in

Mengapa Potret Negeri Kita Jadinya Seperti ini?

 

Oleh: Dewa Wijaya*

 

Kini kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah bangsa telah berusia 74 tahun, sejak diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia. Selama 74 tahun pula, setiap tanggal 17 Agustus, kita merayakan peringatan hari bersejarah tersebut. Namun, pernahkah kita mencoba untuk sejenak merenungi potret negeri, yang menurut Sang Proklamator “bak zamrud yang mengalungi khatulistiwa” ini?

Di jalan raya banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain. Mengapa…?

Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah, mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi lebih sabar. Mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.

Di jalanan pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya, saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya. Mengapa…?

Karena dulu sejak kecil, di rumah dan di sekolah anak kita setiap hari diburu dengan waktu, dibentak untuk bergerak lebih cepat dan gesit. Bukan dilatih untuk mengatur waktu dengan sebaik-baiknya dan dibuat lebih sabar serta peduli.

Pun dihampir setiap instansi pemerintah dan swasta, banyak para pekerja yang suka korupsi. Mengapa…?

Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah, anak-anak dididik untuk berpenghasilan tinggi dan hidup dengan kemewahan, mulai dari pakaian hingga perlengkapan. Bukan diajari untuk hidup lebih sederhana, ikhlas, dan bangga akan kesederhanaan.

Di hampir setiap instansi sipil sampai petugas penegak hukum banyak terjadi kolusi, manipulasi proyek dan anggaran uang rakyat. Mengapa…?

Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah, mereka dididik untuk menjadi lebih pintar dan bukan menjadi lebih jujur serta bangga pada kejujuran.

Demikian pula dihampir setiap tempat, kita mendapati orang yang mudah sekali marah dan merasa diri paling benar sendiri. Mengapa…?

Kerena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah, mereka sering dimarahi oleh orang tua dan guru mereka. Bukannya diberi pengertian dan kasih sayang.

Di hampir setiap sudut kota, kita temukan orang yang tidak lagi peduli pada lingkungan atau orang lain. Mengapa…?

Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah, mereka dididik untuk saling berlomba untuk menjadi juara. Bukan dididik saling tolong-menolong untuk membantu yang lemah.

Potret serupa juga kita temukan di dunia maya. Dihampir setiap kesempatan termasuk di facebook, juga selalu saja ada orang yang mengkritik tanpa mau melakukan koreksi diri sebelumnya. Mengapa…?

Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah, anak-anak biasa dikritik dan bukan didengarkan segala keluhan dan masalahnya.

Di hampir setiap kesempatan, kita sering melihat ada orang “ngotot” dan merasa paling benar sendiri. Mengapa…?

Karena dulu sejak kecil di rumah dan sekolah, mereka sering melihat orang tua atau gurunya “ngotot” dan merasa paling benar sendiri.

Dihampir setiap lampu merah dan rumah ibadah, kita banyak menemukan pengemis. Mengapa…?

Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah, mereka selalu diberitahu tentang kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan mereka. Bukannya diajari untuk mengenali kelebihan-kelebihan dan kekuatan-kekuatan mereka.

Jadi, sesungguhnya potret negeri dan kehidupan yang terjadi saat ini, adalah hasil dari ciptaan kita sendiri di rumah bersama-sama dengan dunia pendidikan di sekolah.

Jika kita ingin mengubah potret ini menjadi lebih baik, maka mulailah mengubah cara mendidik anak-anak kita di rumah dan di sekolah, tempat khusus yang dirancang bagi anak untuk belajar menjadi manusia yang berakal sehat dan berbudi luhur.

Mari kita belajar terus dan terus belajar, untuk menjadi orang tua dan guru yang lebih baik, agar potret negeri kita bisa berubah menjadi lebih baik mulai dari kita, keluarga kita, dan sekolah kita sendiri.

 

*) Diolah kembali dari tulisan George Carlin oleh Kasatrolda Polairud Polda NTB, kandidat doktor hukum Univeraitas Mataram.