kicknews.today – Viral video pengakuan seorang wisatawan perempuan di tiktok yang mendapat perlakuan ‘Catcalling’ saat berkunjung ke Gili Trawangan Lombok Utara. Baru sampai di Pelabuhan Gili Trawangan dan ada banyak yang melakukan catcalling kepadanya oleh orang-orang yang tidak dikenalnya.
“Catcallingnya sudah luar biasa. Bahkan baru nyampe pelabuhan , itu udah banyak banget catcalling,” katanya dalam video tersebut.

Dirinya mengaku emosi bahkan jika mengingatnya kembali kejadian itu sampai saat ini. “Gua beneran marah, gua gak akan kembali lagi ke Gili Trawangan itu,” katanya.
Kejadian itu menuai perhatian banyak pihak. Terutama Indonesia Tourism Strategist, Taufan Rahmadi menanggapi terkait beredarnya video Catcalling di Gili Trawangan.
Menurutnya, hal ini sebagai bentuk keluhan dari seorang wisatawan yang harus ditanggapi secara bijak oleh para pemangku kebijakan dan pelaku wisata di Gili Trawangan. Taufan Rahmadi mengaku, sudah melihat respon cepat dari Pemerintah Provinsi NTB yang melakukan koordinasi dengan jajaran Pemkab Lombok Utara dan para pelaku wisata di 3 Gili untuk membicarakan langkah-langkah nyata dalam menanggapi hal ini.
“Keluhan ini harus ditelusuri asal usulnya agar publik mengerti duduk perkara sebenarnya. Lalu jika memang ada oknum yang benar melakukan hal-hal yang membuat wisatawan merasa tidak nyaman, para pemangku awig-awig desa ataupun pejabat terkait melakukan teguran sekaligus pembinaan kepada oknum-oknum tersebut,” tegasnya.
Taufan Rahmadi berkeyakinan bahwa masyarakat di Gili adalah masyarakat yang ramah dan memahami bagaimana harus berperilaku yang santun kepada wisatawan. Terlebih selama ini masyarakat di Gili sangat bergantung pada sektor pariwisata.
“Jadi sangat tidak mungkin mereka akan merusak periuk tempat mereka mengais rejeki,” akunya.
Hikmah peristiwa ini menurut Taufan, adalah menjadi momentum bagi masyarakat dan pemerintah untuk melakukan langkah-langkah solusi terkait Gili. Pertama, lakukan konsolidasi antar stakeholder pelaku pariwisata di Gili. Perkuat awig-awig yang menyesuaikan dengan kondisi terkini pasca pandemi.
Kemudian, penguatan kelembagaan DMO Gili yang bisa menjadi cikal bakal pembentukan Badan Otoritas Pengelola Wisata Tiga Gili, yang bertugas bersama menyepakati segala aturan- aturan terkait manajemen destinasi. Mulai pengaturan masuk wisatawan, manajemen sampah, SOP mitigasi dan sebagainya.
“Tidak kalah penting yakni, membuka Gili Hotline, untuk menjadi media komunikasi 24 jam bagi para wisatawan disaat mereka ingin mengadukan keluhan-keluhan yang mereka rasakan selama berwisata di Gili,” harap Taufan Rahmadi. (jr)


