kicknews.today- Seorang ibu guru bernama Erni yang mengabdi puluhan tahun di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nunggi Kecamatan Wera Kabupaten Bima, dipecat. Pemecatan itu diduga lantaran beda pilihan saat Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) beberapa waktu lalu.
Mirisnya, pemecatan tidak melalui pemanggilan atau surat pemberitahuan resmi. Tapi lewat pesan singkat WhatsApp. Erni mengaku, menerima pesan itu pada 17 Juli 2022 sekitar pukul 20.25 Wita. Dia langsung kaget membaca pesan dari Kepala Sekolahnya tersebut.

“Assalamualaikum, banyak maaf Ibu Erni untuk semester ini tidak ada jamnya karena siswa kita sangat kurang dan kelasnya juga sudah dikurangi, lemboade,” isi pesan singkat Kepala Sekolah MTs Nunggi, Abdul Munir. Pesan itu dikirim oleh Erni kepada sejumlah wartawan, Rabu (20/7).
Erni tidak tahu penyebab hingga ia dipecat. Padahal ia merasa tidak pernah berbuat salah.
“Tapi saya menduga ini berkaitan dengan Pilkades,” katanya.
Sebelumnya, Kepsek sempat meminta Erni untuk mencoblos satu pasangan Calon Kepala Desa (Cakades) di desa setempat. Erni juga diberitahu, cara mencoblos agar bisa dibedakan dengan orang lain, hingga kemudian difoto dan dikirim kepada sang Kepsek hasil coblosan tersebut sebagai bukti.
“Jadi saya diarahkan, nyoblosnya pada bagian apa dan dua titik. Biar beda dengan yang lain. Terus harus difoto dan dikirim. Pesan itu dikirim tanggal 5 Juli,” bebernya.
Namun Erni tidak mengikuti apa arahan kepala sekolah tersebut, karena merasa memilih Cakades adalah hak demokrasinya.
Kemudian pada tanggal 15 Juli lanjut Erni, ada rapat pembagian tugas dewan guru yang seharusnya melibatkan semua tenaga pengajar dan biasanya di share melalui WAG sekolah. Namun kali ini hanya dihubungi secara perorangan oleh pihak sekolah dan dia tidak mendapat pemberitahuan tentang itu.
“Hingga akhirnya saya dapat pesan singkat tidak dapat jam ngajar itu,” tandasnya.
Ia mengaku, sudah mengabdi di MTs Nunggi hampir 10 tahun. Bahkan beberapa tahun setelah mengajar pada tahun 2002, Erni langsung diangkat menjadi Wali Kelas.
Selama mengabdi di MTs Nunggi, tidak ada hal-hal yang merugikan atau melanggar aturan yang dilakukan. Setiap tahun ajaran baru, dirinya tetap mencari siswa untuk didaftarkan di sekolah tersebut.
“Jika alasannya karena siswa kurang dan kelas dikurangi, kenapa hanya saya saja yang diberhentikan? Guru yang baru-baru masuk, tidak dipecat? Ini yang janggal,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepsek MTs Nunggi Abdul Munir yang dikonfirmasi via ponsel, membantah jika Erni dipecat. Ia juga mengaku, persoalan itu tidak ada kaitan dengan Pilkades.
“Kita tidak mengeluarkan, tetapi non jam untuk satu semester ini. Karena beberapa guru tidak membawa murid baru tuk tahun pelajaran 2022 dan 2023,” jawab Abdul Munir via pesan singkat WhatsApp.
Ia juga mengatakan, keputusan tersebut berdasarkan hasil rapat dewan guru MTs Nunggi pada tanggal 15 Juli 2022.
“InsyaAllah semester genap akan kami panggil untuk ngajar kembali,” tandasnya. (jr)


