Eksotisme Pulau Satonda di Dompu yang terancam tinggal mitos

kicknews.today – Pulau Satonda, Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu menjadi sangat ikonik karena danau air asin di lepas pantai Utara Pulau Sumbawa. Disebut sebut Pulau misterius karena kandungan garam dua kali lipat dari air laut, terdapat strimalit atau biota dasar danau zaman purba yang masih hidup. Pulau dengan mitosnya yang bikin wisatawan semakin penasaran dan tertarik selain sisi indahnya.

Pernah kesohor ketika dikelola investor yang tajir asal Surabaya, Jawa Timur. Lengkap dengan kafe, rental perangkat selam, tak ketinggalan vila harga selangit per malam per kamar dibanderol sampai 2,5 Juta. Sekelas wisatawan lokal hanya bisa geleng geleng kepala mendengar angka sebesar itu. Harga yang menurut investor setimpal dengan keindahan tempat itu. Wisatawan dari seantero mancanegara menjadikan Satonda spot transit. Trip mereka biasanya dari Benoa Bali, Gili Trawangan Lombok Utara.

“Sebelum ke Pulau Komodo NTT biasanya turis transit di sini. Tapi gak nginap. Cuma pagi sampai sore. Diving, snorkeling,” kata Suharto, honorer BKSDA yang ditugaskan mengawasi Pulau itu.

Wisatawan santap bekal yang dibawa di pinggir pantai

Masa masa kejayaan Satonda sejak Tahun 2015 ketika dikelola PT. Ria Sumila yang membangun cottage di pinggir pulau, lengkap dengan berbagai fasilitas di dalamnya, seperti kafe, bar, resto, penyewaan alat snorkeling dan diving. Tapi konon tarif yang tinggi mencapai 2,5 juta per malam membuat pengelolaan fasilitas di sana menjadi sulit berkembang.

Tentu bagi wisatawan asing yang tajir masih terjangkau, tapi jadi masalah untuk yang backpacker-an. Lambat laun, kunjungan merosot di sekitar tahun 2017 sampai tahun 2018. Sebelum pandemi memperburuk keadaan, tempat ini sudah gulung tikar duluan. Alih alih wisatawan asing, tak satu pun nampak ketika penulis sampai di lokasi Minggu (16/8) pagi.

Bangunan mangkrak yang ditinggal investor

Sakinah Devi Fortuna, wisatawan asal Desa Calabai Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu yang tiba bersama rekan sekantornya pagi itu, hanya menikmati naturalnya keindahan pantai dan trumbu karang setelah menempuh 30 menit dari pelabuhan Calabai dengan menyewa perahu motor. Sakinah juga mencoba jalur trekking di ketinggian sekitar 300 mdpl puncak bukit. Melelahkan, tapi terbayar dengan pemandangan danau air asin yang bersumber dari air laut terperangkap saat tsunami dampak letusan Gunung Tambora tahun 1815. “Bikin tenang dan damai lihat pemandangan ini,” Sakinah kagum.

Indahnya danau air asin di Satonda

Putri Prihatiningsih, pengunjung lainnya, kebagian indahnya bawah laut yang trumbu karangnya masih terjaga. Ikan ikan meliuk di antara trumbu karang baginya jadi pemandangan bikin takjub. Matanya hampir tidak berkedip menyaksikan dasar pantai hanya dengan scuba diving mask. “Wow, indah banget,” akunya.

Di luar garis pantai, Penyu juga jadi daya tarik wisatawan, namun bisa dijumpai dengan diving. Pengunjung kepincut dengan mitos yang populer di kalangan masyarakat lokal dan wisatawan domestik, pohon di pinggir danau yang “berbuah” bebatuan. Batu batu itu diikat para pengunjung yang punya nazar tertentu, kemudian dibuka lagi setelah nazar terpenuhi.

Mengikat batu di pohon jadi mitos populer di Satonda

Meski tidak bisa dipercaya sepenuhnya, tapi toh wisatawan berbondong-bondong melakukannya, mentradisi bertahun-tahun. Uniknya, ada bule yang ikutan ikat batu. Namanya Stevani asal Belanda, bertahun tahun menikah namun tak kunjung dikaruniai keturunan. Setelah batu diikat, Stevani bela belain datang lagi untuk membuka ikatan batu itu setelah usia kehamilannya 5 bulan. Mitos yang masih terawat hingga kini.

Jika dihubungkan dengan cerita rakyat, Satonda pulau terlarang atau pulau terkutuk karena tempat pengasingan Puteri Dae La Minga, putri cantik dari Kerajaan Sanggar. Dibuang demi menghindari pertumpahan darah karena diperebutkan banyak pangeran kerajaan lain.

Peneliti menyebut, letusan gunung purba 1000 tahun lalu meninggalkan jejak pulau, seluas 6 kilometer persegi dan membentuk danau seluas 4 kilometer persegi. Danau itu dikelilingi oleh tebing dan bukit yang mencapai ketinggian 300 mdpl. Itulah Pulau Satonda.

Di balik hutannya yang masih terjaga, ada satwa Rusa yang masih berkeliaran, kelelawar hinggap di tebing tebing dan pohon purba. Rusa yang endemik di Satonda di bawah tekanan perburuan liar.

Kekhawatiran itu menggelanyut di perasaan Briptu Lalu Reza Akbar, anggota Sat Polair Polres Dompu, karena pemburu akan terus mencari celah masuk ke Pulau dan mengancam kelestarian hewan dilindungi itu.

“Di sini memang rawan perburuan rusa di bukit bukit Satonda. Kalau di laut, rawan jadi sasaran bom ikan,” ujarnya. Upaya patroli rutin diupayakan dapat mencegahnya.

Setelah ditinggal investor dengan status izin masih dikuasai, Satonda seperti sedang “tersandera”. Mau dikembangkan investor lain, izinnya masih atas nama PT. Ria Sumila. Jika dibiarkan, dikhawatirkan Satonda hanya akan jadi pulau mitos akibat dijauhi wisatawan. Pandemik Covid-19 semakin memperparah keadaan, wisatawan semakin berjarak dengan Pulau eksotik ini. Maka, harus ada solusi untuk investasi lebih serius menyelamatkan Satonda. (red)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI