in

Hj. Putu Selly dan Arah Baru Kemandirian Ekonomi Ummat

Hj. Putu Selly Andayani dan Rof'il Khairuddin, M.A.

(Sebuah Harapan Masa Depan Ibukota Provinsi NTB)

Oleh: Rof’il Khaeruddin, M.A.*

Mataram, sebentar lagi akan menggelar pesta demokrasi yakni memilih Walikota dan Wakil Walikota. Sebagai ibukota provinsi, Mataram merupakan wilayah yang heterogen, pluralis atau majemuk yang di dalamnya terdapat berbagai suku, etnis bahkan sampai keberagaman agama. Mataram adalah simbol dari Nusa Tenggara Barat (NTB), karena bagaiamanapun wajah NTB akan tercermin dari kota bagian barat provinsi mayoritas muslim ini.

______ Catatan dari Lombok Timur________

 

Seperti ibukota pada umumnya, tentu Mataram memiliki berbagai problematika yang kompleks, baik dari bidang politik, sosial, budaya, agama dan ekonomi. Memimpin Mataram, tidak sama dengan memimpin berbagai kabupaten atau kota di wilayah NTB. Dengan demikian, maka diperlukan konsep dan keseriusan seorang tokoh ataupun calon yang akan menjadi nakhoda kota yang pluralis ini.

Jika kita mengacu pada problem bangsa secara umum dewasa ini, ekonomi menjadi sorotan utama. Sebab, ekonomi serta laju perkembangannya menjadi salah satu indikator dari kemajuan sebuah bangsa dan negara. Dampak ekonomi secara nasional secara directly akan mempengaruhi perkembangan ekonomi daerah di penjuru bangsa ini. Tidak luput juga Kota Mataram yang berada di bagian timur Indonesia.

Di sinilah posisi ‘win solution‘ dari seorang calon pemimpin, apakah visi-misinya sejalan atau sesuai dengan kebutuhan perkembangan dan laju ekonomi atau tidak. Memang, dari sekian problematika yang kompleks di Kota Mataram harus menjadi skala prioritas, namun di antara prioritas yang harus diselesaikan ialah permasalahan ekonomi ummat (masyarakat).

Dalam sejarah bangsa dan agama, ekonomi adalah sebuah diskursus yang panjang, sebab ekonomi bukan hanya berkutat pada permasalahan bagaimana memproduk atau menghasilkan barang dan jasa, tapi jauh daripada itu semua, karena pada hakikatnya ekonomi bertujuan untuk kesejahteraan bagi kehidupan ummat manusia.

Kesejahteraan masyarakat yang ditopang melalui kestabilan ekonomi, berdampak pada keharmonisan jiwa dan raga, keharmonisan sosial dan politik bahkan agama sekalipun. Hal ini tercermin dari apa yang disabdakan oleh Nabi SAW:

عن انس إبن مالك رضي الله عنه، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كاد الفكر أن يكون الكفر (رواه البيهاقي)

Artinya: “Dari Annas bin Malik r.a. Rasulullah SAW bersabda, kefakiran (kemiskinan) mendekatkan seseorang dari kekafiran (keingkaran)”. (HR. Baihaqi)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi di atas, memberikan nilai yang sangat krusial terhadap kemandirian ekonomi. Walaupun banyak para ulama’ hadits (محدثين) menafsirkan bahwa kata fakru (فكر) = kafakiran, memiliki multi tafsir. Namun jumhur ulama sering menggunakan dalil tersebut ketika berbicara tentang diskursus kemandirian ekonomi.

Hj. Putu Selly Andayani, menurut hemat saya sangat reaktif dengan hadits Nabi SAW di atas. Hal tersebut bisa dilihat dari visi-misi yang digelorakan sebagai calon Walikota Mataram, yaitu ‘kemandirian ekonomi’ bagi masyarakat Mataram.

Tidak dipungkiri lagi, mengapa Hj. Selly Andayani begitu responsif terhadap pertumbuhan kemandirian ekonomi masyarakat, karena sosok Hj. Selly Andayani sejak lama menjadi ujung tombak ekonomi NTB sebagai Kepala Dinas (Kadis) Perdagangan.

Dengan terjun ke panggung politik sebagai calon Walikota Mataram, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M.Si, akan menjadikan kemandirian ekonomi ummat sebagai skala prioritas utama dalam manifiestasi kebijakan politiknya. Hal ini merupakan sebuah langkah yang tepat, mengingat peran sebagai seorang ibu dan istri di satu sisi, dan sisi lain sebagai seorang pemangku kebijakan.

Sebab, perjalanan panggung kepemimpinan perempuan muslimah di dunia, menjadikan ekonomi sebagai terobosan demi membenahi kondisi (akhwal) masyarakat. Seperti yang dicontohkan oleh Sayyidah Khadijah istri Nabi SAW, kemudian apa yang dilakukan oleh Benazir Bhutto Perdana Menteri Pakistan, Atifete Jahjaga mantan Presiden Kosovo 2011-2016. Mereka para muslimah modern yang menjadi pemimpin dan memprioritaskan kemandirian ekonomi adalah strategi untuk kesejahteraan ummat.

Dengan demikian, Hj. Putu Selly Andayani bukanlah menggelorakan visi-misi yang kosong dari kepentingan kesejahteraan ummat, namun sarat akan cita-cita yang mulia tersebut.

 

*) Penulis adalah seorang akademisi