in

Warga Desa Ganti Demo Polres Lombok Tengah

kicknews.today- Puluhan warga Dusun Legu Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, Kamis (6/2) menggelar aksi demo di depan kantor Polres Lombok Tengah. Aksi warga itu untuk mendesak pihak Polres Lombok Tengah membebaskan para pelaku yang ditangkap karena melakukan penganiayaan dan pengerusakan rumah terhadap keluarga terduga dukun santet di dusun setempat.

Dalam aksi itu warga dan anggota Polisi sempat terjadi bentrokan, karena warga memaksa untuk masuk ke halaman Polres Lombok Tengah. Sehingga polisi terpaksa mengamankan lima orang, karena memaksa untuk masuk. Namun aksi bentrokan itu tidak berjalan lama, setelah beberapa warga di suruh bubar oleh tokoh masyarakat dan anggota Polres Lombok Tengah.

“Warga ingin supaya dua orang yang ditangkap itu dibebaskan,” ujar Amaq Anggi Alias Daharudin saat menyampaikan tuntutan warga.

Dijelaskan, bahwa kejadian itu adalah karena ketidak segajaan yang dilakukan oleh masyarakat. Karena warga menduga bahwa Nenek Sumenam dan keluarganya yang rumahnya dibakar itu adalah dukun santet yang membuat seorang kiyai meninggal dunia dengan tidak wajar.

“Memang tidak ada undang-undang masalah dukun santet itu. Namun warga masih percaya dengan ilmu hitam tersebut,” pungkasnya.

Kepala Dusun Legu, Amaq Nursini mengatakan, bahwa awalnya kejadian itu setelah ada korban yang meninggal dunia dengan tidak wajar. Berdasarkan dugaan warga bahwa korban meninggal karena disantet oleh Nenek Sumenam dan keluarganya.

“Informasi awalnya korban meninggal karena di santet. Sehingga warga mencari Nenek Sumenam dan Anaknya. Namuan pada saat itu tidak ada di rumahnya, sehingga warga melakukan pengerusakan dan pembakaran,” pungkasnya.

Wakapolres Lombok Tengah, Kompol Ketut Tamiana yang menerima warga mengatakan, apa yanh dilakukan olah anggotanya dengan melakukan penangkapan itu adalah sesuai fakta dari saksi yang sudah diperiksa. Sehingga kasus ini harus ditindaklanjuti, karena perbuatannya sudah melanggar hukum.

“Kasus ini harus diproses, kalau semuanya berbuat semua warga yang terlibat akan ditangkap,” ujarnya.

Pihaknya juga sangat menyangkan aksi main hakim yang dilakukan oleh warga terhadap korban yang saat ini masih dirawat di rumah sakit, karena mengalami luka yang cukup serius dan terhadap keluarga Nenek Sumenam yang saat ini masih mengamankan di di Polsek Praya Timur.

“Kalau memang betul dia sebagai dukun santet, harus dibuktikan, bisa saja dengan Garap atau lainnya. Jagan main hakim sendiri, bagaimana kalau keluarga kita yang diperlakukan seperti itu apakah akan diterima,” pungkasnya.

“Kami melakukan penangkapan karena memiliki dua alat bukti. Kalau semua warga terbukti melakukan penganiayaan itu, kami juga akan proses sesuai aturan, tambah Kasatreskrim Polres Lombok Loteng ,AKP Rafles P Girsang

Oleh sebab itu pihaknya mengimbau kepada masyarakat yang sudah berbuat untuk menyerah diri dengam baik, kalau tidak pihaknya akan melakukan tindakan tegas.

“Siapa yang berbuat harus bertanggung jawab. Inisial kedua pelaku yang sudah ditangkap itu G (48) dan H (30) warga Dusun setempat,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sebuah rumah milik Nenek Sumeram (60) warga Dusun Legu Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah yang diduga sebagai dukun santet dirusak dan dibakar oleh warga desa setempat, Selasa (4/2) pukul 20.00 wita. Akibat peristiwa itu, dua orang saudara Nenek Sumeram bernama Kamarudin dan Suherman harus di rawat ke rumah sakit karena mengalami luka robek dibagian kepala.

Sedangkan yang di duga korban dukun santet yang dilakukan oleh keluarga Nenek Sumeram yakni Mainsuro (50) yang merupakan Marbot Masjid dan Kiayi Dusun Lagu yang sakit perut membengkak dan meninggal dunia.

Kepala Polsek Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, IPTU Nasrun yang dikonfirmasi membenarkan adanya rumah warga yang diduga dukun santet yang dibakar tersebut.

“Iya betul, warga melakukan pembakaran terhadap rumah Nenek Sumeram yang tinggal bersama anaknya beserta cucunya itu dan merusak bengkel milik Kamarudin yang merupakan saudara dari Nenek Sumirah,” ujar IPTU Nasrun kepada wartawan, Rabu (5/2).

Dijelaskan, kejadian itu berawal saat puluhan warga dari Dusun Legu datang ke rumah Nenek Sumeram dan melakukan penggeledahan dengan maksud mencari Nenek Sumeram dan anaknya bernama Inaq Alus. Namun yang bersangkutan sudah mengamankan diri dan tidak berada di rumahnya.

“Masyarakat melakukan pengeledahan terhadap isi rumah itu, karena menduga keluarga Nenek Sumeram diduga sebagai dukun santet,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, warga yang tidak menemukan keluarga Nenek Sumeram, kemudian warga melakukan pengerusakan dan pembakaran rumah Nenek Sumeram. Saat warga melakukan pembakaran saudara Nenek Sumeram bernama Kamarudin dan Suhirman sempat menanyakan tujuan warga dan permasalahannya serta menghalau warga yang ingin melakukan pengerusakan terhadap rumah itu.

“Namun warga secara tiba-tiba langsung menghakimi dan melakukan penganiayaan terhadap Kamarudin dan Suherman, sehingga kedua korban mengalami luka robek di bagian kepala,” ujarnya.

“Keluarga Nenek Sumeram saat ini sekitar 6 orang sudah mengamankan diri di Polsek Praya Timur untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya. (Ade)