumumkan pemerintah setelah seluruh laporan rukyatul hilal diverifikasi dan dipadukan dengan data perhitungan astronomi dalam sidang isbat.
Untuk sementara, Ramadan belum dimulai hari ini. Indonesia masih menunggu keputusan resmi pemerintah. (red.)


