kicknews.today – Upaya peningkatan literasi di Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam memenuhi target nasional indeks minat baca. Meski demikian, capaian literasi daerah ini menunjukkan perkembangan positif dengan nilai indeks di atas angka enam.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan KLU, Rusdianto, mengungkapkan bahwa capaian tersebut patut diapresiasi, namun tantangan ke depan justru terletak pada upaya mempertahankan dan meningkatkan minat baca masyarakat.

“Kita memang belum bisa memenuhi target nasional, tapi nilai kita sudah di atas enam. Tantangannya sekarang bagaimana mempertahankan indeks minat baca itu di tahun-tahun berikutnya,” ujar Rusdianto, Selasa (06/01/2026).
Dia menegaskan, mempertahankan budaya gemar membaca membutuhkan kerja keras dan dukungan anggaran yang memadai. Namun, kondisi fiskal daerah saat ini masih terbatas, sehingga memaksa instansinya untuk mencari alternatif lain agar program literasi tetap berjalan.
“Dalam kondisi anggaran terbatas, kita tidak bisa bergerak sendiri. Kita butuh kolaborasi dengan pemerintah desa, lembaga-lembaga lain, termasuk teman-teman media untuk terus menyosialisasikan pentingnya gemar membaca dan peningkatan literasi masyarakat,” katanya.
Terkait program perpustakaan keliling, Rusdianto menyebut layanan tersebut sempat berjalan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, pada tahun ini operasionalnya masih terkendala minimnya anggaran akibat adanya pergeseran alokasi dana.
“Dari awal tahun sampai sekarang, anggaran untuk perpustakaan keliling masih sangat minim. Kita melihat kembali kondisi keuangan daerah,” jelasnya.
Selain itu, keterbatasan juga terlihat pada koleksi buku. Idealnya, jumlah koleksi perpustakaan mencapai 40 persen dari jumlah penduduk. Namun saat ini, Perpustakaan Lombok Utara baru memiliki sekitar 15 ribu judul buku.
“Itu masih sangat kurang dan menjadi pekerjaan rumah bagi kami,” ujar Rusdianto.
Sebagai alternatif, pihaknya mulai mengembangkan layanan buku elektronik dan pojok baca digital. Beberapa fasilitas tersebut sudah tersedia, salah satunya di Kecamatan Kayangan, serta di sejumlah desa.
“Kita ingin ke depan di fasilitas-fasilitas umum ada pojok baca digital. Tapi sekali lagi, ini sangat tergantung pada dukungan anggaran,” katanya.
Rusdianto juga mengungkapkan bahwa usulan anggaran untuk penguatan literasi sebenarnya telah disampaikan. Namun, kondisi keterbatasan anggaran tidak hanya dialami Dinas Arsip dan Perpustakaan, melainkan hampir seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).
“Pagu anggaran kita saat ini lebih banyak untuk membiayai kebutuhan rutin. Bahkan untuk operasional kendaraan saja masih terbatas. Kita punya dua mobil pelayanan dan dua mobil operasional pejabat, tapi baru satu yang bisa dibiayai,” tutupnya. (gii/*)


