in

Polres Lombok Tengah Atensi Paham Radikalisme

kicknews.today- Polres Lombok Tengah (Loteng) melalui Binmas dan unit Intelkam terus memberikan imbauan maupun sosialisasi pada masyarakat agar lebih waspada dengan aliran diduga sesat atau paham radikalisme. Hal itu dilakukan karena aliran atau paham tersebut bisa menimbulkan konflik ditengah masyarakat.

Kapolres Lombok Tengah, AKPB Budi Santosa menyatakan, untuk mengantisipasinya paham atau aliran itu,pihaknya terus turun untuk memberi sosialisasi pada masyarakat melalui tokoh agama, tokoh maayarakat, dan kementerian agama, untuk selalu waspada.

“Masyarakat diharapkan terus waspada, jangan sampai ikut gerakan radikalisme atau aliran diduga sesat itu,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya telah menekankan agar Para Ketua RT, RW serta Kepala Dusun agar untuk lebih aktif memantau dan mendata identitas penduduknya, terutama bagi para pendatang guna mewujudkan kamtibmas yang kondusif dan tertib administrasi.

“Kalau sudah dipantau. Bila ada masalah bisa diselesaikan sejak dini. Yang paling penting adalah penduduk pendatang harus wajib lapor ke RT maupun RW jika datang dikampungnya itu,” tegasnya.

Tidak hanya itu, ia meminta agar masyarakat harus mampu menyeleksi jika ada ajakan atau tawaran untuk bergabung dalam sebuah kelompok. Tentunya harus memperhatikan dan mempelajari terlebih dahulu keabsahan dari gerakan atau aliran tersebut.

“Saya berharap, sebagai bangsa yang berada di bawah ideologi pancasila, maka masyarakat di Loteng saling menghormati satu sama lain, namun harus tetap waspada sehingga tercipta lingkungan yang kondusif,” harapnya.

Ia mengaku, sejauh ini, pihaknya melihat wilayah Loteng masih aman dari aliran yang memang dianggap melanggar dan menganut paham radikalsme.

“Selama ini masih belum ada kami temukan ada aliran itu,” jelasnya.

Sementara itu, sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB, H. Saiful Muslim menyatakan, pihaknya masih belum terima laporan tentang adanya aliran diduga sesat di wilayah Loteng. Jika memang ada indikasi aliran diduga sesat itu, pihaknya dari MUI NTB menunggu laporan dari MUI Kabupaten Loteng. Selian itu, pihaknya tetap meminta pada masyarakat untuk berperan aktif melaporkan jika ada menemukan hal tersebut.

“Kalau ada laporkan ke MUI, MUI akan segera menindaklanjuti. Memang sampai saat ini belum ada laporan resmi. Kami masih menunggu bila ada laporan tentang aliran tersebut,” katanya

Ia menyatakan, dalam MUI sendiri memiliki beberapa kriteria untuk menentukan aliran tersebut bisa dapat dikatakan sebagai aliran sesat atau bukan. Karena pihaknya dari MUI tidak langsung memvonis bahwa aliran maupun organisasi yang ada itu sesat.

Untuk menentukan aliran sesat ada 12 kriteria. Adapun kriteria tersebut diantaranya adalah menambah atau mengurangi rukun Islam, menambah mengurangi rukun Iman, mengaku Nabi setelah Nabi Muhammad, tidak mengacu kepada kitab Suci Al-Quran dan tidak mewajibkan shalat 5 waktu dan lainnya.

“Selagi itu tidak ada bolehlah aliran itu adalah aliran-aliran yang kita curigai, tapi itu belum masuk kriteria aliran sesat. MUI pun nanti akan turun dan melakukan kajian,” jelasnya.

Ia mengaku, pada intinya, pihaknya siap menerima laporan dari masyarakat jika memang ada ajaran yang tidak lagi sesuai koridor-koridor akidah yang ada dalam Islam.

“ Karena kalau yang wajib sudah menyimpang itu pasti sesat, kecuali dalam penerapan sunnah-sunnah berbeda itu wajar. Kalau ada laporan akan kita pelajari dan kita bimbing masyarakat,” ujarnya.

Sebenarnya, ajaran sesat tidak hanya ada dalam Islam saja, namun dalam agama lain pun sudah ada ajaran-ajaran yang mulai menyimpang. Hal tersebut ia ketahui dalam rapat bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

“Kita sudah ada rapat, rapat dengan kejaksaan tentang beberapa aliran agama. Tim Pakem namanya. Kita MUI selalu hadir, kita selalu membahas hal menyimpang di masing-masing agama,” pungkasnya. (Ade)