in

Dinilai Tak Bisa Atasi Kelangkaan Semen, Kadin KLU Diminta Bubar

Raden Satriadi alias Bledur menunjukkan semen yang tengah mahal (foto: rico)

kicknews.today – Dinamika persoalan pembangunan Rumah Tahan Gempa (RTG) di Kabupaten Lombok Utara (KLU) rupanya terus berlanjut. Setelah diketahui banyak pihak ketiga lamban melakukan pembangunan, kini sejumlah pokmas justru terkendala bahan material yang langka. Salah satu kelangkaan itu terdapat di semen, sekalinya ada harganya malah tak masuk akal.

Hal ini jelas dikeluhkan oleh para pengusaha di Lombok Utara, pasalnya saat ini pokmas tengah berpacu untuk membangun rumah mereka kembali namun sayangnya kebutuh utama justru sulit didapatkan. Kondisi ini diperparah lantaran Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Lombok Utara yang idealnya mampu menekan harga, malah terkesan mati suri.

“Jadi semua masyarakat menjerit sekarang tentang kelangkaan semen yang terjadi sejak tiga minggu terakhir. Saya melihat peran kadin itu di mana, pemerintah itu kemana,” keluh Raden Satriadi salah seorang pengusaha, Selasa (10/9).

Ia menjelaskan, kebutuhan akan semen di Lombok Utara dalam sehari bisa mencari seribu sak. Namun fakta yang terjadi alih-alih seribu sak terpenuhi, untuk mendapat setengah jumlah saja pengusaha masih sangat kesulitan. Belum lagi mengenai melambungnya harga yang ia nilai sangat merugikan. Betapa tidak, harga semen segala jenis saat ini bisa mencapai kisaran Rp 70 hingga Rp 80 ribu per sak.

“Paling sehari, itupun kalau kita dapat. Seminggu  itu 300 sampai 500 sak sementara kebutuhan sehari mencapai seribu sak. Kelonjakannya sangat jauh, misalnya tiga roda Rp 70 – Rp 80 ribu per sak naiknya, ditambah harga angkut. Kami sebagai pengusaha hanya gigit jari saja,” terangnya.

“Jadi sekarang ini macetnya gara-gara semen ini, kalau kemarin jenis Boswa itu kita bisa dapet Rp 53 ribu yang sekarang ini Rp 70 ribu, jenis tiga roda itu yang kemarin Rp 56 ribu sekarang Rp 63 – Rp 70 ribu,” imbuhnya.

Sementara di mata Raden Satriadi, keberadaan kadin nyaris tidak pernah muncul atau bekerja. Pasalnya, mereka yang ditunjuk guna menyediakan material bahan konstruksi (sebagaimana instruksi Wakil Presiden tanggal 21 Agustus 2018) malah gagal total. Dirinya juga tidak pernah diminta atau dikoordinir oleh kadin untuk mendiskusikan berbagai macam kebutuhan material termasuk semen. Maka itu ia menyebut jika kadin masih seperti ini lebih baik dibubarkan saja.

“Kadin ini tidak ada peran sama sekali, tidak pernah kita dikumpulkan atau di koordinir fakum kadin di KLU ini. Makanya lebih baik kadin bubarkan saja karena tidak ada perannya selama ini,” pintanya.

“Saya harap kondisi ini bisa segera berubah bagaimana pemerintah dan kadin bisa bertindak sehingga bukan pembangunan rumah warga yang terhambat,” pungkas Pria yang akrab disapa Bledur ini.

Secara terpisah, Ketua Kadin Lombok Utara Putu Sudiarsah yang dikonfirmasi mengakui bahwa semen memang terjadi kelangkaan. Pihaknya di kadin akan berkoordinasi dengan distributor semen yang ada di Lombok untuk mengetahui penyebab kelangkaan dan hasilnya kemudian akan diteruskan ke pusat. Selain itu, pihaknya juga menyayangkan para pengusaha dan aplikator yang tidak pernah berkoordinasi dengan kadin.

“Kita akan cari tahu penyebabnya dulu kenapa sampai terjadi. Memang kami juga menyayangkan kurangnya koordinasi antara pengusaha dengan kami, sehingga begitu persoalan ini muncul kami juga kebingunggan,” ucapnya.(iko)