Dikejar deadline, proyek HLD Renggung–Rutus 45 miliar terkendala cuaca

Tampak proyek revitalisasi atau rehabilitasi saluran High Level Diversion (HLD) Renggung–Rutus di Kecamatan Kopang, Loteng. (Foto. kicknews today/Ist)

kicknews.today – Proyek revitalisasi atau rehabilitasi saluran High Level Diversion (HLD) Renggung–Rutus di Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), yang dikerjakan PT Melindo dengan nilai anggaran lebih dari Rp45 miliar, diklaim masih berjalan sesuai kontrak dan tidak mengalami kemoloran. Meski demikian, proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut kini berpacu dengan waktu menjelang batas akhir pekerjaan pada Desember 2025.

Cuaca hujan dengan intensitas tinggi menjadi tantangan utama yang berdampak langsung pada progres pekerjaan di lapangan. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi mutu hasil pekerjaan jika tidak ditangani secara maksimal.

Lombok Immersive Edupark

“Kami terkendala cuaca hujan, sehingga pekerjaan menjadi terhambat. Tidak mungkin bekerja optimal saat hujan. Kondisi ini juga merugikan kami, bukan hanya dari sisi material, tapi juga waktu,” ujar seorang kepala tukang yang mengaku sebagai subkontraktor pada proyek HLD tersebut, Sabtu (13/12/2025).

Pantauan di lokasi proyek menunjukkan para pekerja tengah melakukan perbaikan pada sejumlah titik longsoran yang terjadi setelah pengerukan sedimen saluran. Curah hujan yang tinggi juga disebut memperlambat pengerjaan pada item beton, khususnya pada saluran dan jalan inspeksi.

Pelaksana Teknis Lapangan proyek HLD, I Made Adnyana Nala, ST, MT, mengakui bahwa cuaca menjadi faktor utama yang menghambat pekerjaan. Meski demikian, ia tetap optimistis proyek dapat diselesaikan sesuai batas waktu kontrak.

“Memang terdapat beberapa titik yang mengalami sliding atau longsoran setelah pengerukan sedimen, sehingga membutuhkan treatment khusus. Hal ini turut menghambat pekerjaan beton jalan inspeksi karena kami harus menyelesaikan penanganan longsoran terlebih dahulu,” jelas Nala.

Dia menambahkan, upaya percepatan sebenarnya telah dilakukan sejak dua bulan terakhir. Namun cuaca yang tidak menentu membuat efektivitas pekerjaan di lapangan menjadi terbatas.
Selain faktor cuaca, kendala teknis lain juga dihadapi, terutama keterbatasan pasokan beton ready mix dari vendor. Tingginya permintaan beton dari berbagai proyek yang berjalan bersamaan di akhir tahun membuat vendor kewalahan memenuhi kebutuhan.

“Kami mencoba mengimbangi dengan menambah jam kerja atau over time di lapangan,” ungkapnya.

Nala juga menyebutkan bahwa material alam seperti batu dan pasir mulai sulit diperoleh, seiring banyaknya proyek baru yang berjalan, termasuk program Instruksi Presiden (Inpres). Kondisi serupa juga terjadi pada ketersediaan tenaga kerja terampil.

Saat ditanya mengenai persentase progres pekerjaan hingga saat ini, Nala enggan memberikan keterangan. Menurutnya, hal tersebut menjadi kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS) sebagai penanggung jawab proyek.

“Saya hanya menyampaikan kondisi di lapangan. Untuk progres pekerjaan menjadi ranah BWS,” tegasnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, pihak pelaksana menegaskan komitmennya untuk menuntaskan proyek tepat waktu. “Kami di lapangan berupaya semaksimal mungkin agar pekerjaan ini bisa diselesaikan hingga batas kontrak berakhir,” tutup Nala. (/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI