in

RTH jadi Sorotan Bakal Kontestan Pilkada Kota Mataram

Salah satu sudut RTH Pagutan Timur dan Baihaqi

kicknews.today – Bakal kontestan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Baihaqi, salah satu bakal calon wakil walikota yang akan ikut berkontestasi, Jumat (13/12), menyoroti Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan Timur yang menurutnya terkesan tak terawat.

Menurutnya, pembangunan wilayah di Kota Mataram tidak diragukan lagi. Hanya saja ada pembangunan yang tidak dikawal peruntukannya, seperti yang terjadi di RTH Pagutan Timur.

“Sepintas kalau kita ke sana seperti tidak ada aktivitas,” ketusnya.

Dijelaskan, sebenarnya RTH Pagutan Timur menyimpan potensi sebagai wahana keluarga. Dimana lahan tersebut ada beragam tanaman hortikultura seperti bunga-bunga, cabe, dan beragam sayuran.

“Bangunan di sana sepertinya juga belum dioptimalkan,” ujarnya.

Baihaqi yang memiliki latar belakang arsitek itu, menyebutkan bahwa kehidupan di Kota Mataram cukup dinamis, sementara wahana berkumpul keluarga ataupun wisata terbatas. Hal itu membuat ruang hiburan di kota terpusat hanya di pusat perbelanjaan.

“Kalau wahana keluarga, yang dekat dengan alam sekaligus menjadi media belajar anak,” jelasnya.

Lebih jauh ia menyebutkan, bila menyisir sudut-sudut di Kota Mataram sejatinya telah terbangun ruang-ruang terbuka, mulai dari RTH Selagalas, Taman Udayana, Taman Sangkareang, pun Pantai Ampenan. Namun, menurut Baihaqi, semua itu belum dibarengi sentuhan wahana tematik.

“Kalau ahli-ahli itu paham. Di ruang terbuka, apa saja yang menarik, atau bila perlu meminta masukan publik,” ucapnya.

Menurutnya, jika konsep-konsep pengembangan wilayah di Kota Mataram tidak memikirkan ruang-ruang nyaman untuk keluarga, maka akan memunculkan apatisme. Artinya, lanjut Baihaqi, antara pemerintah dan warga akan berjalan sensiri-sendiri.

“Warga jenuh, mikirnya pemerintah ini begini-begini saja. Tidak ada hal baru,” tandasnya.

Ketika hal itu terjadi, lanjutnya, pendudukan kota akan memiliki kecenderungan mengabaikan daerahnya, yang mana akan berdampak kepada cuek dengan urusan kebersihan khususnya sampah, tidak peduli dengan kondisi sungai dan drainase, hingga pada titik tertentu, akan muncul keinginan merusak fasilitas umum yang dimiliki pemerintah.

“Ya begitu, bagaimana lagi kalau sudah tak sejalan dan merasa diabaikan. Itu pentingnya merangkul warga kota,” tegasnya. (red)