in ,

Diintervensi Pusat, Lombok Barat Mampu Tekan Angka Stunting

Menkes RI menyerahkan secara simbolis bantuan asset program intervensi kesehatan lingkungan kepada Bupati Lombok Barat

kicknews.today – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat Provinsi Nusa Tengara Barat (NTB), mampu menekan angka stunting hingga 23,2 persen setelah mendapat intervensi Pemerintah Pusat. Hal itu diungkapkan Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, Kamis (5/12), pada acara Serah Terima Aset Intervensi Kesehatan Lingkungan oleh Kementerian Kesehatan, di Aula Utama Kantor Bupati, Giri Menang, Gerung.

Alhamdulillah, berkat intervensi, sekarang (tahun 2019, red) posisi angka stunting berada pada angka 23,2 persen,” kata Bupati di hadapan Menteri Kesehatan (Menkes) RI Letjen TNI (Purn) Dr. dr. Terawan Agus Putranto.

Dikatakan, angka 23,2 persen berada pada angka di atas rata-rata Provinsi NTB bahkan nasional, dimana hal itu sebagai dampak berbagai intervensi yang dilakukan. Intervensi itu dilakukan dari hulu. Bahkan di awal tahun 2019 dilakukan intervensi pada tingkat sekolah dasar (SD).

Namun karena keterbatasan kemampuan, intervensi itu hanya mampu menyasar 48 sekolah saja, dalam bentuk pemberian penambah darah dan sarapan bersama sekali seminggu.

“Sarapan bersama ini sistimnya murid sendiri yang bawa makanan dari rumah, cuma kami berikan bimbingan, mana makanan yang memenuhi gizi dan syarat-syarat kesehatan,” jelas Fauzan.

Lebih jauh diungkapkan, secara formal pihak Dinas Kesehatan Lombok Barat melakukan kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dimana secara berkala dilakukan evaluasi langsung ke tingkat satuan terkecil.

“Hasil peningkatannya luar biasa, karena intervensi dari hulu ini dimulai sejak tahun 2006 melalui program GAMAK (Gerakan Anti Merariq Kodeq), termasuk gerakan E-Posyandu, dan E-Pustu,” beber Fauzan.

“Yang terbaru adalah melalui aplikasi dokter Sapto Anthro, yang didesain sendiri oleh dr. Sapto dari Puskesmas Sekotong,” imbuhnya.

Untuk diketahui, atas keberhasilan tersebut, Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Kesehatan Lingkungan pada Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, memberikan paket stimulan untuk pembangunan jamban keluarga, tempat pembuangan sampah, dan sarana cuci tangan pakai sabun.

Penyerahan secara simbolis diterima Bupati, untuk kemudian diserahkan kepada sembilan kepala desa dan satu pondok pesantren, yang mana tujuannya untuk mempercepat Open Defecation Free (ODF) atau Tidak Buang Air Besar Sembarangan dan penurunan kasus stunting. Dimana dari 122 desa se-Lombok Barat masih tersisa 16 desa yang belum ODF.

Sementara Menkes Letjen TNI (Purn) Dr. dr. Terawan Agus Putranto menyatakan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa dua isu kesehatan utama, yang harus segera terselesaikan adalah stunting dan jaminan kesehatan nasional (Jamkesnas).

“Kita di sini bicarakan stunting saja, karena kesehatan nasional terlalu banyak komponen yang terlibat. Di sini saya sama Pak Bupati dan Ketua PKK saja, ndak usah jauh-jauh,” kata Menkes.

Terkait sanitasi lingkungan dan air minum yang menurut Menkes merupakan hak azasi manusia. Ia menjelaskan bahwa harus ada akses ke arah itu, karena hakekat untuk hidup yang pertama harus ada sumber air sebagai sumber kehidupan.

Dijelaskan, stunting tidak hanya dipicu asupan gizi yang kurang mencukupi. Namun juga terkait dengan sanitasi yang baik seperti setop BAB  (buang air besar) sembarangan, cuci tangan pakai sabun, dan pengelolaan air untuk minum dan makan. Hal itu juga memegang peranan penting dalam pencegahan stunting.

“Pencegahan stunting ini bisa melalui intervensi yang sensitif seperti pemberian stimulan, peningkatan sanitasi berkualitas sebagai pemenuhan layanan masyarakat. Semua ini untuk meningkatkan SDM di Indonesia Maju 2045,” jelasnya.

Sebelum hadir di Aula Utama Kantor Bupati, Menkes Terawan dan rombongan didampingi Bupati mengunjungi Desa Kuripan, yang merupakan salah satu penerima bantuan asset program intervensi kesehatan lingkungan dari Kementerian Kesehatan.

Menkes RI bersama istri didampingi Bupati Lombok Barat saat berada di Desa Kuripan