kicknews.today – Sebanyak 29 siswa sekolah dasar (SD) di Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU), diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlokasi di Desa Malaka.
Kepala Dinas Kesehatan KLU, dr. Bahruddin, membenarkan adanya kejadian tersebut. Dia mengatakan, laporan diterima dari tim surveilans Dinas Kesehatan bersama petugas puskesmas setempat.

“Memang betul kami dari Dinas Kesehatan, khususnya bidang surveilans bersama teman-teman puskesmas, menerima laporan adanya kejadian keracunan makanan pada anak sekolah di Kecamatan Pemenang, Desa Malaka. Dari laporan yang masuk, ada sekitar 29 anak dari tiga SD yang terdampak,” ujar dr. Bah, Kamis (12/02/2026).
Meski demikian, ia memastikan seluruh siswa telah mendapatkan penanganan medis dan dalam kondisi membaik. Penanganan dilakukan di puskesmas dan tidak ada yang harus dirujuk ke rumah sakit.
“Alhamdulillah penanganannya sudah 100 persen. Semua cukup ditangani di puskesmas, tidak ada yang dirujuk ke rumah sakit. Saat ini 29 anak tersebut sudah pulang,” jelasnya.
Terkait penyebab pasti dugaan keracunan, Dinas Kesehatan masih menunggu hasil uji laboratorium. Sampel makanan telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan (Labkes) serta Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Sampel makanan sudah kami kirim ke Labkes dan juga ke BPOM. Nanti kita tunggu hasil pemeriksaannya,” tegasnya.
Berdasarkan gejala yang muncul, para siswa mengalami mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan. Namun, pihaknya belum dapat memastikan apakah gejala tersebut murni disebabkan oleh makanan yang disajikan dalam program MBG.
Adapun menu yang disajikan saat itu antara lain ayam tumis dan oseng wortel, serta beberapa jenis lauk lainnya. Dapur MBG di Desa Malaka, menurut dr. Bahruddin, telah memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS). Dari sisi lingkungan, dinilai relatif aman. Meski begitu, kemungkinan faktor lain seperti proses pengolahan dan penyajian masih perlu didalami.
“Kita tidak tahu apakah dalam proses pengolahan atau penyajiannya ada hal yang menyebabkan ini terjadi. Itu yang masih kita dalami sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan KLU akan meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di lapangan. Ia menegaskan, pihak puskesmas terutama tenaga gizi diminta aktif melakukan pemantauan terhadap kualitas dan keamanan sajian makanan.
“Program MBG ini merupakan program Presiden, sehingga harus kita laksanakan dengan baik. Kami sudah sampaikan kepada teman-teman gizi di puskesmas agar lebih aktif turun melakukan pengawasan terhadap sajian makanan,” tutupnya. (gii)


