kicknews.today – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat. Tidak terkecuali nelayan. Mereka mengaku kenaikan harga BBM mencekik masyarakat kecil.
“Sebelum kami berharap harga BBM tidak naik, tapi pupus,” H Jalil, 64 tahun seorang nelayan di Pulau Maringkik, Lombok Timur, Minggu (4/9).

Kenaikan harga BBM subsidi juga kata H Jalil sangat signifikan. Harga Pertalite dari Rp7.650 jadi Rp10 per liter. Tentu kondisi ini membuat para nelayan dilema.
“Harga BBM naik, tapi disatu sisi harga ikan tidak berubah,” katanya.
Meski harga BBM naik, para nelayan hanya bisa pasrah. Mereka juga tidak bisa berbuat banyak pasca penetapan kenaikkan harga BBM oleh pemerintah.
“BBM sudah diputuskan naik, kami mau bilang apa lagi. Yang jelas kami tetap susah kalau kebijakannya terus-menerus seperti ini,” sesal H Jalil.
Ia mengatakan, rata-rata nelayan di Pulau Maringkik mencari ikan di Sumbawa, Dompu hingga Pulau Sumba dengan kebutuhan BBM yang cukup banyak. Bahkan untuk mendapatkan BBM dipersulit, harus antri lama.
“Mau isi BBM harus antri beberapa Minggu baru bisa melaut,” akunya.
H Jalil berharap, kenaikan harga BBM ini bisa ditinjau kembali oleh pemerintah. Paling tidak, harganya tidak memberatkan para nelayan dan masyarakat.
“Kebutuhan satu kapal rata-rata 25 jerigen. Tentu kami harus mengeluarkan uang banyak. Jika tidak diimbangi dengan kenaikan harga ikan, jelas rugi,” pungkasnya.
Hal senada juga disampaikan, Sahibun Nelayan asal Maringkik. Dia mengaku masih bingun dan dilema dengan naiknya harga BBM. Yang pasti, ia harus merogoh kocek uang lebih banyak lagi untuk bisa mendapatkan BBM kebutuhan melaut. “Kalau harga ikan tidak ikut dinaikkan, kami rasa tidak adil. Pasti rugi,” katanya. (cit)


