in

Berikut Tuntutan dan Kronologis Demo di Gedung DPRD NTB Hingga Ricuh

Aksi unjuk rasa mahasiswa di depan kantor DPRD NTB

kicknews.today – Unjuk rasa mahasiswa menolak hasil revisi UU KPK dan RKUHP kontroversial pada Kamis (26/9), di gedung DPRD Provinsi NTB sempat ricuh akibat ulah provokator.

Beberapa orang diamankan polisi karena diduga sebagai provokator dalam jalannya unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai itu.

Kabid Humas Polda NTB, Kombespol Purnama SIK menjelaskan kronologis pengamanan unjuk rasa itu melalui keterangan tertuis yang diterima kicknews.today.

Menurutnya, pada pukul 08.00 sampai dengan17.00 WITA, Polda NTB mengamankan aksi unjuk rasa dari 19 elemen mahasiswa di Mataram yang mengatasnamakan diri Aliansi Rakyat Menggugat di mana diperkirakan dengan massa sejumlah 2000 orang.

Tuntutan massa aksi yang dilengkapi mobil beserta sound system megaphone, bendera merah putih, drum band, spanduk dan pamflet itu terdiri dari 10 poin yakni:

1. Menolak hasil revisi UU KPK yang melemahkan KPK.
2. Evaluasi RKUHP Kontroversial.
3. Cabut izin korporasi yang melakukan pembakaran hutan.
4. Mengecam segala bentuk rasisme dan militerisme terhadap Papua.
5. Tolak revisi RUU pertanahan yang tidak prorakyat.
6. Tolak revisi RUU pemasyarakatan yang tidak prorakyat.
7. Tolak dan revisi RUU tentang ketenagakerjaan yg tidak pro terhadap buruh.
8. Drop kebijakan kesehatan yang berbau Asuransi (BPJS).
9. Mengecam dan tindak tegas oknum kriminaslisasi aktivis dan rakyat.
10. Apabila dalam 4 hari kerja presiden dan DPR RI masih menolak aspirasi rakyat maka Gubernur dan DPRD NTB memfasilitasi mahasiswa NTB pergi ke Jakarta untuk menyuarakan aspirasi rakyat.

Dilanjutkan Kabid Humas mengenai kronologis aksi, pada pukul 10.05 WITA, Ketua DPRD Provinsi NTB menemui peserta aksi namun dilempari dengan menggunakan batu dan botol minuman.

Namun begitu, pada pukul 10.20 WITA perwakilan mahasiswa sebanyak enam orang diterima di ruang dewan oleh Ketua DPRD, Wakil Ketua DPRD NTB, Kapolda NTB, Dirreskrimum, Dirpamobvit, Wadir Reskrimsus, Kabid Humas Polda NTB dan Kapolres Mataram.

“Pada pertemuan tersebut perwakilan mahasiswa meminta kepada Ketua DPRD NTB agar massa aksi diijinkan masuk ke gedung DPRD dengan jaminan mereka dapat mengendalikan massa aksi,” ujarnya.

Dijelaskan dia, dengan pertimbangan keamanan, Kapolda NTB mempersilahkan hanya perwakilan mahasiswa saja yang boleh memasuki area gedung DPRD NTB.

Perwakilan mahasiswa tetap ngotot dan meninggalkan ruangan yang kemudian kembali melakukan orasi didepan kantor DPRD NTB.

Pada pukul 11.05 Wita massa aksi kembali mulai melempari petugas dengan botol minuman dan batu serta berusaha masuk ke halaman DPRD dengan merusak kawat barrier dan pagar kantor DPRD sehingga dibubarkan paksa oleh anggota Dalmas dengan menembakkan gas air mata.

“Massa kembali orasi dan dilakukan terus negosiasi di mana mereka tetap ingin menduduki kantor DPRD  NTB, hingga beberapa saat mereka terus melakukan orasi,” jabarnya.

Sebanyak 500 personel Polda NTB mengamankan aksi unjuk rasa tersebut yang terdiri dari Polres Mataram, Direkorat Samapta dan Satuan Brimob dengan melakukan penjagaan dan negosiasi.

Lebih lanjut dijelaskan, pada pukul 14.40 WITA ketika orasi disampaikan mahasiswa yang ingin menduduki kantor DPRD NTB tiba-tiba ada lemparan batu yang diduga sengaja dipersiapkan, sehingga anggota Dalmas dan PHH menembakkan gas air mata.

“Massa aksi berhasil dipukul mundur, namun kembali massa berkumpul sampai dengan pukul sekitar 16.00 WITA, dilanjutkan dengan adanya sekitar 20 orang perwakilan mahasiswa unram untuk berdialog dengan Ketua DPRD Prop. NTB, Kapolda NTB, Danrem 162/WB dan Rektor Unram,” kata dia.

Dalam dialog tersebut, aspirasi mahasiswa meminta jaminan DPRD NTB untuk mengawal agar UU jangan disahkan diam-diam tanpa mengakomodir aspirasi mahasiswa dan meminta untuk DPRD NTB berangkat ke DPR RI untuk membawa aspirasi mereka, juga meminta penjelasan Kapolda NTB terkait adanya mahasiswa yang terkena peluru karet, namun dijawab Kapolda NTB bahwa anggota tidak ada menggunakan peluru karet atau peluru tajam.

“Yang tadi hanya gas air mata. Hal tersebut sudah diperintahkan sejak awal untuk tidak menggunakan peluru karet atau tajam. Kami hanya menggunakan gas air mata ketika mulai banyak lemparan dan berusaha merubuhkan pagar,” katanya.

“Bahkan kami memberikan pertolongan kepada mahasiswa yang luka ringan sebanyak 24 orang dimana mereka 23 orang mahasiswi dan mahasiswa yang terjepit rekannya sendiri serta satu mahasiswa kena kawat berduri. Sudah dicek ke RS Bhayangkara dan mereka sudah kembali,” pungkasnya kembali.

Dari negosiasi yang dilakukan Kapolda NTB, akhirnya para mahasiswa mengerti dan membubarkan diri. Namun ada beberapa orang yang berhasil diamankan Tim Tindak karena diduga memprovokasi, Sampai saat ini masih diperiksa.

“Polda NTB dan jajaran tetap menjamin kemerdekaan meyampaikan pendapat di muka umum dalam bentuk unjuk rasa atau demontrasi. Namun harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak anarkis. Terimakasih diucapkan kepada para elemen mahasiswa yang melaksanakan aksi unjuk rasa dengan santun dan mengepankan dialog,” pesannya. (red.)