Oleh: Andi Fardian, M.A
Setiap tahun saya menulis esai kritis terkait kualitas pendidikan NTB yang rendah dan kurang mampu bersaing secara nasional (demi sedikit kesopanan dan agar dinilai bijak, saya menahan diri untuk tidak mengatakan “tidak mampu bersaing”). Spesifiknya adalah kualitas SMA dan SMK. Kita memang berkualitas, tetapi kualitas tersebut masih sebatas kualitas jago kandang. Kualitas jago kandang itu artinya kita merasa hebat di daerah kita sendiri, tapi ketika keluar kita tidak ada apa-apanya.

Ini salah satu bukti bahwa kualitas pendidikan menengah kita perlu mendapatkan perhatian lebih. Dalam O2SN, NTB tidak terlihat. Bali dan NTT yang notabene tetangga masuk dalam papan skor.
Saya percaya NTB memiliki talenta-talenta hebat, siswa-siswa yang memiliki bakat dalam bidang olahraga. Pertanyaannya: seberapa jauh sekolah dan pemerintah melatih, membimbing, dan memaksimalkan potensi itu? Seberapa efektif anggaran pendidikan dipakai untuk ini?
Kendati ini klasemen sementara, hasil akhirnya tidak akan jauh-jauh dari ini. Ayolah, ke mana larinya dana-dana pendidikan yang besar di NTB itu?
Karena itu, kalau datang studi tiru ke Jawa Tengah, DIY, atau Jawa Timur, jangan formalitas saja atau cepat-cepat ingin jalan-jalan lihat Candi Prambanan atau Candi Borobudur. Coba lebih fokus dan tiru manajemen sekolah-sekolah di sini dalam mengembangkan bakat-bakat siswa. Ayolah. Tiru praktik baiknya. Tiru dan catat pengelolaan anggarannya. Lihat manajemen talenta siswanya. Semua dicatat.
Dalam hal ini, pemerintah provinsi dan daerah tidak boleh alergi dan anti terhadap kritik, lalu sibuk mencari pembenaran atas rendahnya kualitas pendidikan di NTB. Giliran disebut mental jago kandang, tersinggung. Tapi giliran diberi fakta begini, diam 5.000 bahasa.
Ayo, para tim sukses gubernur dan bupati, justru dalam hal-hal yang begini kalian harus kritis pada bos-bos Anda. Jangan memuji terus. Kalau dipuji terus, nanti bos kalian menganggap di NTB tidak ada masalah. Kalau bisa, yang suka menjilat, kurang-kurangi menjilat. Sebab, puja-puji dan jilatan lambat laun akan menggerogoti kepemimpinan dan pembangunan di NTB. *
