in ,

Jadi Guru Besar, Prof. Didi S Agustawijaya Rekom Desain Bangunan di NTB Mengacu Kondisi Seismik

Prof. Ir. Didi Supriadi Agustawijaya, M.Eng., Ph.D (dua dari kiri) bersama Rektor, Senat dan dua guru besar lain yang dikukuhkan

kicknews.today – Prof. Ir. Didi Supriadi Agustawijaya, M.Eng., Ph.D merekomendasikan agar desain rancang bangun teknik sipil di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) harus mengacu pada rekayasa batuan lunak dan kondisi seismik setempat.

Hal ini disampaikan dia dalam acara Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar di ruang Sidang Senat Unram, Rabu (4/12).

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Rekayasa Bantuan Lunak dan Gempa Dalam Rancang Bangun Teknik Sipil”, Prof. Didi S Agustawijaya menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah Negara dengan aktifitas seismik yang sangat tinggi dimana sebagian besar ditutupi oleh batuan sedimen lunak khususnya geologi di pulau-pulau di Nusa Tenggara yang di dominasi oleh batuan gunung api muda.

“Batuan pembentuk pulau-pulau kecil tersebut adalah batuan gunung api yang lunak, maka resiko bahaya seismik lebih besar dibandingkan dengan resiko pada batuan keras” paparnya.

Dia juga menyarankan agar setiap daerah dan wilayah harus mempunyai kode bangunan sendiri, sehingga pembangunan fisik dan pengembangan prasarana wilayah akan mengacu kepada kode bangunan tersebut, sesuai dengan kondisi geologi teknik dan kegempaan wilayah yang bersangkutan.

Hal ini dijelaskan dia mengingat potensi kegempaan di NTB yang sangat besar karena dihimpit oleh dua lempeng tektonik dan baru tahun lalu kita mengalami bencana besar karena aktifitas salah satu lempeng tersebut.

Maka berdasarkan data – data dan argumen geologi tersebut di atas, bahwa pulau-pulau di Nusa Tenggara khususnya Pulau Lombok dan Sumbawa menurutnya memerlukan evaluasi yang menyeluruh tentang kegempaan dan kaitannya dengan rancang bangun tehnik sipil.

“Rancang bangun tehnik sipil memerlukan data masukan percepatan puncak muka tanah. Parameter-parameter ini harus lebih akurat berdasarkan respon gempa dari sumber-sumber gempa yang teridentifikasi dengan baik,” jelasnya.

Dikatakan dia, Konsep dasar dari rancang bangun tahan gempa adalah bahwa beban gempa leteral maupun vertikal yang akan terjadi tidak dapat diantisipasi mengenai karakteristik, arah dan besarnya. Sehingga kemampuan struktur menahan gaya akibat gempa sangat tergantung dari faktor penggunaan sistem struktur yang paling sedikit mengalami pergeseran; penggunaan sistem struktur yang dapat menyalurkan gaya-gaya akibat gempa secara langsung tanpa ada perubahan mendadak pada kekakuan atau kekuatan elemen-elemen struktur; tata letak bangunan yang dapat mengurangi atau menghilangkan respon torsi; daktilitas dari struktur baik secara keseluruhan maupun secara tersendiri.

Selain Prof. Ir. Didi Supriadi Agustawijaya, M.Eng., Ph.D, ada dua guru besar lagi yang dikukuhkan Universitas Mataram yakni Prof. Dr. Amiruddin, SH., M.Hum selaku guru besar Ilmu Hukum Pidana dari Fakultas Hukum, Prof. Ir. Dahlanuddin, M.Rur.Sc, Ph.D selaku guru besar Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak  dari Fakultas Peternakan. (red.)