in ,

Srikandi NTB Bicara “Perempuan Punya Peran” di Hari Pahlawan

Empat srikandi yang menjadi pembicara dalam dialog "Pahlawan Perempuan, Perempuan Punya Peran"

kicknews.today – Memperingati Hari Pahlawan tahun 2019, Ahad (10/11), empat srikandi menjadi narasumber dalam dialog bertajuk “Pahlawan Perempuan, Perempuan Punya Peran”, yang digelar Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Islam (IKAPMI) Dompu, di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Keempat srikandi itu di antaranya Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) NTB Hj. Niken Saptarini Widyawati, S.E., M.Sc., Kepala Dinas (Kadis) Perdagangan NTB Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M.Si., Dewan Pembina HelpOther DR. Susana Dewi, dan Imanuella R. Andilolo

Ketua TP-PKK NTB Hj. Niken Saptarini Widyawati saat membuka acara dialog mengatakan, ibu adalah pahlawan bagi semua orang. Peran ibu sangat penting sehingga pantas dianggap sebagai pahlawan.

“Pahlawan adalah orang yang berjasa, orang yang bermanfaat, dan memiliki kontribusi bagi bangsa dan negara,” ungkap istri Gubernur NTB itu.

Dikatakan, menjadi pahlawan tidak harus berperang. Semua orang bisa menjadi pahlawan yang salah satunya melalui pendidikan. Pendidikan adalah sebuah sarana untuk menuju kesuksesan, dan pendidikan pertama seseorang adalah ibunya.

“Paling relevan dari pahlawan adalah ibu kita. Semua orang lahir dari rahim ibunya, yang sejak kehamilannya hingga kita besar merawat kita sampai berhasil seperti sekarang,” terangnya.

Penyandang gelar Master of Science (M.Sc) itu menegaskan, pendidikan perempuan adalah salah satu hal terpenting dalam hidup. Bukan hanya untuk berkarir namun juga untuk bekal mendidik masa depan anak-anak.

“Saya banyak bergerak di bidang pendidikan. Orientasi saya lebih kepada anak-anak, jadi saya membangun TK atau PAUD sekarang, saya ketua yayasannya, kepala sekolahnya, dan juga gurunya. Saya dan teman-teman yang mempunyai misi yang sama mengembangkan yayasan pendidikan tersebut,” ungkapnya.

Sementara Kadis Perdagangan NTB Hj. Putu Selly Andayani dalam kesempatannya menyampaikan, terkait masalah pahlawan sudah pasti gelar itu untuk yang berjasa dan tentunya telah meninggal dunia. Dimana itu diajukan, kemudian diberikan keputusan oleh Presiden sebagai pahlawan nasional.

“Namun demikian sudah barang tentu dia  (yang diberi gelar pahlawan, red) adalah orang-orang yang berani. Tapi jangan lupa, mereka pahlawan itu menjadi hebat dan sukses, kalau dia laki-laki, karena ada perempuan hebat, istri di belakangnya. Pun sebaliknya, kesuksesan seorang perempuan karena ada suami di depannya” ungkapnya.

Kadis Perdagangan yang pernah menjadi Penjabat Walikota Mataram itu mengatakan, berbeda dengan jaman dulu, sekarang kita telah memasuki era ekonomi, era revolusi industri 4.0. Artinya, untuk menjadi pahlawan tidak harus perang dengan kekuatan fisik.

“Jadilah pahlawan di diri kita sendiri. Dulu dengan perang, dengan kekuatan. Sekarang dengan ilmu dan otak. Jadi adik-adik semua harus pintar dan cerdas. Semua audah pegang gadget kan? Manfaatkan teknologi informasi dengan arif, sesuai peruntukannya,” jelas Hj. Putu Selly yang juga Ketua Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika Gadjah Mada (Kafegama) Cabang NTB itu.

Menurutnya, sebagai generasi yang menjiwai nilai-nilai kepahlawanan, harus benar-benar memfungsikan IPTEK dengan sebaik-baiknya.

“Jangan kemudian kemajuan teknologi informasi dipakai sia-sia, menyebarkan berita-berita hoaks. Ambil positif untuk diri sendiri,” tandasnya.

Kreativitas ekonomi, lanjutnya, seperti usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), ekonomi kerakyatan membutuhkan keterampilan tangan-tangan generasi milennial, yang telah terbiasa dengan tool-tool media.

“Kearifan lokal, UMKM harus hidup. UMKM dimanjakan oleh pemerintah,” ujarnya.

Kadis Perdagangan NTB yang juga Pembina Forum Kominikasi Sales dan Marketing (FKSM) NTB itu juga mengungkapkan, di jaman moderen saat ini tidak ada beda antara kaum laki-laki dan perempuan, di bidang pendidikan maupun pada sisi karir.

“Kalau dulu adalah sesuatu yang tabu bagi perempuan dalam berkarir, tapi saat ini sudah banyak contoh jenjang karir kaum Hawa. Gubernur Jawa Timur dan Walikota Surabaya adalah seorang perempuan. Artinya, perempuan pun bisa menjadi pemimpin, sepanjang dia memiliki kemampuan untuk itu,” ungkap Hj. Putu Selly.

Ia juga menjelaskan, dalam kajian-kajian Islam pun dikatakan bahwa wanita itu tiang atau pilar sebuah negara. Senada dengan Hj. Niken, Hj. Putu Selly menegaskan bahwa sebuah fakta kalau perempuan itu adalah guru pertama bagi anak-anaknya.

“Ibu lah yang meletakkan pondasi pertama pendidikan bagi anak-anaknya,” tuturnya.

Tidak itu saja, ia bahkan memberi tantangan kepada para peserta dialog yang didominasi kalangan mahasiswi dan remaja putri itu.

“Saya tantang adik-adik, anak-anakku semua, bagaimana seorang perempuan bermanfaat bagi keluarga dan bermanfaat bagi orang lain, khairunnas anfa’uhum linnas‘” ucapnya.

“Kira-kira bagus nggak kalau anak-anak perempuanku ini kelak, akan punya peran yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat,” tutupnya seraya berucap “selamat Hari Pahlawan, saatnya perempuan menjadi pahlawan”. (red)

Peserta dialog Hari Pahlawan saat mendengarkan pemaparan para narasumber