in ,

Simalakama Produksi Jagung dan Kerusakan Hutan Sumbawa

Kiri: Dr. Zulkieflimansyah sedang melakukan sidak kondisi hutan. Kanan: TGB dan Bupati Dompu meninjau lahan jagung

kicknews.today – Pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang menggalakan program penanaman jagung dalam beberapa tahun belakangan ini sejak masa pemerintahan Gubernur TGB. Harga jagung yang bagus, diikuti munculnya gudang-gudang pembelian, bantuan bibit dan bantuan pupuk membuat petani berlomba menanam jagung.

Bahkan jagun asal Nusa tenggara Barat kini sudah diekspor ke berbagai negara seperti Filiphina. Dengan majunya usaha ini tentu produksi jagung terus meningkat, lahan produksi bertambah setiap tahun.

Tetapi peningkatan produksi yang beriringan dengan perluasan lahan itu sebagian merambah kawasan hutan sebagai daerah-daerah tangkapan air. Alhasil, hutan di hulu hilang, membuahkan banjir di hilir.

Pembabatan lahan dilakukan masyarakat bahkan di hadapan Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah ketika sedang melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan Hutan Dompu.

Dia menuturkan kalau para petugas termasuk Polisi Kehutanan (Polhut) Kabupaten Dompu pun tak berdaya menghentikan pengerusakan hutan yang kian masif ini.

“Polisi hutan kita mencegahnya, pak Gub. Tapi ditangkap dan digebukin masyarakat! “, kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Dompu menceritakan kondisi lapangan Kepada Gubernur, Kamis (12/12).

Menanggapi situasi yang kian rumit ini, budayawan dan aktivis lingkungan Paox Iben Mudhaffar mengapresiasi kehadiran Gubernur NTB di lapangan tersebut untuk Melakukan Sidak. Namun menurutnya hal itu harus dibarengi dengan kerja nyata dan stategi kebijakan yang tepat.

“Harus diakui, salah satu pemicu pembalakan hutan secara masif ini kan juga karena target pemerintah yang berlebihan terkait dengan produksi jagung. Skemanya belum disusun rapi, kampanyenya sudah sangat masif,” Kata Budayawan gimbal pencetus gerakan Save Teluk Bima tersebut kepada kicknews.today, Jum’at (13/12).

“Bahkan perusahaan-perusahaan pensuplay bibit, pupuk dan pembeli sudah langsung merangsek ke masyarakat. Jadi siapa sebenarnya yang diuntungkan dari program jagung ini?” tandasnya.

Menurutnya perlu usaha yang sangat serius untuk menghentikan pembalakan dan merecovery hutan yang sudah rusak parah tersebut.

“Ketersediaan bibit tanaman untuk penghijauan masih terbatas. Disamping itu hal terpenting yang harus dilakukan adalah mengubah mindset dan tata kelola masyarakat terkait dengan lingkungan. Pemerintah harus menggandeng semua pihak untuk fokus terhadap isu ini,” ungkapnya.

Hingga saat ini, pertambahan hutan untuk lahan jagung di Pulau Sumbawa tercatat mencapai 96.000 Ha. Hal ini dimungkinkan akan terus bertambah jika tidak dilakukan penangan tepat dan akan berdampak sangat besar terhadap lingkungan.

“Kekeringan akan semakin berkepanjangan, cadangan air semakin berkurang bahkan hilang. Lalu jika hujan terjadi, tanah longsor dan banjir bandang akan melanda,” jelasnya.

Sementara dalam jangka panjang, kondisi ini akan menyebabkan perubahan iklim yang berdampak pada perilaku hidup, bahkan pemusnahan kehidupan secara masal. (red.)