Oleh: Andi Fardian, M.A
Saya geleng-geleng kepala melihat persaingan tidak sehat ini. Mahasiswa kutip tulisan Dosen A, tapi karena Dosen B, yang jadi pembimbing ini, ada friksi dengan Dosen A, mahasiswa disuruh hapus citasi tersebut. Ini orang-orang dewasa yang kekanak-kanakan. Gelar akademik yang disandangnya tidak mampu membuat mereka berpikir dewasa.

Belum lagi ada dosen yang saling sinis pada kolega dosennya di satu prodi lantaran si dosen junior cepat mencapai guru besar. “Ah, dia ‘kan dibantu, makanya cepat gubes,” katanya dengan sewot. Lah, seharusnya Anda senang ada kolega yang cepat jadi gubes, tapi, kok, ini sinis dan sewot. Betapa ribetnya ternyata atmosfer kampus. Tentu saja tidak semua kampus. Tapi pasti ada lah ya di kampus Anda. Kalau Anda mengatakan tidak ada, ya, keterlaluan.
Belum lagi yang bersaing dan saling ngomog di belakang dengan membandingkan skor Sinta. Skor Sinta saya lebih tinggi dari dia, kata Dosen C terkait Dosen D. “Dia malas meneliti,” lanjutnya. Skor Sinta saja yang benda mati itu bisa menyulut persaingan tidak sehat.
Belum lagi persaingan menjadi penulis buku. “Nama saya harus jadi penulis pertama dan muncul di cover buku. Nama dosen ini jadi tim saja,” kata Dosen E. Saya baru tahu ternyata seribet ini urusan posisi nama di penulisan buku. Makanya, kalau menulis buku, usahakan sendiri saja.
Belum lagi ada dosen yang melarang keras mahasiswa mengutip buku yang ditulis oleh kolega dosen sekampus. “Kalian jangan kutip buku ini. Cari yang buku luar negeri saja,” kata Dosen F. Secara tidak langsung ia merendahkan kualitas buku yang ditulis oleh koleganya.
Belum lagi sentimen antardosen pada penulis artikel. Para pembimbing tidak ada yang mengalah ingin jadi penulis pertama pada artikel bikinan mahasiswa. Kok, ribet sekali. Artikelnya dibuat sendiri, pakai dana pribadi, Anda mau apa kan saja artikel itu, gak ada yang sewot.
Belum lagi ada urusan klaim dan tinggal caplok karya kolega. “Karena dekan, dia langsung titip nama di tulisan ini,” kata Dosen G. Tapi, komplainnya di belakang. Dosen G makan hati, tapi dia gak punya nyali melawan dekan.
Ternyata seribet ini ya. Saya yang lihat, kok, jadi pusing. Hidup yang sekali ini, kok, diisi dengan hal-hal yang tidak sehat. Betapa kuatnya kapitalisme membawa pengaruh buruk bagi sisi gelap di kampus. Maafkan saya kapitalisme. (*)


