in ,

Milenial jadi “Tersangka Pembunuh” Hero Mataram Mall

Hero Supermarket, Mataram Mall

kicknews.todayHero Supermarket di Mataram Mall saat ini mengobral barang dagangannya hingga 50 persen. Mereka mulai mengambil ancang-ancang untuk tutup dan memutuskan tidak beroperasi lagi setelah sekian lama berjaya menjadi raksasa ekonomi dalam genre pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat di Nusa Tenggara Barat.

Tidak hanya Hero Supermarket, sebelumnya Giant Supermarket yang berinvestasi besar dengan membuka gerai di wilayah Monjok, Mataram, Lombok juga tidak bertahan lama. Penyebabnya terlihat klasik secara kasat mata. Daya beli masyarakat yang kelihatannya rendah. Akan tetapi ternyata masalahnya tidak sesederhana itu.

Sejak tahun 2017 memang adalah tahun gelap bagi bisnis ritel. Bukan hanya di NTB, Indonesia bahkan dunia. Banyak orang menyebut biang keladinya adalah daya beli masyarakat yang kian menurun. Tapi anggapan ini langsung dibantah oleh para ekonom karena dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan rill konsumsi masyarakat robust di angka sekitar 5 %.

Tentu saja penyebabnya adalah pergeseran pola belanja milenial, dari belanja di toko fisik ke toko online seperti tokopedia atau bukalapak dan lain-lain. Kesimpulan inipun terlihat benar, namun sedikit misleading karena penjualan e-commerce saat ini hanya mampu menyumbang 1,2 % dari total GDP Indonesia dan hanya sekitar 0,8 % pada 2016 dari total penjualan ritel nasional. Artinya, e-commerce memang berpengaruh dengan pertumbuhan yang sangat tinggi, tetapi belum cukup signifikan mengekspansi bisnis ritel yang sudah menggurita.

Menurut pengamat ekonomi milenial asal NTB, Nurwahidin SE yang dikonfirmasi, Rabu (11/12) mengatakan, penjelasan yang relatif meyakinkan dalam urusan penurunan signifikan penjualan ritel ini adalah pergeseran prilaku milenial dari good consumption ke experience consumption.

“Artinya milenial lebih suka experience atau pengalaman seperti nongkrong di kafe, resto, nge-gym dan lain sebagainya ketimbang membeli barang dan menumpuknya seperti dilakukan generasi sebelumnya,” ujarnya.

Selain itu, bisnis ritel yang dengan konsep dekat seperti indomaret dan alfamart juga mempengaruhi gaya hidup milenial. Artinya masyarakat tidak perlu menumpuk barang belanja bulanan dan dapat lebih menghemat lalu mengalihkannya ke experience consumption.

“Dulu kita belanja bulanan, tetapi sekarang tidak perlu stok karena ritel dekat. Uangnya bisa dipakai nongkrong, nge-gym dan nge-resto bersama,” jelas dia.

Hal ini senada dengan data BPS untuk kuartal II tahun 2017 lalu di mana konsumsi rumah tangga hanya mampu tumbuh 4,95 % dari kuartal sebelumnya 4,94 %. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini dinilai melambat lantaran konsumsi rumah tangga dari sisi makanan dan minuman, konsumsi pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga lainnya hanya mampu tumbuh tipis antara 0,03-0,17 %.

Sedangkan untuk konsumsi restoran dan hotel (experience-based) melonjak dari 5,43% menjadi 5,87%. “Jadi shifting-nya adalah mengurangi konsumsi yang tadinya non-leisure untuk konsumsi leisure,” kata Ketua BPS, Suhariyanto.

Jadi, saat ini milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia termasuk di NTB yang mencapai 46% lebih royal menghabiskan uangnya untuk kebutuhan lifestyle dan experience seperti makan di luar rumah, nonton film di bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka atau rambut. Demikian menurut studi yang dilakukan Nielsen pada tahun 2015 yang lalu dan tentu saat ini trend tersebut terus tumbuh.