kicknews.today – Inovasi menyulap lahan kering menjadi pusat pertanian produktif berbasis kurma dan kacang Sacha Inchi mengantarkan Ukhuwah Datu Nusantara meraih penghargaan Innovative Government Award (IGA) 2025 dari Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB). Inovasi ini dinilai mampu mendorong kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat posisi NTB sebagai provinsi inovatif di tingkat nasional dan global.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas terobosan Ukhuwah Datu Nusantara dalam mengembangkan sistem perkebunan kurma dengan pola tumpang sari Sacha Inchi, yang terbukti adaptif di lahan kering serta memberikan nilai ekonomi berkelanjutan bagi petani, khususnya di Kabupaten Lombok Utara.

Pendiri Ukhuwah Datu Nusantara, Arif Munandar atau yang biasa disapa Wak Dolah, menyampaikan bahwa penghargaan ini tidak dipandang sebagai pencapaian yang patut dibanggakan semata, melainkan sebagai amanah besar yang harus dipikul bersama.
“Penghargaan ini bisa kita katakan innalillahi wainnailaihi rojiun. Ini bukan sesuatu yang kita banggakan, tapi beban berat yang harus dipikul. Semakin tinggi nama, semakin besar tanggung jawabnya. Ini menjadi pemicu semangat bagi seluruh penggiat kurma dan Sacha Inchi, khususnya di Lombok Utara,” tegasnya, Senin (15/12/2025).
Wak Dolah menambahkan, penggunaan istilah tersebut menjadi pengingat agar seluruh penggiat tidak terlena oleh capaian, melainkan terus bekerja dan menjaga amanah di bawah kepemimpinan Ukhuwah Datu Nusantara.
Sementara, Direktur Utama Ukhuwah Datu Nusantara, Suharman menyebut penghargaan ini sebagai bentuk kepercayaan negara terhadap kontribusi masyarakat NTB dalam menghadirkan inovasi nyata.
“Kami merasa terapresiasi karena telah diberi kepercayaan membantu NTB menjadi salah satu provinsi terinovatif di Indonesia. Melalui kurma dan Sacha Inchi, kami fokus menciptakan lapangan kerja dan memastikan ekonomi masyarakat bawah berkelanjutan, baik secara kapasitas hukum maupun hilirisasi,” jelasnya.
Suharman memaparkan, inovasi yang dikembangkan berupa perkebunan kurma tumpang sari dengan Sacha Inchi. Kurma mulai berbuah pada usia lima hingga enam tahun, sementara Sacha Inchi sudah dapat dipanen sejak bulan ketujuh dan berproduksi rutin setiap pekan. Skema ini memungkinkan petani memperoleh penghasilan sejak dini sambil menunggu kurma berbuah.
Tak hanya itu, Ukhuwah Datu Nusantara juga telah memastikan kepastian pasar hilirisasi Sacha Inchi melalui kontrak kerja sama berkekuatan hukum tetap selama 15 hingga 20 tahun antara petani dan pabrik pengolah. Pola kerja sama yang diterapkan menggunakan sistem nyakab atau bagi hasil, sehingga tanah masyarakat tetap terjaga dan tidak berpindah kepemilikan.
“Marwah masyarakat tetap terjaga, tanah tidak terjual, tetapi secara finansial hasil kebun tetap mereka nikmati,” ujarnya.
Dari sisi produk, hasil olahan kurma dan Sacha Inchi telah masuk kategori super food. Berbagai produk turunan seperti kurcoki (kurma coklat Sacha Inchi), kue omega, hingga minyak Sacha Inchi tengah dikembangkan. Untuk skala besar, Ukhuwah Datu Nusantara menargetkan ekspor minyak Sacha Inchi ke Malaysia dan Taiwan pada 2027, yang telah didukung kontrak dengan pembeli internasional.
Dikatakan Suharman, saat ini pengolahan Sacha Inchi masih bekerja sama dengan pabrik di Kabupaten Dompu. Namun ke depan, jika kuota produksi mencapai 2.000 hektare di Pulau Lombok, pabrik pengolahan direncanakan akan dibangun di Lombok Utara. (gii/*)


